
Pintu itu terbuka dengan mudah karena tidak di kunci.
Ratih sedang rebahan sembari menonton film rupanya.
" Nonton apa?" suara Pamungkas membuat Ratih memberingsut kaget.
" Om? ketuk pintulah?!" protes Ratih,
" Sudah di ketuk, tapi yang punya kamar fokus nonton film.." Pamungkas duduk di pinggiran tempat tidur.
" Sudah makan?" tanya Pamungkas,
" belum, tapi sudah pesan mak kalau makan di atas saja.."
" tidak kasihan? mak bukan orang yang muda lagi.. naik turun tangga..
biar om yang ambilkan ya?"
Rati terlihat berpikir,
" tidak usah, apa kata papa kalau om yang ambilkan Ratih makanan? lagi pula di bawah ada orang orang, om berani sekali masuk kamar Ratih??" perempuan itu heran.
" Malah mas Adi yang menyuruhku kesini, membujukmu untuk makan.." Pamungkas tersenyum,
" Bukannya papa marah pada Om??"
" Marah itu tidak boleh terlalu lama.." jawab Pamungkas santai,
" Om bercanda??!".
Pamungkas hanya tersenyum,
Tidak mau makan dirumah, mau makan diluar?" tawar Pamungkas,
" Makan dimana? Ratih tergerak,
" sesukamu saja, om manut Rat.." suara Pamungkas yang dalam itu lagi lagi membuat Ratih bergidik, tidak kah terlalu laki laki suara itu.
Diam diam Ratih mengeluh dalam hati, haaah.. andaikan laki laki ini bukan omnya.
" Bagaimana Rat?"
" ah, tidak usah sajalah.." Ratih kembali mengahadap layar televisinya.
" kenapa??"
__ADS_1
" Ratih malas di bonceng om.."
Pamungkas sedikit terkejut dengan kata kata Ratih.
" Malas karena om tidak punya mobil Rat?" tanya Pamungkas sedikit kecewa.
" Bukan karena mobil,"
" Lalu? malu ku bonceng?"
Ratih menoleh, di tatap omnya itu.
" Jok motor om itu kecil, Ratih malu kalau harus nempel nempel om," jawab Ratih membuat semangat Pamungkas kembali.
" Sungguh karena itu saja Rat?" tanyanya,
" Tentu saja sungguh om, itu kan jok single?"
" aku tidak pernah membonceng siapapun selama ini.. karena itu aku tidak berpikir kalau jok motorku terlalu kecil untukmu.." jelas Pamungkas memandang Ratih lekat.
" Apa perlu om tukar motor Rat? atau mobil?" tanya Pamungkas kemudian,
" tapi tidak begitu suka naik mobil.. menurutku kurang cepat, apalagi malang sudah mulai macet..
tapi jika memang di butuhkan.." kalimat Pamungkas terhenti.
om kan bukan tipe yang begitu??"
" kok untuk apa Rat? ya untuk kenyamanan mu.." jawaban Pamungkas membuat Ratih terheran heran.
" Kenyamananku?? kenapa om? om ini makin aneh saja, aku kan punya motor sendiri?",
Pamungkas hanya tersenyum mendengar itu, tak menjawab.
" Malah senyum.." gerutu Ratih, membuat senyum Pamungkas makin lebar.
" Ya sudah kalau tidak mau makan, ku temani disini.." ujar Pamungkas membuat Ratih semakin tidak mengerti.
" Om??"
" hemm.. kenapa?" suara Pamungkas kalem,
" keluarlah om, tidak enak di lihat orang?"
" orang tuamu tidak akan marah, aku menjaminnya, karena itu ayo keluar.." ucap pamungkas yakin.
__ADS_1
" Ihh..! om ini?!" Ratih melempar bantalnya, tapi Pamungkas menangkapnya.
Semakin di lihat semakin Pamungkas gemas.
Di helanya tangan Ratih dan di ciumnya,
" Nah! om kambuh?!" Ratih berusaha menarik tangannya tapi bukan lepas Pamungkas malah mendekat.
Bau parfum yang ringan sampai di hidung ratih, entah itu bau parfum atau pomade yang di pakai Pamungkas.
Merasakan Pamungkas yang semakin mendekat Ratih bukannya mundur, ia tetap di tempatnya.
Mak Karto yang naik membawa makanan ke kamar Ratih kembali lagi turun.
" Lha? kenapa turun mak?" tanya Hendra,
" anu mas, katanya mbak Ratih nanti saja, masih ngobrol dengan mas Pamungkas.." jawab mak Karto sembari tertunduk dalam, tak berani menatap mata siapapun.
" Ya sudah, biarkan mak," Adi menyaut,
" Hen, temani papa main catur,"
" lho, Adi mau naik pa, mau ambil HP?"
" sudah, nanti saja.." tegas Adi sepertinya tau apa yang terjadi di atas sana.
" Ya sudah..!" dengan Wajah masam Hendra mengambil papan catur di laci yang terbuat dari katu jati itu, laci yang berada di ujung ruang tengah.
Tangan Ratih yang cukup lama melingkar di pundak Pamungkas itu mendorong dada Pamungkas tiba tiba.
Ciuman itu terlepas, dan keduanya berpandangan.
Sama sama berdebar hebat, sama sama sulit mengendalikan diri.
" Kalau om begini terus, aku akan pergi om..?" ujar Ratih dengan suara masih bergetar.
Pamungkas bukannya menjawab, ia mencuri lagi bibir Ratih dengan cepat, ia seperti tak menerima atas jarak yang di buat Ratih.
Tapi laki laki itu menarik dirinya tiba tiba saat menyadari, bahwa tangannya sudah kurang ajar,
ia menyusup masuk ke dalam baju Ratih tak terkendali.
" Om..." suara Ratih lirih hampir tak terdengar.
Perempuan itu sudah rebah di atas tempat tidur dengan bajunya yang berantakan.
__ADS_1
Pamungkas sontak berdiri, ia tak mau khilaf lagi.