Om Pamungkas

Om Pamungkas
goyah


__ADS_3

Pamungkas sudah naik ke atas motornya, bersiap menjemput istrinya.


Tapi Ratih tiba tiba datang,


Ratih memasukkan motornya langsung ke garasi, Pamungkas yang di lewati begitu saja memperhatikan raut wajah istrinya yang muram.


" Kok telat yang, baru mau kujemput?


ada masalah di cafe? atau di jalan?" tanya Pamungkas melepas helm istrinya dan menaruhnya di lemari khusus helm.


" Tidak ada apa apa.." jawab Ratih pelan, ia masuk ke dalam kamar dan menaruh tasnya.


Pamungkas masih belum tenang hatinya, di perhatikan lagi istrinya dengan seksama.


Terlihat jelas bekas tangis,


" Kenapa?!" laki laki itu bertanya dengan suara lebih keras, ia paling tidak suka melihat istrinya menangis.


" Tidak.." jawab Ratih membuang pandangannya ke lantai.


" Apa yang bisa kau sembunyikan dariku? aku ini tidak setahun dua tahun hidup denganmu, sebelum menjadi suamimu pun aku hidup denganmu?" ujar Pamungkas menyentuh kedua pergelangan istrinya.


" Apa yang meresahkanmu yang.. Katakan padaku..?" tanya Pamungkas, tapi Ratih masih diam.


Tidak mungkin Ratih jujur, Pamungkas tidak akan diam, dia pasti akan langsung mencari Arga karena tidak menepati janjinya.


Ratih sudah bisa membayangkan, hanya kekerasan yang akan terjadi diantara kedua laki laki itu.


" Sungguh tidak ada apa apa.." Ratih menggeleng,


Pamungkas mengerutkan dahi antara heran dan tak percaya.


" Aku hanya melihat bapak bapak tua di jalan tadi, dia terlihat kesulitan.." Ratih beralasan,


" Kau menangisi orang itu? benarkah?" tanya Pamungkas.

__ADS_1


" Tidak bolehkah aku sedih mas?" tanya Ratih memberanikan diri menatap suaminya.


" Ya sudah.." Ujar Pamungkas mengalah,


" tidak usah masak hari ini, kita pesan makanan dari luar saja.." Pamungkas mengulas senyum sembari membelai pipi istrinya.


Pamungkas memandangi istrinya yang sudah sedari tadi terlelap itu.


Sejak pulang sampai menjelang tidur tak ada senyum sedikitpun di wajahnya, tatapan matanya tidak fokus dan sering diam saat di ajak bicara.


Pamungkas bangkit, mengambil HPnya di atas meja dan berjalan keluar dari kamar.


Setelah duduk di sofa ruang tengah laki laki itu mulai menelfon seseorang,


" Ram.." rupanya ia menghubungi salah satu pekerja Ratih.


Tentu saja Pamungkas tau benar istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu, karena itu ia harus memastikannya sekarang.


" Ada apa di cafe?" tanya Pamungkas,


tak lama ia berbicara dengan Rama, hanya sekitar lima belas menit.


Laki laki itu membeku cukup lama hingga akhirnya menyandarkan punggungnya di sofa.


Rama menjelaskan dengan padat singkat dan jelas,


Bahwa beberapa hari ini ada seorang laki laki yang mencurigakan,


Ia selalu berdiri di luar cafe, dan tiba tiba menghilang saat di dekati.


Rama bahkan menegaskan kalau laki laki itu terlihat jelas sedang memperhatikan Bosnya.


Pamungkas membakar rokoknya, menghisapnya perlahan sembari berpikir,


" apa mungkin..." gumamnya sembari menghembuskan asap rokoknya.

__ADS_1


Laki laki itu terlihat muram sekarang, ketenangannya hilang,


Andaikan sekarang bukan tengah malam, sudah pasti ia akan memastikan apa yang ada di pikirannya.


Tapi yang membuatnya lebih resah adalah ekspresi istrinya,


kenapa harus menyembunyikannya?


Kenapa tidak jujur saja?


dan kenapa ia menangis?


Apa yang sesungguhnya ia tangisi?


amarah kah?


Penyesalan Kah?


Atau.. istrinya itu goyah akan masa lalu?.


Pamungkas gusar, di matikan rokoknya di asbak meski masih panjang.


Benar, sudah enam bulan lebih menikah, tak pernah sekalipun ada kata kata cinta yang keluar dari mulut istrinya itu.


Bahkan saat ia berkata kata manis dan menegaskan kalau dirinya amat mencintai istrinya, istrinya itu hanya tersenyum saja, dan tak membalas dengan pernyataan cinta yang sama.


Ia tau, pernikahan ini tidak di dasari oleh cinta bagi Ratih,


Ratih bersedia menikah sebagai bentuk penyelamatan dan tidak ada pilihan lain yang paling baik selain Pamungkas.


Pamungkas sadar benar ia tidak di cintai,


Bahkan mungkin hati istrinya itu masih terpaut pada masa lalu,


harusnya ia kuat, dan mampu menerima kenyataan bahwa Ratih masih belum mencintainya.

__ADS_1


Tapi melihatnya berkali kali goyah karena Arga,


Hatinya tak terima.


__ADS_2