
Hendra menyusul langkah adiknya yang buru buru berjalan menuju tangga itu.
" Kenapa Rat?!" tanya Hendra keras, membuat Adi yang sedang menonton tv ikut mendekat.
Ratih menoleh, tak menjawab, namun terlihat sembab bekas tangis.
" Siapa yang membuatmu begini? om Pamungkas?!" tanya Hendra keras melihat luka di bibir bawah Ratih, darahnya sudah mendidih.
Ratih menggeleng pelan lalu tertunduk, ia sedih juga malu.
" Lalu??"
" Arganta.." jawab Ratih lirih,
Mata Hendra terbelalak,
" Arga?! berani beraninya dia?!!" Hendra yang berniat langsung untuk mencari Arganta itu di cegah langkahnya oleh Adi.
" Mau kemana kau?" tanya Adi dengan wajah yang lebih garang dari Hendra.
" Adikku di lecehkan begini?! masa aku diam pa??!" jawab Hendra dengan tangannya yang di tarik oleh papanya agar tidak kemana mana.
" Papa lebih marah dari dirimu, tapi papa juga salah jika membiarkanmu pergi mencari Arga."
ucap papanya memberi pengertian,
" jadi di biarkan saja?!" Hendra masih meluap emosinya.
" Pergi kesana dan menghajarnya adalah suatu tindakan kriminal,"
" lalu pa?!"
" kau diamlah, biar aku yang bicara pada orang tuanya besok,"
mendengar ucapan papanya Hendra mengepalkan tangannya geram,
mau tidak mau dia harus menuruti papanya.
" Ratih, kau masuklah dan obati bibirmu itu, tidak bagus di lihat orang!" tegas Adi pada putrinya.
Ratih mengangguk dan segera naik ke lantai dua.
Setelah situasi mulai sedikit dingin Adi mengajak bicara putranya,
ia merasa banyak hal yang harus ia ketahui, apalagi ia sempat mendengar nama Pamungkas di sebut oleh Hendra tadi.
__ADS_1
" Sekarang katakan pada papa, apa maksud pertanyaanmu pada adikmu tentang Pamungkas?" tanya Adi tenang pada Hendra yang duduk di hadapannya itu.
Wajah Hendra berubah tegang.
" Sudah.. katakan saja Hen, papa juga sudah pernah memergoki mereka."
Hendra sontak menatap papanya tak percaya,
" yang benar pa??" tanya Hendra tak percaya.
" Saat selametan pindah rumah Pamungkas." jawab papanya dengan ekspresi datar namun berkali kali menghela nafas berat.
Hendra diam, ia berpikir cukup lama, bimbang, antara harus memberitahu papanya atau tidak.
" Papa menunggumu bicara?" suara Adi lebih tegas, itu membuat Hendra yang biasanya cengengesan itu takut.
" Iya pa," jawab Hendra pelan,
" apanya yang iya?"
" Ratih dan om Pam.. ahhh entahlah, Hendra tidak benar benar memahaminya.." Hendra sedikit bergumam.
" Apa yang kau lihat?" tanya papanya,
saat itu sepertinya Ratih dan om Pam baru saja selesai berciuman,
lipstik Ratih berlepotan di bibir om Pam.."
penjelasan Hendra membuat Adi tiba tiba memegangi dahinya, laki laki tua itu sungguh tidak menyangka keduanya bisa seperti itu.
" Tidak hanya itu, Hendra makin yakin saat menemukan Ratih di kamar om Pam,
om Pam menjelaskan tidak terjadi apapun, keduanya hanya bicara, om Pam juga mengakui kalau ini murni kesalahan om Pam dan bukan Ratih," jelas Hendra lagi, membuat Adi semakin shock, lagi lagi tidak percaya adiknya dan putrinya bisa bertindak sampai seperti itu.
" Ada lagi?" tanya Adi,
" Papa tau malam itu Hendra sampai menampar Ratih, ya karena itu..
Hendra bahkan memarahi om Pam, memperingatkannya agar tidak bersikap semacam itu pada Ratih yang keponakannya sendiri,
bagi Hendra itu memalukan pa, seperti tidak ada wanita lain saja?!".
Adi diam cukup lama, ia memijat minjat pangkal hidungnya.
" Dimana mamamu?" tanya Adi pada Hendra,
__ADS_1
" mama dengan mak Karto ke bu Anita di sebelah rumah,"
Adi lagi lagi diam, cukup lama ia diam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membicarakan sesuatu yang tidak di ketahui oleh putra dan putrinya selama ini.
" Om mu itu, bukan adik kandung papa," ujar Adi dengan nada penuh pengertian dan kehati hatian.
" Maksudnya pa??" Hendra mulai berekspresi aneh.
" Om Pamungkasmu itu, bukan adik kandung papa, dan itu berarti bukan om kandung kalian."
Hendra membeku, rautnya kebingungan.
" Dia adalah saudara tiri papa, beda ayah dan beda ibu.." jelas Adi lagi, namun putranya itu masih larut dalam kejutan yang di berikan papanya ini.
" Papa mengarang ini untuk melindungi om Pamungkas kan?" Hendra masih menyangkal.
" Mana mungkin pa??!" Hendra benar benar tidak mudah menerima.
" Papa tidak mengatakan nya karena papa pikir tidak ada gunanya memberitahu kalian yang masih kecil, toh kita sudah menjadi keluarga utuh..
sesungguhnya papa sudah menyadari kasih sayang Pamungkas yang berlebihan pada adikmu mulai remaja,
tapi papa mengacuhkannya,
papa merasa perasaan remaja gampang berubah,
tapi papa tidak mengira Pamungkas masih menyimpan perasaan itu, bahkan setelah adikmu menikah.."
Susana dirumah itu tiba tiba hening,
Hendra diam seribu bahasa.
" Maafkan papa, karena tidak menjelaskan ini dari dulu..
andai hal semacam ini tidak terjadi,
mungkin papa juga tidak akan menjelaskannya sampai mati.." Adi meminta maaf pada putranya.
" Kenapa papa minta maaf, papa tidak bersalah dalam hal apapun.." sahut Hendra.
" Jadi om Pamungkas tidak ada hubungan darah denganku dan Ratih?"
Adi mengangguk,
" tidak ada.. tapi dia adalah adik terbaik papa.." Adi menegaskan.
__ADS_1