
Pamungkas buru buru turun dari kamar Ratih, tangan kanannya menutut mulutnya.
Wajahnya terlihat tak baik.
" Ratih tidak mau makan?" tanya Adi membuat Pamungkas terkejut,
ia terkejut seperti sudah mencuri sesuatu dari rumah ini.
" Kenapa kau takut begitu?" tanya Adi lagi.
Pamungkas menghentikan langkahnya,
ia berdiri dengan tegang.
" Tidak mas.." ucapnya tertunduk,
" Tidur saja disini, besok sabtu kan?"
Pamungkas diam,
" Iya Pam, sekalian ada yang mau mbak dan mas mu bicarakan.." Ana ikut bicara, sementara Hendra masih bingung dengan caturnya, sejak tadi ia tidak bisa mencari jalan untuk mengalahkan papanya.
" Kami sudah dapat tanggal Pam.. segera di resmikan saja.." ujar Ana lagi, membuat Pamungkas semakin tidak enak, jangan jangan kelakuannya di atas tadi di lihat oleh kakak atau kakak iparnya, karena pintu setengah terbuka.
Matahari sudah menembus tirai tipis yang menutup jendela kamar yang di tinggali Pamungkas sejak remaja itu
Laki laki itu rasanya malas bangun,
semalam ia di cuci bersih oleh kakaknya.
" Tok tok tok!" suara Pintu terketuk,
" Om?! susul ke bengkel ya?! Hendra berangkat dulu?!" Hendra yang tidak bisa bicara pelan itu berkata sekeras kerasnya di depan pintu kamar Pamungkas.
Setelah bicara sekeras itu Hendra buru buru pergi.
" Uhhh!! bocah itu dari dulu..?!" keluh Pamungkas menggeliat bangkit.
Ia berjalan mendekati jendela, matahari rupanya sudah tinggi.
__ADS_1
Ia mengawasi halaman depan dan belakang, semua tampak tenang.
Mendengar suara pintu di ketuk Ratih yang sedang mengupas melon untuk papanya itu bangkit.
" Biar saya saja mak..?!" suara Ratih keras agar sampai ke mak Karto yang ada di belakang.
Dengan tenang Ratih membuka pintu, tanpa tau siapa yang mengetuk.
" Rat?!" suara Tias menyambut saat Ratih membuka pintu.
" Ada urusan apa kau datang kerumahku?" tanya Ratih tidak ramah,
" tentu saja ada urusan denganmu!" cetus Tias sengit.
Dahi Ratih berkerut heran,
" aku tidak merasa punya urusan denganmu! jadi pergilah!" usir Ratih menutup pintu, tapi pintu itu di dorong.
" Dasar kau ya! munafik!" serang Tias mendorong Ratih.
" Tias?!" Ratih menahan dirinya karena melihat perut Tias yang buncit.
" Kau yang tidak waras! aku sudah meminta maaf baik baik padamu tapi kau masih ingin membalasku! kau ingin merebut Arga lagi dariku?!!"
Ratih mengerjap ngerjapkan matanya tak percaya, bagaimana bisa ia di tuduh ingin merebut Arga.
" Kau ini sinting ya, mengigau saja! aku dan Arga sudah berakhir! habis! ambil ambil saja!
bukankah sudah kuberikan padamu?!
kenapa kau masih datang kesini seperti orang yang tidak tau malu?!"
" Kau pelakor!!" Tias mendorong Ratih lagi dengan agresif, Ratih memegangi kedua tangan Tias.
Mendengar Keributan Adi bangkit dan berjalan ke ruang tamu.
Betapa terkejutnya ia melihat putrinya di serang dengan kasar.
" Lepaskan Ratih!" Adi mendekat berusaha membela.
__ADS_1
" Jauh jauh pah! bahaya?! dia hamil?!" peringat Ratih.
Melihat perut Tias yang besar itu Adi mundur, ia bingung.
Dengan langkah cepat ia kembali masuk ke dalam dan memanggil Pamungkas.
" Pam!! Pamungkas cepat turun?!!" suara Adi menggema.
Pamungkas yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya memakai celana pendek itu saja buru buru turun mendengar panggilan Adi yang keras itu.
" Kau pelakor teriak pelakor! gara gara kau rumah tanggaku hancur! sekarang kau mengataiku pelakor! kau perempuan tidak sehat!
aku menyesal pernah bersahabat denganmu!" Ratih menahan tangan Tias yang menjambak rambutnya.
Tidak sedikitpun Ratih membalas karena takut dengan disalahkan karena menyerang perempuan hamil.
" Omong kosong! Arganta meminta cerai dariku! dia bilang akan kembali padamu!
kau kira aku bodoh?!
kalian masih berhubungan kan di belakangku?!"
Tias masih mengamuk.
" Aku tak menyangka kalau kau sekarang menjadi wanita ****** yang mau mengambil milik orang lain!
jangan kira aku akan diam saja! aku memperingatkanmu!
jangan ganggu suamiku!!" Tias histeris, di ayunkan tangannya untuk mencakar Ratih.
Tapi bukan Ratih yang tercakar,
Pamungkas yang menarik dan memeluk Ratih dengan sigap itu yang menerima cakaran Tias.
Bahu bidang dan lebar itu tak lagi mulus,
bekas cakaran membuat kulit bahu Pamungkas mengelupas dan sedikit berdarah.
Pamungkas berbalik dan menatap Tias,
__ADS_1
membuat Tias mundur dengan raut ketakutan.