
Pamungkas bangkit, ia melirik jam yang entah tepat atau tidak,
waktu rupanya sudah sore, niatnya tidur hanya sekedar satu dua jam, tapi ternyata lebih lama dari itu.
Setelah dari kamar mandi membersihkan diri dan mengganti bajunya, laki laki itu berjalan keluar mencari istrinya.
" Padahal tadi janji kalau diam di teras saja.." gerutu Pamungkas saat tidak melihat istrinya.
Laki laki itu duduk di teras, sembari menyalakan rokoknya.
Beberapa anak kecil lewat di jalan depan rumah, entah apa yang sedang mereka bicarakan, andai Pamungkas hidup disini mungkin dia akan tau.
Dari kejauhan terlihat beberapa orang berjalan kearahnya,
diantara orang orang itu terdapat istrinya.
" Sudah bangun ternyata?" Ujar Ratih dengan senyum terkembang.
" Teko endi? ( dari mana?)" tanya Pamungkas dengan raut sedikit masam,
" Di ajak tante tante cari ikan segar di sungai sana," sahut Ratih mendekat.
Sementara para tante itu melempar senyum pada Pamungkas.
" Kami ajak dia untuk membuang waktu, karena sepertinya dia jenuh duduk sendiri di teras.." ujar salah satu tante.
" Ini tante Puni, adik ayah mas yang paling kecil??" beritau Ratih setengah berbisik,
Pamungkas hanya memandang sekilas lalu mengangguk demi kesopanan.
Rapuni tau, ia keponakannya itu sudah pasti tidak senang.
" Semua om mu sudah berkumpul, mari kerumah ayahmu," ajak Rapuni.
Pamungkas memandang istrinya,
" duluan saja, saya ingin bicara dengan istri saya dulu," jawab Pamungkas.
" ya sudah, kau langsung saja kesana sendiri nanti, toh itu juga rumahmu,
rumah kayu yang paling ujung, persis sebelah kebun,
rumah ayahmu itu nak.." Pamungkas hanya mengangguk, lalu segera membawa istrinya masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam Pamungkas malah duduk kembali di atas tempat tidur, wajahnya terlihat bimbang.
Melihat itu Ratih menghela nafas dan duduk tenang disamping suaminya.
" Sudah sampai disini.. ya masa mau pulang?" tanya Ratih membaca keresahan suaminya.
" Mas adalah orang yang selalu bertanggung jawab atas apa yang sudah mas pilih bukan..?" lanjut Ratih,
" aku akan menemuinya, sendiri saja.." ujar Pamungkas pelan.
" Benar sendiri? benar tidak apa apa?" tanya Ratih khawatir,
" kau takut aku berbuat apa?" Pamungkas menatap istrinya.
Ratih menggeleng,
__ADS_1
" aku takut mas tidak bisa mengontrol perasaan mas.. Ini bukan pertemuan yang biasa saja.." ujar Ratih hati hati,
" aku hanya perlu mengatakan kalau aku putranya, dan mendengarkan dia bicara bukan?",
Ratih diam, tak menjawab, hanya di pandangi suaminya, entah ia harus menjawab apa,
sikap Pamungkas membuatnya ikut ikutan resah.
Padahal.. saat ia mengikuti para tante tadi, mereka memperlakukan Ratih dengan baik, sesekali mereka menanyakan Pamungkas, namun mereka tidak berani bertanya terlalu dalam karena tau, bahwa Pamungkas membuat jarak yang cukup jauh,
Itu terbaca melalui sikap dan sorot mata Pamungkas yang tidak menerima mereka sebagai keluarga.
Akhirnya senja menghilang, dan malam mulai merayap ke sekitar.
Banyaknya pepohonan di sekitar membuat suasana malam lebih pekat,
sementara jalanan di depan rumah hanya di hiasi dengan lampu lampu lim watt saja.
Pamungkas menggandeng istrinya, ia berjalan melewati rumah rumah omnya, berjalan lurus ke arah rumah panggung satu satunya di ujung.
Rumah itu cukup besar, tiang tiang kayunya masih tampak kokoh meski terlihat cukup tua.
Melihat Pamungkas berjalan mendekat, semua orang yang duduk di teras rumah itu bangkit, dan serempak menatap ke bawah.
Mereka menunggu Pamungkas dan istrinya naik ke atas tangga.
Tapi yang ditunggu langkahnya ragu, dan kembali terhenti tepat di depan tangga.
Ratih menatap suaminya,
" padahal tinggal naik saja.. aku tidak mengira sebegini sulitnya mengendalikan perasaannya.." ucap Ratih dalam hati saat melihat suaminya itu menatap tanah yang ia pijak.
Setelah menatap istrinya sejenak, Pamungkas menghela nafas berat, terdengar amat berat.
Di lepas alas kakinya, lalu perlahan memijak tangga kayu di hadapannya, satu persatu, mendahului istrinya, namun dengan genggaman yang tak lepas.
Suasana di teras itu tiba tiba tegang, semua orang dag dig dug menantikan Pamungkas sedari siang,
semua mengira bahwa Pamungkas akan mengurungkan niatnya untuk melihat ayahnya, karena ia tak kunjung datang menjenguk ayahnya juga meski sudah sampai sedari siang.
Ruslan, Rusdi, Rusman dan Rapuni, tidak memindahkan pandangannya dari keponakannya itu, mereka menanti anak tangga itu habis di naiki.
Saat Pamungkas sudah berada di hadapan mereka, mereka semua terdiam, entah bingung, entah takut, suasana hening.
" Bisa antar saya ke dalam?" suasana yang membuat om dan tantenya sesak, menjadi lepas seketika saat Pamungkas membuka mulutnya.
" Biar tantemu yang antar.." sahut Ruslan,
" Iya, ayo nak.." Rapuni yang matanya sudah berkaca kaca itu berjalan mendahului pamungkas.
Pamungkas mengikuti langkah Rapuni, kakinya yang dingin menginjak lantai kayu yang sudah di lapisi karpet plastik.
Baru saja masuk, Pamungkas sudah di sambut dengan ruang tamu yang luas,
Ia menoleh ke belakang, menarik tangan istrinya agar berjalan mengikutinya.
Ratih yang takjub dengan bangunan rumah sempat beberapa kali menghentikan langkahnya dan mengamati.
Langkah Rapuni terhenti di satu kamar tidak berpintu, ia hanya memiliki kelambu penutup berwarna kuning tua.
__ADS_1
" Ini kamar ayahmu.. dia belum tidur.. sengaja menunggumu, masuklah.." ujar Puni pada Pamungkas yang berdiri di belakangnya.
" Pun.. Puni.." terdengar suara lemah dari dalam kamar.
Pamungkas lagi lagi kacau mendengar suara itu.
Rapuni membuka kelambu kuning itu, dan masuk.
" Sini masuk.." ajak Puni,
Pamungkas mau tidak mau melangkahkan kakinya ke dalam, dan terlihatlah satu kamar yang luas dengan dinding kayu yang di penuhi foto, sepertinya foto masa muda, semasa lepas pendidikan.
Pamungkas mengalihkan pandangannya pada tempat tidur yang di letakkan di bawah begitu saja,
disana terbaring sosok laki laki yang sudah dua puluh dua tahun tidak di lihatnya.
" Itu Pamungkas, putramu.. dia sudah datang kemari.. kau senang?" bisik Rapuni,
membuat laki laki tua itu tak henti menatap Pamungkas.
Di pandanginya dari atas sampai ke bawah,
mulutnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak lama mulut itu terkatup kembali, namun terkatup untuk menahan tangis.
Tangis laki laki tua itu pecah, ia memandangi dengan penuh air mata sembari terbaring.
Tangannya terangkat, seperti ingin menghela Pamungkas,
namun Pamungkas tidak mendekat.
Pamungkas menatap laki laki yang sudah tidak berdaya itu dengan wajah kaku,
tak ada rasa iba meski air mata ayahnya sudah mengalir deras.
Anak dan ayah itu saling menatap, satu penuh kasih dan penyesalan,
satu penuh rasa frustasi karena dadanya di penuhi kemarahan.
Bagaimana ia tidak marah, tangan yang terulur di hadapannya itu,
adalah tangan yang sering memukulnya dulu,
tangan yang sering menampar dan menjambak ibunya,
tangan yang sering mendorong dan mengusir anak istrinya tanpa belas kasihan.
Pamungkas gemetar, semua ingatan buruk menyerangnya,
Ia masih ingat jelas betapa gagah ayahnya, hingga berpikir bisa mendapatkan perempuan manapun sehingga memperlakukan ibunya dengan buruk.
Ia juga masih ingat bertapa melarat hidupnya tanpa nafkah ayahnya sehingga ia dan ibunya remehkan.
Ingatan itu bukan lagi pedih, tapi menyayat.
Entah kenapa rasanya muak melihat air mata ayahnya itu, bukan sedih, ia justru marah.
"Setelah menyakiti, dengan mudahnya dia ingin meminta maaf!" ucap Pamungkas tegas dalam hati dengan tangan terkepal.
Ratih yang merasakan tangannya di genggam erat sampai sakit menyentuh lengan suaminya.
__ADS_1
" Mas.. tenangkan dirimu..??" ucap Ratih lirih.