
Suami istri itu rupanya tidak bisa berpikir dengan bijak, keduanya terpengaruh oleh ucapan teman teman mereka, sehingga hubungan yang sebelumnya tenang kini penuh dengan kecurigaan antara satu sama lain.
Ratih yang mulai rewel entah kenapa, dan Pamungkas yang bicara seadanya karena setiap ia bicara istrinya selalu membalasnya dengan kata kata yang menurutnya tidak masuk di akal.
" Tidak keluar? Tumben?" semacam itulah sindiran Ratih yang membuat Pamungkas terkadang kesal.
Dan akhirnya setelah berpikir lama Pamungkas mengutarakan keinginannya saat keduanya sudah berada di tempat tidur.
" Kita pindah saja."
Mata Ratih yang baru saja terpejam, sontak terbuka kembali.
" Pindah?" tanyanya bangkit duduk.
" Iya, pindah dinas.. Aku akan mengajukan ke komandan dengan berbagai alasan mendesak.." ujar Pamungkas yang masih duduk sedari tadi di atas tempat tidur.
" Sebentar, mengajukan pindah?" tanya Ratih menegaskan,
" yah."
" alasannya?"
" aku punya alasan tersendiri,"
" wah.. Hebatnya rencanamu mas.." Ratih mendesis kesal di ujung kalimat.
" kau sudah merencanakan ini dari jauh jauh hari ya?" tanyanya lagi,
Pamungkas diam.
" Sebegitunya ingin jauh dariku?" tanya Ratih lagi membuat Pamungkas menatap Ratih serius.
" Jauh darimu bagaimana maksudnya? tentu saja aku pindah bersamamu Rat?! Tidak mungkin aku meninggalkanmu disini??!" tegas Pamungkas dengan nada terkendali.
Ratih diam, ia kebingungan, ia sudah terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, tapi..
Tapi kenapa harus pindah?
Jauh dari papa mamanya?
Kenapa tiba tiba?.
__ADS_1
" aku tidak mau," jawab Ratih membalikkan tubuhnya dan menghadap ke jendela.
" kenapa tidak mau, apa yang kau beratkan disini?" tanya Pamungkas mendekat.
Ratih diam, tak menjawab.
melihat istrinya diam sembari menatap jendela, kecemburuan Pamungkas bangkit,
Pasti masih memberatkan Arga,
Pasti masih belum rela,
Dan pasti sekarang Ratih sedang memikirkannya.
Pikiran pikiran buruk menguasai Pamungkas yang biasanya cukup berkepala dingin.
" Ada yang belum kau relakan disini? Sehingga kau tidak mau mengikutiku?" tanya Pamungkas, dan Ratih masih diam, hanya terdengar suara keluhannya.
" kenapa?" tanya Pamungkas lagi,
" apanya?" sahut Ratih lirih,
" tidak mau mengikutiku?"
Mas mau menyeretku meninggalkan mereka?
Bukankah sejak awal mas berjanji bahwa akan selalu mengusahakan agar tetap berada disini di tengah tengah kami?" jelas Ratih.
" lalu sekarang kenapa?
Aku sungguh sungguh heran denganmu mas,
Semakin aneh saja sebulan ini,
Aku sudah membiarkanmu bergaul dengan Sekar sesuka hatimu, dan sekarang, mas tiba tiba ingin pindah?
Ada apa ini?
Apa sekar juga mau pindah? Lalu mas mau mengikutinya?" Ratih tak mau kalah, perempuan yang biasanya lebih banyak diam menahan itu kini banyak bicara.
" iling Rat!! ( sadar Rat!! )" bentak Pamungkas tiba tiba membuat Ratih beringsut mundur.
__ADS_1
" Ngomongmu ngalor ngidul nggak jelas! Sekar iku sopo Rat?! wes koyok adikku dewe!! ( ngomongmu melantur tidak jelas! Sekar itu siapa Rat?! Sudah seperti adikku sendiri!!)" tegas Pamungkas.
" Kecurigaanmu berlebihan! Di depan matamu sendiri waktu itu abangnya bicara, bahwa dia menitipkan adiknya, tidak ada sanak saudara satupun disini?
Kukira kau juga menganggapnya adik dan tidak menaruh perasaan buruk apapun pada Sekar?!" imbuh Pamungkas dengan wajah tak main main, rupanya laki laki itu benar benar marah saat tau dirinya di curigai mempunyai hubungan yang macam macam dengan Sekar.
" Awalnya aku mau mengajakmu pindah baik baik,
tapi kau malah memperkeruh suasana,
Hentikan kecurigaanmu itu..!"
" tidak, aku tetap saja kesal saat melihatmu berdekatan dengannya, dan jika mas tidak ingin aku curiga, seharusnya mas bisa menjaga jarak dengannya, bukannya menempel!" balas ratih.
" Istifar Ratih! Ini sudah fitnah!" Pamungkas geram, wajahnya memerah.
" kau memang sering keluar bersamanya, mana tau kalian kemana dan berbuat apa?!"
Deg! Pamungkas tersentak.
Bagaimana bisa pikiran Ratih sejauh itu,
Bagaimana bisa ia di tuduh dengan keji seperti itu?.
Pamungkas bingung, harus marah atau justru menangis karena kecewa.
Di cengkramnya tangan Ratih sembari berkata,
" bukankan seharusnya aku yang mengatakan itu Ratih?" Ratih menggeliat, cengkraman Pamungkas begitu kuat dan terasa Sakit.
" bukankah seharusnya aku yang menempatkanmu dalam posisiku sekarang?
sampai kapan..
Sampai kapan aku harus mengalah dan pura pura tidak tau bahwa Arga masih bersliweran di sekitarmu?!"
Ratih tercekat, bagaimana suaminya itu bisa tau.
" Jangan jangan kau bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku?!"
Melihat Ratih yang tiba tiba tertunduk,
__ADS_1
Mata Pamungkas berkilat penuh kemarahan.
" jadi kau memang bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku?" ucap Pamungkas kecewa.