
Pamungkas berjalan menaiki tangga, namun langkahnya terhenti oleh hendra.
" Ratih sudah pindah di bawah om," ujar Hendra turun dari tangga, ia menunjuk pintu satu pintu kamar.
" lho, kau belum tidur?" tanya pamungkas, karena ini cukup larut.
" belum, aku penasaran kenapa om tidak kunjung kembali kesini,"
" aku kembali, tapi aku berbincang dengan temanku dulu.." jawab Pamungkas melangkah mundur dan berbalik, ia berjalan ke arah sofa ruang tengah.
" Om sudah makan?" tanya Hendra mengikuti langkah omnya, sampai keduanya duduk di sofa.
" Sudah, nasi goreng.." jawab Pamungkas sembari menggosok wajahnya, ia terlihat lelah.
" tidurlah om, temani istrimu.. Wajahnya gelisah terus entah kenapa.."
Pamungkas mengangguk,
" Ya sudah, aku duluan.." ujar Pamungkas bangkit dan berjalan ke kamar yang di tunjuk hendra tadi.
Pamungkas memutar handle pintu,
Ternyata pintu tidak di kunci,
Disana ia menemukan istrinya yang sudah lelap.
Pamungkas membuka sweaternya dan duduk disamping tempat tidur.
Tempat tidur yang pas untuk berdua, namun tidak terlalu besar, ukuran kamarnya pun tidak sebesar kamar kamar di atas.
Ya sudahlah.. Yang penting istrinya tidak naik turun tangga.
Pamungkas menaikkan kakinya, dan berbaring tepat di sebelah Ratih.
Pamungkas tidak bisa langsung terlelap, entah kenapa, tangannya bahkan terulur kearah perut Ratih, membelainya dengan hati hati.
Rasanya sudah lama perempuan disampingnya ini tidak bermanja manja kepadanya.
Pamungkas menghela nafas, di buang jauh jauh pikiran pikiran buruknya, dan berusaha untuk tidur nyenyak disamping Ratih.
keesokan harinya Ratih terbangun dengan suaminya yang tau tau masih terbaring lelap disampingnya.
" kukira dia tidak akan datang kembali kemari.." ujar ratih dalam hati, di pandangi suaminya yang lelap, garis hidung yang tegas dan alis yang lebat terlihat begitu jelas.
Tidak setampan Arga, namun jelas lebih maskulin, dan manis.
Ratih saja mengakui bahwa suaminya ini tidak jelek dan cukup menarik, apalagi perempuan lain, dari sanalah rasa tidak tenang muncul kembali, dari tatapan yang lembut, berubah menjadi tatapan kesal.
Ratih turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, setelah Ratih selesai mandi, suaminya itu tidak kunjung bangun juga.
Karena hari sabtu, Ratih merasa tidak perlu membangunkan suaminya itu, sehingga ia keluar dari kamar begitu saja.
" Suamimu ndak sarapan tho nduk?" tanya Ana,
" belum bangun ma," jawab Ratih ikut membantu mamanya menyiapkan makanan.
" Sepertinya dia datang tengah malam.. Untung saja kunci cadangan masih di tempatnya.."
__ADS_1
Ratih diam mendengar itu.
" Kau itu kenapa, suamimu kesini malah kau suruh pulang pulang terus, dia juga ingin bersamamu disini..
Jangan rewel Rat, kasian dia pontang panting sana sini bingung.." ujar Ana menasehati putrinya.
" Justru karena kasian padanya aku menyuruhnya tidak usah kesini ma, siapa tau karena aku jadwal jadwalnya jadi terganggu," jawab Ratih,
" kau ini kenapa nduk.. Sebelum dia jadi suamimu dia itu om mu, sebelum punya tanggung jawab sebagai suami.. Dia sudah ada tanggung jawab sebagai om..
Jangan berpikiran aneh aneh tentang suamimu, dia itu khawatir padamu.. Jangan membuatnya bingung dengan sikapmu.."
Ratih diam, tidak menjawab.
namun hatinya tidak terima, andai saja mamanya mengetahui apa yang sudah di lakukan suaminya dan sekar, tentunya mamanya tidak akan berkata seperti ini.
Namun tidak mungkin Ratih jujur, karena terakhir kali ratih protes tentang sekar, mamanya malah memarahinya, seakan akan Ratih sedang cemburu buta,
Tidak ada bukti yang bisa ia beberkan,
Bicarapun hanya akan jadi sebuah tuduhan kosong.
Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga baik baik kandungannya,
Dengan Pamungkas ataupun tidak nantinya, ia akan menjaga anaknya baik baik, karna kehadiran anak ini adalah hal yang ia impikan selama bertahun tahun.
Diam diam Ratih menghela nafas,
Sesungguhnya ia berharap segalanya baik baik saja, berharap tidak ada masalah yang sama seperti yang terjadi di pernikahan pertamanya,
Setia atau tidak suaminya, ia sungguh sungguh tidak tau..
Dan selama beberapa hari ini ia sudah bersiap siap jika suatu ketika mendapatkan kenyataan yang buruk.
" Heh.. Sudah makan.. Itu sayuran pesananmu kemarin, makan yang banyak terus minum susumu.." mamanya membuyarkan pikiran Ratih.
Pamungkas sudah bangun ketika Ratih masuk ke dalam kamar, wajahnya masih terlihat mengantuk.
" Maaf, semalam aku kembali larut.." ujar Pamungkas masih duduk di atas tempat tidur.
" ya," jawab Ratih pendek,
Tapi mendapat jawaban sependek itu membuat Pamungkas tidak nyaman.
" Aku beli nasi goreng di tempat samsul, tapi keenakan ngobrol," jelas Pamungkas,
" Aku kan sudah bilang iya, jadi tidak usah di jelaskan pun tidak apa apa," jawab Ratih acuh sembari menyisir rambutnya.
Pamungkas diam, di pandangi istrinya yang memakai pensil alis dan lipstik.
" Mau kemana?" tanya Pamungkas heran, Ratih tidak pernah berdandan di dalam rumah.
" Mau jalan jalan cari cemilan,"
" cemilan apa? Jalan kemana?"
" ya cemilan, jalan ke depan, ke mini market." Ratih berbalik dan berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
" Aku saja, mau cemilan apa katakan?" Pamungkas bangkit, ia sampai lupa kalau baru bangun dan belum cuci wajahnya.
" Aku ingin jalan jalan, cari angin mas."
" bahaya, banyak mobil lalu lalang,"
Ratih menggelengkan kepalanya,
" Aku akan berhati hati," jawab Ratih membuka pintu.
Pamungkas dengan cepat ke kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu segera keluar menyusul langkah istrinya.
Pamungkas mengikuti langkah Ratih di pinggir jalan, melihat rambut panjang tergerai yang bergerak kesana kemari.
Di sekitaran jalan, mata para pemuda yang nongkrong sesekali menatap istrinya,
Setelah sampai di mini marketpun beberapa laki laki yang mungkin seusia Pamungkas ikut melirik istrinya yang memakai setelah rok selutut berwarna salem.
Pamungkas berdehem disamping Ratih, tidak senang istrinya di pandangi orang lain.
Tapi Ratih tak menghiraukan suaminya, ia terus saja berjalan sembari memilih cemilan.
Sesampainya dirumah Pamungkas duduk diteras, ia merokok sebatang dengan di temani segelas kopi buatan mak karso.
" Dari kejauhan terlihat motor sekar berhenti di depan pintu pagar.
" Lho? Hendra tidak dirumah sepertinya?!" Pamungkas bangkit menyambut Sekar.
" Sudah ke bengkel kok bang, itu.. Mau antar sesuatu buat mbak Ratih.. Kebetulan tadi ada penjual kue rangin lewat depan bengkel, kata mas Hendra itu favorit mbak Ratih.." ujar Sekar membawa bungkusan,
" iya iya, mulai kecil dia suka, wah.. Padahal sudah jarang ya yang jual.. Istriku pasti senang ini.. Masuk masuk..!" ujar Pamungkas tersenyum, ia tak berpikir tentang apapun, yang ada di pikirannya hanya kue kesukaan Ratih yang sudah sulit di cari penjualnya.
Ratih sedang duduk di depan TV bersama papa dan mamanya, mengunyah cemilan yang tadi ia beli dari mini market.
" Yang..?! Ini lho Sekar mencarimu?!" Pamungkas berjalan mendekat ke ruang TV, dan sekar mengikuti langkah Pamungkas.
" Lhoo Sekar tho?!" Suara sapaan Ana membuat Ratih sontak menoleh.
Ia melihat Sekar berjalan di belakang suaminya, wajah keduanya terlihat begitu senang di mata Ratih.
" Iya, mau berikan titipan mas Hendra pada mbak Ratih.." Sekar mendekat dan menyerahkan bungkusan ditangannya pada Ana,
" Apa ini nduk?" tanya Ana lembut,
" Kata mas Hendra kue Rangin.. kelapa parut yang di panggang itu.."
" Owalahh.. Iya iya," Ana mengelus lengan Sekar dan tersenyum,
" ini Rat.. Kesenanganmu lhoo..?" Ana memberikan bungkusan itu pada Ratih,
Ratih mau tidak mau menerimanya, namun aroma kue yang biasanya gurih itu entah kenapa menjadi berbeda dan menganggu Ratih,
" Huekkk..." Ratih mual seketika, padahal kemarin kemarin ia tidak pernah merasakan mual,
" Huekkk..." ia mual lagi,
Dengan segera Ratih menaruh kue itu dan buru buru berjalan ke kamar mandi di dekat dapur.
__ADS_1