Om Pamungkas

Om Pamungkas
enggan


__ADS_3

Ratih membuka satu persatu bawaan Hendra.


" Itu makanan kesukaanmu semua, mas yo hafal.. " Hendra membolak balikkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.


" Tumben mas kesini? memangnya bengkel tutup?" tanya Ratih heran, jarang jarang Hendra datang kerumahnya.


" tidak ada mobil yang masuk beberapa hari ini, jadi aku santai..


Lagi pula kata suamimu kau sedang kurang sehat beberapa hari ini, jadinya aku kesini.." jelas Hendra.


" Siapa yang kurang sehat? aku sehat?" bantah Ratih.


" Lha suamimu bicara begitu?"


" dia mengada ngada.."


" kalau dia bukan om kita mungkin masuk akal dia mengada ngada..


Lha wong wajahmu lesu terus..?!


Kenapa? Kalian ribut lagi?" Hendra duduk dengan benar.


" Mana pernah kami ribut.." Ratih mengalihkan pandangannya pada makanan.


" Sungguh?"


" mas ini?!"


" Tiga hari yang lalu om datang ke bengkel, entah kenapa punggung tangannya berdarah," Hendra menatap adiknya.


" Kau tidak tau kalau om terluka?" tanya Hendra saat melihat Ratih diam saja.


" Aku hanya melihatnya sekilas, dia tidak bicara apapun, tapi keesokan harinya bu Agus menemukan bekas perbannya,"


" nah.. Itu, Sekar yang mengobatinya..".


Mendengar nama Sekara Ratih sontak memandang kakak laki laki nya itu.


" Sekar?"

__ADS_1


" iya Sekar, aku manggilnya karena aku khawatir dengan om?"


Ratih mengatupkan bibirnya, entah kenapa ia kesal sekali membayangkan suaminya itu dekat bahkan bersentuhan dengan perempuan lain.


" Kenapa tidak memanggilku? Mas lupa dia kalau aku istrinya?" tanya Ratih tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya.


" Mas sudah berniat menghubungimu, tapi om mencegahku, bahkan memperingatkan ku agar jangan sampai kau tau, yah mas bisa apa?"


" dia kan adik iparmu mas?!"


" iya, tapi dia juga adik papa, mana bisa aku tidak patuh padanya?"


" dasar! Jadi mas akan terus diam saja melihat hal hal yang tidak pantas di depan mata mas??" Ratih benar benar kesal dengan Hendra yang tidak peka.


" Tidak pantas bagaimana? Lha wong aku yang menelfon Sekar Rat? Sekar seorang perawat, tentu saja masuk akal jika aku langsung meminta bantuannya?" Hendra belum sadar juga kalau adiknya cemburu pada Sekar.


" Bagus, teruskan saja kalian begitu mas, jangan anggap aku ada.." Ratih berjalan pergi ke dapur meninggalkan kakaknya.


Sedangkan yang di tinggalkan hanya menggeleng gelengkan kepala tidak mengerti.


Saat pamungkas pulang, Ratih sudah duduk di depan kaca riasnya.


Rambutnya tergerai basah, perempuan itu terlihat sibuk mengganti antingnya dengan bentuk mutiara yang berwarna putih cerah.


Laki laki itu membuka membuka seragamnya, sembari berjalan ke arah kamar mandi.


Sekitar lima belas menit kemudian laki laki itu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah bersih dan segar.


Handuk putih menutupi perut sampai pahanya,


dengan langkah tenang ia berjalan mendekat ke meja rias, dimana istrinya masih sibuk memoles pipinya dengan blush on yang tipis.


Pamungkas terus mengawasi istrinya tanpa celah,


Sesungguhnya ingin santai saja ,tapi melihat istrinya terlihat begitu senang berhias, dan tiba tiba berpenampilan seperti anak kuliahan itu membuat pikirannya kemana mana.


Pamungkas mundur perlahan lalu duduk di atas tempat tidur, masih dengan pandangan lurus pada istrinya.


Ratih mendengar jelas suara suaminya yang mendengus sedikit kesal itu, Ratih juga tau benar ia di perhatikan sejak tadi.

__ADS_1


Dalam hatinya sedikit takut, jangan jangan suaminya itu akan bersikap kasar lagi.


Tapi alasannya cukup kuat kali ini, sehingga ia tidak perlu memperdulikan ketakutannya.


" Mau kemana?" akhirnya Pamungkas bertanya setelah membisu beberapa hari.


" Ada janji dengan mbak Ruhiyat," jawab Ratih memperbaiki alisnya tipis tipis.


" Istri mas Ruhiyat?" Pamungkas mengerutkan alisnya,


" iya, seniorkan?" Ratih tak menoleh sibuk dengan wajahnya.


" Sejak kapan dekat dengan mbak Ruhiyat?" Pamungkas seperti tidak senang,


" tidak dekat, tapi waktu ibu ulang tahun kemarin kami sempat ngobrol,


Kebetulan ada istri anggota yang melahirkan jadi mbak Ruhiyat mengajak belanja kebutuhan bayi bersama,


hitung hitung pendekatan dengan istri istri anggota di asrama,"


" Kenapa harus sore? dan kenapa kau harus berpenampilan semencolok ini?" Pamungkas benar benar terlihat tidak senang, karena istrinya terlihat makin muda dan cantik dengan celana jeans yang sedikit robek di bagian lututnya dan sweater berwarna biru mudanya, belum lagi pita yang di sematkan di kepalanya.


" Mencolok bagaimana? Bajuku panjang tertutup dan sopan?" Ratih bangkit, melihat dirinya di kaca, cukup lucu dan manis pikirnya.


" Ikat rambutmu," tegas Pamungkas tidak senang melihat rambut istrinya tergerai indah dan masih sedikit basah.


" Kenapa? ini kan masih basah?"


" ikat rambutmu atau ku telfon mas Ruhiyat agar istrinya berangkat sendiri," Pamungkas sedikit mengancam.


Ratih melirik membuang kekesalannya, namun tak sengaja ia melihat tangan suaminya yang masih di hiasi perban, ia penasaran.. ingin bertanya, tapi mengingat kata kata Hendra, di urungkan niatnya, buat apa pikirnya, toh Sekar lebih di butuhkan dari dirinya.


Perempuan itu berjalan keluar,


" di jemput mbak Ruhiyat?" Pamungkas yang masih mengenakan handuk saja itu mengikuti langkah Ratih.


Setelah istrinya berangkat semakin Pamungkas tak tenang.


Entah sudah berapa batang rokok yang ia bakar,

__ADS_1


Ia tak henti memikirkan perbuatannya pada istrinya beberapa hari yang lalu.


Bagaimana kalau istrinya itu kecewa padanya, bagaimana kalau ia berpikir untuk mencari laki laki yang lebih lembut? dan tidak kasar? bagaimana kalau ini, bagaimana kalau itu? banyak hal yang terus berputar putar di kepalanya.


__ADS_2