Om Pamungkas

Om Pamungkas
kata kata Arga


__ADS_3

Ratih diam diam membuat janji dengan Fakih dan istrinya,


Ia yakin Fakih tau banyak hal tentang suaminya, karena Pamungkas kemana mana hanya dengan Fakih.


" Kau pamit kemana?" tanya istri Fakih,


" pamit mencari kebutuhan kosmetikku mbak.." jawab Ratih.


Fakih yang sedari tadi duduk tenang, akhirnya bicara,


" kau mau bertanya kan? Bertanyalah.." Fakih memandang istrinya lalu beralih memandang Ratih yang terlihat tidak tenang itu.


" Apa mas tau penyebab luka di tangan suamiku?" tanya Ratih hati hati.


" tau," jawab Fakih,


" kenapa?"


" kau belum tau kondisi mantan suamimu?",


Ratih sudah mengira, tapi mendengar langsung dari mulut Fakih membuatnya benar benar kehilangan kata kata.


Lama situasi hening, Fakih memberi kesempatan Ratih untuk menerima kenyataan itu perlahan.


" Bukan sepenuhnya salah suamimu.." istri Fakih mengelus pundak Ratih,


" kata mas Fakih, mantan suamimu yang memprovokasinya.." imbuh istri Fakih.


Ratih menatap Fakih, dsn Fakih mengangguk,


tidak ada rencana suamimu untuk memukul Arga," ujar Fakih.


" Bagaimana suamiku tau kalau Arga sedang di malang?"


" itu hal yang mudah di cari jika kami memang menginginkannya.." jawab Fakih tenang,


" jadi mas Pamungkas sengaja mencari tau?"


" benar, dia kesal karena dia berkali kali menemuimu padahal sudah berjanji tidak akan pernah menemuimu lagi pada Pamungkas,"


" jadi? Mas dan suamiku??"


" ya, aku sengaja menemaninya agar dia tidak lepas kendali,


kami ajak Arga bicara baik baik melihat ia sudah menjadi seorang ayah tunggal..


suamimu masih menahan diri meski sesungguhnya itu sulit baginya,"


" suamiku bicara apa mas?"


" hanya hal hal yang sepantasnya di katakan oleh seorang suami,

__ADS_1


Jangan mendekatimu, ataupun mengawasi mu dari jauh,


karena kesabarannya sudah amat tipis.."


Jelas Fakih masih tetap tenang.


" Tapi rupanya Arga itu tipe yang sulit di ajak bicara baik baik..


dengan percaya dirinya dia berbicara tentangmu, tentang hubungan kalian di masa lalu, bahkan berkata kalau sesungguhnya kalian masih saling mencintai dan Pamungkas hanya menjadi sebuah penghalang untuk kalian kembali bersama.."


Ratih tercekat, sekarang ia tau apa penyebab sikap suaminya bertindak kasar padanya pada malam itu.


" Dan yang paling menyakitkan hati Pamungkas adalah..


Ahh.. aku bahkan ingin memotong lidahnya, tapi hukum membuatku menahan diri.." wajah yang sedari tadi tenang terlihat dirayapi emosi.


" Memangnya dia bicara apa mas??" tanya Ratih takut mendengarnya, tapi ia harus tau.


Fakih beradu pandang sejenak dengan istrinya, seperti sungkan dengan apa yang akan di bicarakan.


" Mantan suamimu bilang Pamungkas tidak akan bisa membahagiakanmu,


Karena dia hanyalah pelarianmu,


meski tubuhmu bersama Pamungkas, tapi hatimu tetap menjadi milik Arga,"


Jelas Fakih membuat Ratih sedih dan malu,


" Aku tau benar kalau apa yang dia ucapkan adalah sisa dari masa lalu kalian,


tapi rupanya tidak dengan suamimu,


Tanpa aba aba dia menyambar Arga dan menghajarnya habis habisan,


Aku bahkan kesulitan untuk menghentikan luapan amarah suamimu.." Fakih menunjukkan bekas lebam yang sudah mulai menghilang di lengannya,


" Pamungkas melemparku karena menghalanginya, entah aku terbentur apa," Fakih kembali ke setelan awal, kembali tenang.


" Sekarang kau tau, kesabaran suamimu ada batasnya,"


Ratih mengangguk, ia tertunduk dalam.


" Maafkan aku, sudah membuat kalian repot, padahal.." kalimat Ratih terhenti,


" Pamungkas sudah kuanggap adikku sendiri, tidak ada senior junior diantara kami, jangan merasa terbebani..


sudah seharusnya aku turut campur dan mencegah Pamungkas agar dia tidak berbuat fatal,"


" lalu? bagaimana jika ada laporan?" Ratih menatap Fakih, bertanya dengan cemas.


" Biar aku yang mengurus semua itu, kukira kedua orang tua Arga sudah cukup paham apa yang membuat putranya di perlakukan seperti itu,

__ADS_1


Suamimu sudah menahannya sejak awal pernikahan kalian lho..",


Ratih mengangguk,


" jadi apa saya bisa tenang?" tanyanya kemudian,


" tenanglah, aku tidak akan diam saja..


Justru sekarang tugasmu yang berat..


suamimu sepertinya terdampak kata kata Arga,


Ia banyak melamun dan berpikir tidak jelas saat di kantor..


Aku takut itu akan menjadi masalah untuk kalian ke depannya,"


" Arga memang pantas di pukul.." gumam Ratih lalu mengatupkan kedua bibir menahan kesal.


" Ada lagi yang di katakan Arga, aku lupa detailnya, karena Arga bicara saat Pamungkas memukulnya,


Kalau tidak salah..


Dia bilang..


Kau pasti bahagia andai bisa mengandung anak Arga, karena itu yang kau inginkan sejak dulu,


itu obsesimu, apa benar?"


" Aku masih waras mas, suamiku jauh lebih baik darinya, kenapa aku ingin melakukan hal hal yang tidak sepantasnya?


Yang dia bicarakan adalah masa lalu yang sudah lenyap..!"


Fakih menatap istrinya,


" Sekarang.. kau harus menunjukkan segala kasih sayangmu pada suamimu, agar suamimu tau kalau apapun yang di katakan Arga hanya omong kosong dan masa lalu..


Suami kita memang di tempa dengan baik di pendidikan, karena mereka di siapkan untuk menjadi seorang pemimpin..


tapi mereka tetap manusia biasa,


Cinta membuat yang logis menjadi tidak logis, yang sehat bahkan bisa menjadi sakit..


Mungkin dari luar gagah dan kuat, tapi hatinya tetap lemah saat berhadapan dengan orang yang di cintainya..


baik baiklah dengan suamimu,


Dia laki laki yang baik,


dimana lagi bisa kau dapatkan yang seperti dia Rat.." istri Fakih menambahi, sembari terus mengelus pundak Ratih.


" Saat diserang cemburu, bahkan seorang kakek kakekpun bisa menjadi anak kecil.. kau pernah dengar itu kan?" istri Fakih tersenyum penuh pengertian.

__ADS_1


__ADS_2