Om Pamungkas

Om Pamungkas
aku atau dia


__ADS_3

Ratih masuk ke dalam kamar dengan langkah hati hati, ia menaruh tasnya di meja dengan perlahan pula.


Melihat Pamungkas yang lelap tidurnya, perempuan itu tidak tega jika harus membangunkannya.


Seperti biasa, ia tertidur seperti bayi tak perduli celana pendeknya tersingkap naik.


Diam diam Ratih memperhatikan bekas luka di tangan suaminya,


Kata Fakih luka itu ada karena Arga beberapa kali menghindar dari pukulan Pamungkas, sehingga Pamungkas memukul benda benda di sekitarnya.


Nafas Pamungkas terdengar jelas di telinga Ratih,


Sepertinya suaminya itu lelah,


entah apa yang di lakukannya seharian ini,


biasanya ia akan langsung berangkat ke bengkel setiap sabtu, tapi nyatanya laki laki itu malah tidur lelap dirumah,


Memamerkan dada dan otot perutnya.


Ratih bukannya keluar dari kamar, ia malah duduk tenang disamping jendela.


Di pandangi bingkai suaminya,


Bingkai menawan yang jarang ia sadari dan syukuri.


kakinya suaminya yang jenjang, bahu suaminya yang lebar, juga rambut lurus yang di potong tipis itu,


membuat garis wajah dan hidung Pamungkas terlihat semakin tajam dari samping.


Wajah tegas yang cukup menawan, keluh Ratih dalam hati, entah kenapa perasaan hangat memenuhi hatinya.


Andai laki laki itu selalu tampak tenang dan lugu seperti ini, harap Ratih.


Suaminya itu tiba tiba saja bergerak, tubuhnya berbalik ke arah Ratih.

__ADS_1


Namun tidak ada tanda tanda laki laki itu terbangun, bahkan nafasnya masih terdengar jelas saking lelapnya.


Ratih mengulas senyum, entah senyum apa itu, yang jelas ia senang sekali melihat suaminya yang sedang lelap itu.


Beberapa menit kemudian, saat Ratih sedang sibuk mengamati suaminya dengan senyum yang tersungging di bibirnya,


tiba tiba saja Pamungkas membuka matanya.


Begitu terbuka mata Pamungkas langsung menemukan istrinya yang sedang tersenyum sembari memandanginya.


Mata itu lurus memandang Ratih,


Sementara Ratih yang terkejut segera melihat ke arah lain, entah kenapa ia malu.


Pamungkas bangkit perlahan, menggosok wajahnya yang lesu, kantuknya belum sepenuhnya hilang.


" Sudah beli bedaknya?" suara yang berat itu membuat Ratih menatap lagi suaminya.


" Sudah.." jawab Ratih pelan,


Ratih menatap suaminya, tatapan laki laki itu masih sama seperti kemarin,


dingin,


tentu saja, siapa yang tidak marah, jika dirinya ada ada posisi suaminya, dia juga pasti tidak terima.


Tanpa sadar Ratih menghela nafas berat,


" kenapa menghela nafas sembari melihatku?" tanya Pamungkas rupanya mendengar helaan nafas istrinya.


" Mas..?" Ratih bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah suaminya.


" Kenapa ya aku salah terus?" Ratih berdiri di hadapan suaminya yang bertelanjang dada itu.


" Tentu saja aku yang salah terus, tidak pernah benar," jawab Pamungkas pelan,

__ADS_1


Ratih terdiam,


dan keduanya berpandangan,


Sesungguhnya sama sama rindu,


Sesungguhnya sama sama sayang,


Tapi kata kata Arga masih terngiang jelas di telinga Pamungkas.


" Maumu bagaimana?" tanya Pamungkas kemudian, ia terlihat menekan perasaannya.


Ratih masih diam sembari menatap lekat suaminya,


" Jangan diam, jawab saja maumu bagaimana?" lanjut Pamungkas.


" Tidak bisa rumah tangga kita seperti ini terus, aku kesini, kau kesana, aku bisa mengikuti sikapmu yang bagaimanapun,


tapi aku tidak sanggup jika selalu di ganggu oleh pihak ketiga,


Jadi pilih saja, aku atau dia?" tenang namun tegas, Pamungkas menguasai perasaannya dengan baik,


Sesakit apapun hatinya, ia akan menghargai pilihan istrinya, tekad Pamungkas.


Kamar itu hening tiba tiba, senyap.


Ratih diam sediam diamnya, padahal ia bermaksud untuk bicara pelan pelan dan meminta maaf pada suaminya.


Ia sungguh kecewa, karena suaminya sudah terpengaruh oleh kata kata Arga,


Ia benar benar kecewa, merasa tidak di beri kesempatan dan tidak di pahami.


Perempuan itu berbalik, keluar dari kamar begitu saja.


" Jangan menghindar? Ratih?" Pamungkas mengejar langkah istrinya yang berjalan ke arah pintu keluar, namun langkah Pamungkas lebih cepat, ia mendahului Ratih dan menutup pintu itu lalu menguncinya.

__ADS_1


__ADS_2