Om Pamungkas

Om Pamungkas
tenanglah


__ADS_3

Semua orang sibuk menenangkan Pamungkas.


Ana tak melepaskan tangannya dari punggung Pamungkas.


Memberi nasehat dan menepuknya perlahan agar amarah yang sudah hampir meledak itu di redam.


" Kau orang hebat, jangan turunkan harga dirimu..


ini pesta pernikahanmu.." ujar Ana pelan, Sementara Ratih sudah di bawa ke kamar hotel untuk ganti baju.


" Pam... kau tenanglah, jangan kau terbawa emosi, kasihan istrimu.. jangan merusak malam pengantin kalian.." Suara Frans disampingnya.


Sementara yang lain hanya bisa duduk memperhatikan Pamungkas yang matanya itu memerah saking marahnya.


Terlihat tangannya mengepal, rahangnya mengeras.


" Kau mencintai Ratih kan Pam..? kau menyayanginya..? kalau iya sadarkan dirimu.. bagaimana kau bisa menjaga Ratih jika sesuatu menimpamu nanti?" ujar Ana lagi.


Mendengar nama Ratih Pamungkas langsung tertunduk, dia menutup wajahnya dengan tangan kanannya.


Setelah lama diam, akhirnya Pamungkas mengangkat kepalanya,


" kalian lepaskan aku, aku baik baik saja.." ujarnya,


Tapi orang orang di sekitarnya masih mengerumuninya.


" Aku tidak akan berlari keluar dan membunuh seseorang, jadi menjauhlah,


kalian membuatku sulit bernafas." ujarnya lagi membuat orang orang di sekitarnya saling menatap.


" Kalian menyingkirlah.." suara Adi tenang.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar Ratih menangis,


ia di larang keluar oleh Yunda dan Gita.


" Sudah, disini saja, jangan keluar, situasi sedang kurang kondusif?!" ujar Yunda memegangi Ratih yang sejak tadi ingin keluar.


" Aku ingin Keluar Nda? aku takut om ku dan Arga berkelahi??"


" memangnya kalau mereka berkelahi kau bisa apa?!" sentak Yunda membuat Ratih terdiam.


" Sudahlah Rat, Arga sudah di ambil orang orang tuanya, dan semua orang sedang menenangkan suamimu, jadi kau diam saja disini?!" Suara Ayu juga keras.


" Semua orang sedang cemas, jadi kau jangan seperti ini?!" Yunda menambahi.


" Lebih baik setelah suamimu masuk kau kompres saja hidungnya, karena kulihat hidungnya sudah mulai sedikit bengkak.


Ratih diam tak menjawab teman temannya.


Ia juga kecewa, karena Arga masih saja tidak mengijinkannya untuk menempuh hidup baru.


Dengan gerakan pasrah Ratih duduk di depan kaca, menatap wajahnya sendiri yang lusuh karena air mata.


Sementara ketika Arga sudah sampai dirumah,


" Mas? kenapa ini mas?!" Tias menggoyang goyangkan tubuh Arga yang terbaring lemas di atas sofa.


" Kau ini bagaimana jadi istri?! tidak becus!" sentak papa Arga,


" memangnya mas Arga kenapa? kenapa juga di wajahnya banyak luka??"


Tias masih belum mengerti.

__ADS_1


" Dia datang ke pesta pernikahan Ratih dan memukul suami Ratih!


untung saja dia tidak mati di keroyok teman teman suami Ratih itu!!" suara Papa Arga menggema saking kerasnya.


" Sudah puas kau menghancurkan Arga Tias? setelah kehilangan istrinya, sekarang dia terancam di hukum, bahkan mungkin bisa di pecat..!" suara tajam mama Pamungkas menyayat hati.


" Kau hanya membawa petaka bagi keluarga kami, tidak hanya merusak rumah tangga kau juga merusak segalanya! bercerailah setelah anak ini lahir! kami tidak sudi mempunyai menantu sepertimu!" tegas mama Arga lalu berjalan pergi.


Tias terdiam, ia tak bisa lagi berkata apapun menerima kebencian sebesar itu dari Kedua orang tua Arga.


" Jangan menganggap kami jahat, tapi kaulah yang memulai ini semua! sekarang urus Arga! panggilkan dokter!" tegas papanya.


" Kalian berdua hanya bisa membuatku malu saja!" tegas papanya membuang muka lalu mengikuti langkah istrinya.


Tias tertunduk menahan tangis, dalam kondisi hamil begini bagaimana bisa ia memindahkan tubuh suaminya ke dalam kamar.


" Ayo bangun mas.. kita pindah ke kamar..?" ujar Tias berusaha menyadarkan suaminya.


Namun bukannya sadar dan bangkit, Arga malah bergumam,


" Teganya kau Rat.. teganya kau menikah dengan orang lain...??" suara Arga merengek.


Tias membeku di tempatnya, hanya air matanya yang jatuh merasakan sakit hati yang luar biasa.


" Aku masih mencintaimu Rat... sungguh Rat.. sungguh...,


Percayalah Ratih...


Ratih...??" suara Arga menyayat hati Tias, menusuk nusuk nuraninya.


Sedih, tak terima, nelangsa, terhina, semua ia dapatkan.

__ADS_1


Bagaimana bisa, setelah semua yang ia lakukan, Arga masih saja mencintai Ratih?.


__ADS_2