
" Ratih jatuh mbak.. mas.." Pamungkas menelfon kedua orang tua Ratih,
tidak membutuhkan waktu lama, Adi, Ana, dan Hendra segera datang.
" Owalah nduk, seng ati ati dek embong..( yang hati hati dijalan..)" ujar Ana mengusap kepala putrinya.
Ratih yang sudah minum obat itu tampak mulai mengantuk, meski wajahnya masih kelihatan pucat.
Pamungkas berjalan keluar, kemudian duduk di ruang tamu, dimana Adi duduk sedari tadi.
" Kulitnya terkelupas, paling parah di bawah pergelangannya.." ujar Pamungkas,
" Apa kata dokter tadi?"
" katanya hanya luka luar, melihat posisi jatuhnya tidak ada yang perlu di khawatirkan,"
"Tapi tetap setelah membaik bawa dia periksa menyeluruh di rumah sakit, jaga jaga.." sahut Adi,
" benar mas.. itu pasti, tapi untuk sekarang saya tidak tega membawanya kemana mana.."
" anak itu memang tidak kuat sakit, sabarlah.." Adi menghela nafas berat.
" Kalian tidak bertengkar kan?" tanya Adi tiba tiba.
Pamungkas tertunduk,
Hendra keluar dari kamar,
" ayo pulang pa, Ratih sudah tidur.." Hendra mengajak papanya pulang,
" Ya sudah, biar besok mbak mu kesini Pam.." Adi bangkit,
" ndak usah mas, biar saya ijin saja.." Pamungkas ikut bangkit.
" Biar mbak kirim makanan Pam," Ana keluar dari kamar,
" saya bisa masak mbak.."
" ah, tetap saja.. biar aku kesini besok dengan mak Karto.." Ana bersikeras ingin datang besok.
Setelah berbincang sebentar mereka bertiga pulang,
sementara pamungkas tidak bisa tidur nyenyak.
Sesekali istrinya itu mengeluh dengan mata tertutup.
Pamungkas bangun, di tatapnya Ratih yang tertidur disampingnya,
" pasti perih.." ucap Pamungkas dalam hati, tak ada yang bisa laki laki itu lakukan selain menunggui istrinya itu sampai pagi.
Ratih membuka matanya, redup sinar matahari menembus jendela kamarnya.
Di gerakkan tangan dan kakinya bermaksud untuk bangun, tapi..
" aduhh..." keluhnya, entah kenapa badannya serasa remuk, apa karena ia terlempar ke aspal.
__ADS_1
Di perhatikan dirinya, hanya memakai kaos singlet dan celana pendek,
Ia meraba kembali ingatannya tadi malam, karena kaosnya kecil kecil dan sempit, suaminya memakaikan kaos singletnya yang besar itu, agar tangan Ratih tak tergores kain.
Tampak lucu sesungguhnya, tapi tak apalah.. rasanya nyaman di pakai.
" Mau kemana yang? ke kamar mandi?" Pamungkas tiba tiba masuk ke kamar dengan raut khawatir.
Ratih tak segera menjawab, ia masih bingung melihat suaminya yang sudah se siang ini tapi masih dirumah, laki laki yang beberapa hari ini tidak banyak bicara dan memandangnya itu tiba tiba saja hangat kembali.
" Yang?" tanya Pamungkas yang hanya mengenakan celana pendek, dan bertelanjang dada itu berdiri tepat di samping Ratih.
" Mau ke kamar mandi?"
Ratih mengangguk,
" kubantu ya?"
" tidak aku bisa sendiri,"
" Lututmu apa bisa di tekuk? Pasti sakit.."
" bisa kutahan,"
" sebegitu takutnya tubuhmu kulihat? padahal aku sudah hafal tiap lekuknya.." gumam Pamungkas sedikit kesal karena istrinya menolak bantuannya.
Siang menjelang, Pamungkas membuka makanan yang diantar oleh ibu mertuanya sekaligus kakak iparnya.
" Ayo maem (makan) yang.." Pamungkas membawa sepiring makanan, berjalan ke arah istrinya yang duduk bersandar di sofa ruang tamu.
" Ini masakan mama.. Di suapi ya?" Pamungkas duduk di hadapan istrinya.
Pamungkas bangkit, masuk ke dalam kamar, lalu keluar dengan cardigan istrinya yang longgar.
Setelah memakaikan cardigan barulah Pamungkas berjalan keluar membukakan pagar untuk Iwang dan Ria.
" Saya dengar Ratih jatuh mas, karena itu saya ikut Ria dan Rama kemari.." tanya Iwang sembari bersalaman dengan Pamungkas.
" Yah.. Pulang dari cafe itu, jatuh.. ayo masuk, kebetulan dia baru selesai makan.." Pamungkas menyuruh tiga orang itu masuk.
Iwang melihat luka yang terkelupasnya lumayan dalam di lutut Ratih.
" Kau kencang ya naik motornya Rat?" tanya Iwang saat sudah duduk.
" mbak Ratih ngelamun iki koyok e..
Soalnya seharian di cafe ya ngelamun terus.." Ria menimpali,
" iya, mbak Ratih kayak banyak melamun.." Rama menambahi.
Mendengar itu Pamungkas diam, perasaannya tidak nyaman.
" Mikir apa tho Rat.. Suami pegawai negri, meski tidak bekerjapun kau akan di cukupi..
Ndak usah terlalu ngoyo ngurusi cafe..
__ADS_1
Capek ya istirahat.." Iwang menyela,
" bukannya begitu mas..?" Iwang melempar senyum pada Pamungkas yang sedikit murung.
" Iya.. dia dirumah aku justru lebih senang,
tapi karena itu hobinya.. yah, aku tidak bisa mencegah.." jawab Pamungkas di sertai helaan nafas di akhir kalimat.
" Kalian urus dulu ya cafe.." ujar Ratih pada Ria dan Rama,
" di tutup saja mbak.. tidak apa apa.." jawab Ria,
" lho ya jangan, kalian juga butuh pemasukan.. Iya kalau aku hanya sehari dua hari libur, kalau seminggu dua minggu?" ujar Ratih.
" Sudah, kalian buka saja seperti biasa, nanti kalau ada kesulitan jangan ragu menghubungiku," Pamungkas tiba tiba menyela.
Ratih memandang suaminya, ia tidak menyangka akan ada kalimat semacam itu yang keluar dari mulut Pamungkas, padahal kemarin kemarin laki laki itu seperti tidak senang dengan kesibukannya di cafe.
" Iya, nanti kalau aku pulang mengajar kubantu Ria.." Iwang ikut menawarkan bantuan.
Sore menjelang, Ratih yang bersikeras tidak mau di bantu mandi menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi.
Pamungkas menunggu dengan sabar di atas tempat tidur.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi Pamungkas bangkit dan mendekat.
Handuk yang menutupi tubuh Ratih tiba tiba terjatuh saat Ratih berjalan keluar.
Pamungkas mengambil handuk yang sudah jatuh sampai ke kaki itu.
Wajah Ratih bersemu merah saat suaminya itu memakaikan handuk itu kembali ke tubuhnya.
" Dulu, waktu kau masih SD, kau sering berlarian tanpa baju di depanku," Pamungkas mencium pipi istrinya.
" Aku sakit.." ucap Ratih dengan wajah yang sudah panas karena malu.
" Kau tidak sakitpun aku tidak akan menganggumu kalau kau tidak mau.." Pamungkas mengangkat tubuh istrinya tanpa bertanya dan mendudukkannya di atas tempat tidur.
" aku hanya ingin bilang, kau tidak perlu malu, tidak perlu sungkan..
aku melihatmu tumbuh dewasa, apa yang kau ragukan?
Mintalah bantuan sebanyak mungkin dariku, sandarkan tubuhmu padaku jika lelah.. Aku bersedia menjadi apapun.." ujar Pamungkas mengecup bibir istrinya itu.
" Aku minta maaf.. sepertinya hal ini terjadi karena tekanan dariku..
Aku memang cemburu.. hatiku sakit,
tapi lebih sakit lagi melihatmu begini.." ujar Pamungkas pelan.
" Hentikan.." suara Ratih lirih,
Pamungkas mengerutkan dahinya,
" kau masih marah padaku?" tanya Pamungkas menghela tangan istrinya dan menciumnya.
__ADS_1
" Hentikan, kalau mas menyentuhku terus seperti ini..
Rasanya aku tidak tahan.." ujar Ratih lirih sembari membuang pandangannya ke arah lain.