
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Pamungkas sudah melakukan proses pengajuan, karena Ratih pernah menjalani sebelumnya, jadi prosesnya lebih cepat dan tidak ribet,
selain itu, Pamungkas berusaha agar istrinya yang sudah sah secara hukum namun belum secara agama itu tidak terlalu banyak datang menghadap.
Ia tau betul bagaimana menjaga mental Ratih,
apalagi dulu Ratih juga pernah berkegiatan di tempat ini sebagai istri orang lain.
Seminggu menjelang pernikahan,
calon pengantin tak di ijinkan bertemu selama tujuh hari.
Adi dan Ana masih sangat memegang budaya jawa, mereka tidak menerima kata mitos, apa yang mereka katakan harus Ratih dan Pamungkas lakukan.
Meski ini pernikahan kedua, Adi tidak mau asal saja, ia berusaha berbuat yang terbaik untuk Pamungkas dan Ratih.
Namun Pamungkas menginginkan pernikahan yang biasa saja.
Yang hanya di hadiri keluarga dan teman dekat saja.
Setelah berunding akhirnya adi mengalah,
pesta tetap berlangsung namun jumlah undangan di kurangi.
" Awas kalau kalian tidak datang?!" ancam Pamungkas pada Frans, Derry dan Rafael.
" Kenapa kau mendadak sekali?!" protes Rafael,
" aku terlalu sibuk, sampai lupa.." suara Pamungkas terlihat lelah.
" Benar benar kau ini ya?! masa kita serempak tinggalkan kantor di hari yang sama? apa kata komandan?"
" Ah.. aku tidak tau bagaimana kalian bicara, pokoknya datang, kalian sudah pernah berjanji padaku dulu,
siapa yang mau ingkar?
kau? Frans? atau Derry?"
Rafael diam, tak menjawab.
" Ajak anak istrimu, sudah ku siapkan kamar hotel untuk kalian, dua hari saja..?" Pamungkas begitu menginginkan kehadiran teman temannya.
Setelah menelfon teman temannya Pamungkas segera bangkit dari kursi.
Dia meneruskan kesibukannya mengecat kamarnya.
" Ruang tamu juga pak?" tanya pak Agus yang baru saja selesai mengecat ruang tengah.
__ADS_1
" ruang tamu biarkan putih pak" ujar Pamungkas memegang kuas.
" sisanya banyak ini pak?"
" sisanya taruh di gudang, bapak sekarang pulang saja, ini bisa saya atasi sendiri kok?"
" walahh.. saya bantu saja pak??" pak Agus tidak enak,
" Ndak usah pak, biar saya yang cat kamar saya sendiri.." Pamungkas tersenyum,
" ibu suka warna ungu tho pak?" tanya pak Agus melihat dinding kamar itu masih setengah di cat warna ungu.
Pamungkas mengangguk, senyumnya terlihat lega.
" Pak.. nanti, minta bantuannya ke depannya ya pak.. saya dan istri pasti butuh banyak bantuan bapak.." ucap Pamungkas kalem, membuat pak Agus ikut tersenyum, namun laki laki itu hanya mengangguk.
" Istri saya beda usia sepuluh tahun dengan saya pak.. jadi kalau dia sedikit manja dan kurang mandiri di maklumi nggih pak.." imbuh Pamungkas.
" Owalah nggih pak... tugas saya disini memang membantu njenengan, ndak usah sungkan kalau mau suruh suruh saya.." ujar pak Agus mulai memahami, majikannya ini, benar benar sayang pada perempuan yang akan menjadi nyonya rumah ini.
Pak Agus menuruti perintah Pamungkas, dia pulang, rumahnya tak begitu jauh, berjalan kaki beberapa menit saja.
Disana sudah ada istrinya yang menunggu dirumah.
" Kok wes mole pak? ( kok sudah pulang pak?)" tanya istrinya membuka pintu.
" Iyoo.. pak Pamungkas nyuruh pulang e buk.." pak Agus duduk di ruang tamu rumahnya, tak ada kursi, hanya karpet berwarna hijau dan tipis yang ia duduki.
" durung.. ( belum), bapak ngotot mau ngecat sendiri kamarnya.."
" owalah.. ya biarkan pak, yang penting pekerjaan yang lain sudah selesai..
namanya juga mau jadi pengantin pak,
mau buat istrinya senang pasti.."
pak Agus hanya tersenyum,
" kopine endi tho buk? ( kopinya mana buk?)" tanya laki laki itu sembari tersenyum pada istrinya.
Pamungkas mengikuti langkah Ana dari lantai satu sampai lantai dua, tangannya penuh dengan barang barang yang akan ia serahkan pada Ratih untuk peningset.
Dari mulai dari pakaian dalam, bahan kain kebaya, jarik, bedak, tas, dan keperluan perempuan lainnya.
" Apa yang belum Pam?" tanya Ana terlihat lelah,
" Sandal dan sepatu mbak.." jawab Pamungkas tau kakak iparnya yang sudah tidak muda lagi itu lelah.
" Mbak tunggu disini saja, sambil minum atau makan,
__ADS_1
biar saya yang cari.." ujar Pamungkas menaruh belanjaannya di atas kursi di salah satu food court.
" Iya, mbak haus.."
" lha iya mbak, sampean duduk disini saja sambil makan.." ujar Pamungkas tak menunggu jawaban, ia segera berjalan ke salah satu toko yang kata Ana adalah merk favorit Ratih.
Kehadiran Ana sangat membantu, karena Pamungkas benar benar sendiri, tidak ada Ayah atau ibu yang mengarahkan dan membantunya,
ia tidak tau barang apa saja yang harus du beli dan pantas di berikan untuk peningset.
Ini pernikahan pertamanya, dan harus menjadi yang terakhir.
Ia berusaha memberi yang terbaik untuk Ratih dengan segala keterbatasannya.
Tak perlu waktu lama bagi seorang Pamungkas,
setelah ia masuk ke toko, lima belas menit kemudian ia keluar dengan sandal dan sepatu yang sudah ia beli.
" lho? uwes (sudah) Pam?" tanya Ana kaget karena Pamungkas begitu cepat berbelanja.
" Sudahlah mbak, buat apa lama lama.." jawab Pamungkas duduk tak jauh dari Ana.
" Lho? pasti pas kan ukurannya?"
" pas mbak, tiga puluh tujuh toh?"
" iya, tapi kok cepet?"
" pilih yang paling bagus dan sesuai, lalu bungkus.. untuk apa lama lama memilih mbak.. buang waktu.."
Ana menggeleng pelan,
" Benar benar kau ini ya.. sat set..
tapi kenapa perkara cinta kau tidak?"
" mbak ini.." jawab Pamungkas masih malu,
" iya, coba kau dari dulu jujur, tidak perlu kan sampai menunggu Ratih janda dulu?" goda Ana.
" mba Ana ini.. bukankan sudah jalannya begini mbak,
bagiku tidak penting awalnya mbak..
yang penting akhirnya..
sama seperti ibuku,
tidak penting siapa yang dia nikahi di awal, yang penting adalah siapa yang membahagiakannya di akhir.."
__ADS_1
jawaban Pamungkas membuat Ana tertegun.
" Anak ini..." keluh Ana dalam hati, dia selalu mengingat tiap jengkal kasih sayang dan perhatian yang ayah tirinya berikan.