
Beberapa minggu kemudian hal itu terjadi lagi, kebetulan Ratih sedang tidak ke cafe, ia tiduran karena dirasa tubuhnya sedikit kurang sehat.
" Nanti pulang aku langsung kerumah mbak Ana ya? Cuma sebentar.." pamit Pamungkas yang sudah bersiap berangkat, ia terlihat rapi dan tampan seperti biasanya.
" Oh iya, aku dapat rejeki.." ujar Pamungkas mengeluarkan amplop putih dari tas nya,
" Sebenarnya kemarin mau kuberikan, tapi lupa," Pamungkas menyerahkannya pada Ratih yang bangkit dan duduk di atas tempat tidur.
Ratih membuka amplop itu, isinya uang seratusan, cukup tebal, entah dua atau tiga juta nominalnya.
" Uang apa?" tanya Ratih pelan,
Pamungkas tersenyum dan mencium kening istrinya.
" Itu rejekimu yang.. Sana keluar belanja.." Pamungkas terlihat senang, namun tidak dengan Ratih.
" Mandi, ganti baju.. terus belanja ya?" ujar Pamungkas lagi, ia masih belum sadar kalau istrinya itu tidak senang.
" ini uang sogokan?" tanya Ratih tiba tiba sembari menaruh uang itu kembali ke dekat Pamungkas.
Pamungkas terlihat kaget,
" Uang sogokan bagaimana sih Rat? Ini uang halal, kudapatkan dari bisnis beberapa minggu ini.." jelas Pamungkas.
" maksudnya sogokan untukku." Ratih kembali berbaring, membelakangi Pamungkas.
Pamungkas terdiam sejenak,
" Untuk apa aku menyogokmu? Memangnya kau pejabat yang?" tanya Pamungkas kemudian, ia masih menghiasi wajahnya dengan senyuman lembut.
" aku memang bukan pejabat, tapi aku bisa menghalangi langkahmu, kau mau kemana sih mas?" Ratih kembali duduk dan menatap suaminya.
" ke bengkel? Belanja? Mengantar Sekar?" kalimat yang di tahan tahan selama berminggu minggu itu akhirnya keluar.
" Pakai acara memberiku uang, menyuruhku belanja, kenapa? Supaya mas bebas??" Ucapan Ratih tajam.
" Astaga Rat, dari mana pikiranmu itu?" tanya Pamungkas tidak habis pikir, ia benar benar terkejut.
" Kan? Aku sudah mengira, pasti kata kata itu yang keluar,"
__ADS_1
" ya memang iya, pikiranmu ngawur saja, pakai acara menyogok, buat apa aku menyogokmu, kau itu istriku??
Aku keluar tidak dengan sekar atau hendra, aku memang mau melihat mobil teman mas Adi setelah pulang dinas, kau susul saja kalau tidak percaya Rat?"
Jelas Pamungkas..Ratih diam tak menjawab, ia kembali merebahkan dirinya dan membelakangi Pamungkas, entah kenapa emosinya tak terkontrol hari ini, rasa kesal menumpuk di dadanya.
Melihat kelakuan istrinya pamungkas hanya bisa menghela nafas, percuma rasanya marah, jadi laki laki itu bangkit.
" Aku tidak mau ribut, uang tetap di bawah kakimu, terserah mau kau apakan,
Aku berangkat ke kantor dulu." ujar Pamungkas berjalan keluar kamar begitu saja meninggalkan Ratih yang tidak bergerak dari posisinya.
Setelah terdengar suara motor Pamungkas menjauh barulah Ratih terduduk kembali.
Di hela nafasnya berkali kali, menahan air matanya yang mulai menggenang.
Entah dari mana munculnya kekesalan di hatinya, tubuhnya sedang tidak sehat, dan ketika mendengar suaminya meminta ijin untuk lagi lagi pulang terlambat bayangan Sekar langsung menyerangnya.
Jangan jangan mereka keluar berdua lagi pikirnya.
" istriku aneh beberapa minggu ini, ucapannya tajam, dan tatapannya tidak ramah,
Sikapnya benar benar membuatku heran,
Seakan akan ingin menyalahkan aku?"
Ujar Pamungkas sembari menyandarkan punggungnya si kursi kerjanya.
" Apa ada pemicunya, kau berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan mungkin?" tanya rekan sekantornya yang sudah di rasa sangat dekat.
" apa? Paling paling aku sering pulang terlambat, tapi itu karena urusan bisnis..
Tidak besar, tapi hasilnya bisa untuk tambahan belanja istriku,
kukira dia akan senang, ehhh malah begitu.." Wajah pamungkas terlihat tidak bersemangat.
" Emhh.. Kau sudah dengar kalau Arga sedang di malang?" tanya si teman membuat ekspresi wajah Pamungkas sontak berubah menjadi tegang.
" kau dengar dari siapa?" tanya Pamungkas,
__ADS_1
" aku bertemu dengannya, kebetulan dia sedang kerumah lettingnya, rumah lettingnya hanya berjarak dua rumah dari rumahku," jelas si teman kantor.
Pamungkas diam,
" Kalian pindah yang jauh saja.. Bukannya bagaimana, Arga akan terus membayangi istrimu, kau marah percuma, kau pukuli dia percuma..
Saranku, tinggallah yang jauh.. Pindah ke medan kek, kalimantan kek..
Supaya rumah tanggamu tenang..".
Sedangkan dirumah, linda dan ayu datang berkunjung, mereka membawa beberapa makanan pesanan Ratih.
" Kau ini katanya sakit, tapi kok makan yang pedas pedas.." gerutu Linda melihat Ratih makan seblak pedas.
" sepertinya enak kalau makan pedas, pusingku hilang.." sahut Ratih, wajahnya memang sedikit pucat.
" kau sih, ribut terus.." ayu rebahan di sofa.
" kalau kau jadi aku memangnya tidak kesal?" tanya Ratih,
" ya kesal, tapi percuma memarahi suamimu,
Datangi saja perempuannya, sudah tau bukan bujang kok nempel terus?"
" tidak enak, karena kakaknya sudah menitipkan dia pada suamiku?"
" titip? Memangnya anak TK titip!" sahut ayu keras.
" Jangan sampai kau kecolongan lagi Rat! Suamimu itu sedang matang matangnya, perempuan mana yang tidak mau pada laki laki seperti suamimu?" imbuh ayu.
" Huss! Jangan jadi kompor Yu?!" potong Linda.
" Suami Ratih yang sekarang lebih cerdas dari pada cecunguk satu itu?!" timpali Linda.
" Cerdas, tapi kalau terus terusan di tempeli? Apalagi kata Ratih sikap suaminya lebih lembut dan tadi pagi memberi sejumlah uang belanja, tapi nanti ijin pulang terlambat.. Hayo??" Ayu menyahut lagi,
" ada beberapa tipe laki laki yang kalau selingkuh makin sayang pada istri, makin manis, dan uang belanjanya makin banyak.."
" Huss!! lambemu ( mulutmu ) lho yu?!! " linda melotot sambil mencubit keras paha Ayu.
__ADS_1