
Yunda terlihat berjalan terburu buru ke arah meja kasir,
" Rat?!" panggilnya keras, sampai sampai seisi cafe menatapnya.
" Kecilkan suaramu?!" Ratih melotot, matanya terlihat sembab.
" Lho? kau kenapa?" Yunda memandang wajah Ratih dengan teliti.
" Aku baik baik saja, ada apa kau buru buru begitu?" Ratih tidak ingin membicarakan permasalahannya.
" Benar kau tidak apa apa, apa jangan jangan?" Yunda ragu,
" jangan jangan apa?" Ratih menunggu Yunda bicara.
" Aku dengar.. Arga masuk rumah sakit," bisik Yunda,
Ratih menghela nafas pelan,
" Buat apa kau memberitahuku, aku sudah tidak ada hubungannya." sahut Ratih kesal.
" Dengar dulu, masalahnya dia masuk rumah sakit bukan karena sakit..?"
" lalu?"
" kalau kata mamanya sih tabrakan,
tapi kata pembantunya di habis di hajar orang?"
Mata Ratih melebar,
" di hajar orang?" tanyanya dengan suara lirih.
Yunda mengangguk,
" ini bukan gosip Rat, aku mendengarnya dari mulut yang terpercaya.." Yunda meyakinkan.
Ratih membisu, entah pikiran apa yang tiba tiba menyerangnya.
" Kubilang juga apa, biar dia rasakan, itu karmanya!" Yunda senang tapi juga gemas.
" kalau boleh tau kapan hal itu terjadi Yun?" tanya Ratih tiba tiba, tatapannya tidak fokus.
" Belum ada semingguan sepertinya rat, entah empat atau lima hari yang lalu.."
" jam nya?"
" wah.. mana aku tau, coba kutanya lagi ya nanti pada sumber terpercaya ku.." Yunda meringis, ia tampak senang sekali mendengar kabar buruk Arga. Berbeda dengan Ratih,
tak ada senyum sedikitpun di wajahnya, yang terlihat malah gusar dan takut.
Tentu saja Ratih takut, bagaimana kalau pelaku pemukulan itu ternyata suaminya.
Mungkin, jika semalam keduanya tidak bertengkar, Ratih tidak akan pernah berpikir kalau hal itu bisa saja di lakukan oleh suaminya.
Yah, siapa yang tau, apalagi luka di punggung tangan yang sudah berhari hari itu?.
Ratih mengatupkan bibirnya, ia cemas, bukan Arga yang ia cemaskan,
tapi suaminya,
__ADS_1
Bagaimana jika memang iya, dan bagaimana jika masalah ini jadi panjang,
apa yang akan terjadi?.
Ratih buru buru menemui Hendra di bengkel,
Meski kakaknya itu sedang sibuk kerja, ia menariknya ke ruangan yang biasa di gunakan Pamungkas.
" Suamiku? apa yang sebenarnya sudah di lakukan suamiku mas? ada apa dengan luka di tangannya itu?" tanya Ratih berhadapan dengan kakaknya yang memakai katelpak berwarna abu abu tua itu.
" Mana aku tau, dia datang kesini sudah begitu, memangnya kenapa?" Hendra balik bertanya,
" apa dia sudah memukul orang? apa itu luka karena di akibatkan ia sudah memukul orang?"
Hendra tak menjawab,
" sesama laki laki harusnya tau?!" tuntut Ratih.
" Harusnya iya," jawab Hendra pelan,
" harusnya iya?" ulang Ratih tak percaya kakaknya baru mengatakan hal ini.
" Harusnya kau juga peka sebagai istrinya,
entah siapa yang dia hajar,
yang jelas dia masih di penuhi amarah saat datang kesini,"
" mas diam saja?"
" aku tidak diam, dia menolak ku bawa kerumah sakit, karena itu aku panggilkan Sekar?"
" Aku ini adikmu? dan aku istrinya? Kenapa yang di panggil Sekar?!"
" karena om melarangku memberitahumu?!"
" kenapa saat kutanya mas diam saja?!"
" karena aku memang tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi?!" keduanya malah bertengkar.
" Kau kesini ingin mengajakku bertengkar? tidak capek? semalam bertengkar dengan suami? sekarang dengan kakakmu?" nada bicara Hendra menurun, ia menghela nafas berat dan menyingkirkan emosinya.
" Seharusnya kau tidak bertemu mantan suamimu tanpa sepengetahuan suamimu.." ujar Hendra,
Ratih kaget dengan ucapan Hendra, bukan membela atau menengahi, Ratih malah merasa di salahkan.
" Aku tidak bertemu dengan sengaja mas? mas kira aku mau bertemu dengan dia?!"
" lalu kenapa hal itu sampai terjadi dua kali?"
Ratih diam, ia bingung bagaimana harus menjelaskan.
" Seharusnya kau menghindar, bukan malah meladeninya bicara, apalagi sampai menggendong bayinya?
Aku ingin membelamu, tapi kenyataannya kau kurang tegas sehingga mengakibatkan suamimu salah faham?!
Dia merasa tidak kau hargai?!"
" aku tidak jujur karena takut akan ada masalah yang lebih besar mas? bukan karena aku suka bertemu Arga??" sanggah Ratih.
__ADS_1
" Jangan jangan benar yang di katakan om? Kau masih mencintainya?,
jangan jangan kau goyah saat ia menyerahkan bayi itu padamu?
Kudengar ibunya juga datang dan memohon kepadamu,
agar kau kembali pada Arga dan merawat putrinya dengan baik?"
Ratih tak senang mendengar itu,
" Omong kosong dari mana mas?!" mata Ratih berkaca kaca.
" Kukira itu bukan omong kosong, melihatmu yang tidak tegas dan slintutan begini aku juga pasti marah?!"
" aku tidak slintutan!"
" yah, kau slintutan, kau bertemu dengan orang orang yang seharunya tidak pantas lagi kau temui?!"
" kenapa aku yang di salahkan?"
" kau sudah cukup dewasa Ratih?!"
" tapi aku manusia biasa?!" sentak Ratih,
membuat Hendra tertegun.
Tiba tiba Hendra sadar kalau dirinya sudah terlalu menekan adiknya,
" mas tau benar kalau aku sangat tidak percaya diri menikah dengan om Pam,
dari awal aku merasa tidak layak untuk om yang untukku sangat sempurna..
Aku selalu berusaha bersikap dewasa dan bijak saat menjadi nyonya Pamungkas di kantor,
Aku bersikap seperti perempuan yang paling percaya diri karena pendidikanku tak kalah dari lainnya,
tapi setelah dirumah, aku kembali pada keraguanku,
Banyak perempuan yang memandang suamiku dengan rasa penasaran dan ketertarikan,
Beda dengan Arga, kecemburuanku lebih menusuk nusuk sekarang,
jadi bagaimana mungkin aku tidak memandang suamiku mas??"
Hendra memeluk adiknya,
" lalu kenapa kau tidak jujur pada suamimu?"
" karena suamiku tidak akan diam saja jika ia tau,
Aku tidak jujur bukan karena berat pada Arga,
Aku tidak jujur karena takut suamiku terlibat masalah,
Dan jika hal itu sampai terjadi, maka aku akan menyalahkan diriku mas?"
Hendra mengangguk, sekarang ia memahami pikiran Ratih, pikiran perempuan memang kadang susah di mengerti keluhnya dalam hati, ia mengelus punggung adiknya, menenangkannya.
" Jadi kau tidak akan kembali pada Arga?" tanya hendra pelan,
__ADS_1
" tentu tidak..!" jawab Ratih tegas.