
Suara TV memenuhi ruang tengah seperti biasa.
Adi sedang sibuk melihat singa yang mengejar seekor rusa.
" Duh paa.. tontonanmu iku lho?!" protes Ana istrinya.
" seru ini ma, alam liar.." jawab Adi tidak mengalihkan pandangannya,
" kok tega sih lihat begitu begitu? pamungkas saja yang tentara tidak suka lihat begitu?"
" Pamungkas itu bukan tidak suka, dia tidak sempat melihat,"
" elehh elehh alasanmu paaa.."
" katanya mau belanja, kok ramee ae..."
" Ratih yang berangkat kok, tapi kok belum turun turun mereka?" Ana berjalan menuju tangga,
" Ayo rekk?! ndang mudun?! (ayo cepat turun?!)" panggil Ana keras.
Lima menit kemudian Pamungkas turun, lalu Ratih menyusul di belakangnya,
" Pakai jaket Rat," ujar Pamungkas saat melihat Ratih hanya berkaos oblong dan bercelana jeans di atas mata kaki.
" Bawa mobil kan om?"
" badanmu ringkih begitu? kau kan harus keliling belanja nanti, memangnya angin malam akan menghindarimu?" tak seperti biasnya, ucapan Pamungkas sedikit lebih tajam.
Ratih berbalik tanpa protes, ia naik kembali ke kamarnya dan mengambil sweater rajutnya.
" Wes.. ini daftar belanjanya, ada yang tidak ada di pasar segera telfon mama, biar mama nitip ke bulek warung?" Ana menyerahkan selembar kertas catatan pada putrinya.
" Pam, nanti kalau ada soto daging di pojok pasar beli ya Pam?"
" kalau yang itu tidak ada yang lain ya mbak?"
" ada, pasti Ada.. dia baru buka jam segini pam..?"
" ya wes mbak.." jawab Pamungkas lalu berjalan keluar, di ikuti Ratih yang seperti anak kecil itu.
Di jalan keduanya tidak bicara, Pamungkas benar benar menjaga jarak.
Ratih yang melihat perbedaan sikap Pamungkas hanya diam tanpa berkomentar.
Sesampainya mereka di pasar, wajah Ratih yang tadinya datang kini sumringah.
Ia senang sekali melihat lampu lampu berjajar, sayur segar yang bertumpuk tumpuk, dan para penjual yang riuh.
__ADS_1
Dari kejauhan Ratih melihat penjual ikan segar, seperti anak kecil yang di lepas pegangannya ia berjalan kesana kemari begitu saja, membeli apa yang menarik matanya.
Diam diam pamungkas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Yah.. ia memang masih muda, temannya bahkan banyak yang belum menikah, jadi pantas saja kalau masih begitu tingkahnya.. pikir Pamungkas.
Dengan langkah tenang Pamungkas mengikuti langkah Ratih.
" Om mau masak ikan kuah kuning?" tanya Ratih tiba tiba saat berhenti di tukang ikan yang ukuran ikannya lumayan besar besar itu.
" Memangnya bisa?" tanya Pamungkas datar.
" Ratih bisa, pernah di ajari bu komandan waktu jadi pengurus.. bu komandan kan orang sulawesi..?" Ratih percaya diri,
" om tidak suka ikan kuah kuning?" tanya Ratih lagi,
" tidak usah Rat, masak untuk selamatan saja," jawab Pamungkas pendek.
" Ya sudah.." Ratih terlihat sedikit kecewa.
Setelah semuanya terbeli, baik ikan, bumbu dan sayuran yang di butuhkan, keduanya segera menuju ke warung soto pesanan mama Ratih.
" Mau makan disini?" tanya Pamungkas langsung duduk karena terlihat sepi pembeli.
" Om lapar?"
" Bukan orang sini mas?" tanya si ibu penjual,
" orang sini buk.. kenapa?" Pamungkas tersenyum,
" kayak bukan orang jawa.."
" moso sih buk.. bisa saja, saya orang jawa.." Pamungkas terus melempar senyumnya pada wanita yang usinya lebih tua dari kakak iparnya itu, mungkin sepantaran Almarhum ibunya.
" Wajah e mas e kayak bukan orang jawa, tajam.. kaku ngunu ee.."
Pamungkas sekarang tertawa, sampai sampai Ratih memandangnya heran.
Ratih memandangi omnya itu seperti tersadar akan sesuatu.
" Kenapa Rat?" tanya Pamungkas tau kalau sedari tadi di perhatikan,
" ah, tidak om.." jawab Ratih lalu membuang pandangan ke arah ibu yang sedang meracik soto mereka.
Keduanya makan dengan tenang,
Ratih terlihat setengah mati menghabiskan porsi soto yang lumayan besar itu.
__ADS_1
" Kalau kenyang jangan di habiskan," ucap Pamungkas yang sedari tadi memperhatikan.
" Iya, Ratih kenyang om.."
" berhenti kalau begitu," Pamungkas melanjutkan makannya.
Setelah keduanya selesai makan, mereka langsung memutuskan untuk pulang, karena sudah menjelang tengah malam.
" Om?" panggil Ratih kikuk,
" hemm," jawab Pamungkas fokus dengan jalan raya,
" anu om.."
" anu apa?"
" ada itu.." Ratih menunjuk samping bibir Pamungkas.
Pamungkas langsung melihat kaca,
" wah, kok tidak bilang dari tadi Rat?" Pamungkas mengelap bibirnya dengan tissue.
" itu masih ada om, sepertinya bukan nasi.." ujar Ratih, dan benar entah apa yang menempel di ujung bibir pamungkas.
" kok susah?" Pamungkas berusaha mengambilnya tapi masih menempel.
" Biar kubantu om?" Ratih mengulurkan tangannya, tanpa menunggu jawaban dari Pamungkas perempuan itu mengambil sesuatu yang ternyata tissue di ujung bibir Pamungkas.
" Opo iku?(apa itu?)" tanya Pamungkas dengan perasaan yang lagi lagi tidak bisa di ajak kompromi.
" Tissue om, sepertinya bekas om mengelap di warung soto tadi, nempel.." jawab Ratih.
" Oh.." suara Pamungkas yang sedikit aneh sekarang.
Setelah hal itu tak ada perbincangan lagi hingga keduanya sampai dirumah.
Sesampainya dirumah ternyata semua orang sudah tertidur, hingga soto itu harus masuk ke dalam lemari es.
" Tidurlah Rat, besok bangunkan om jika butuh bantuan, om masih ada libur dua hari," ujar Pamungkas setelah semua pintu di kunci dan Ratih sudah merapikan semua belanjaannya.
" Iya om, Ratih naik dulu.." Ratih berjalan menaiki tangga, meninggalkan Pamungkas yang memandanginya dari bawah.
" Ck.." Pamungkas berdecak tak senang, dia sudah banyak memperhatikan Ratih saat di pasar tadi.
Benar.. tubuhnya lebih kurus sekarang, pipinya pun tidak bulat seperti biasanya.
" Kenapa...?" Pamungkas bertanya dalam hati.
__ADS_1
Tapi sebesar apapun rasa penasarannya, bukankah ia sudah berjanji untuk tidak menganggu Ratih lagi?.