
" Lebih baik kalian pergi." Pamungkas tidak ingin membicarakan apapun, apalagi mendengar nama itu di sebut.
Sakit hatinya mendarah daging, sampai mati tidak bisa hilang.
Jika untuk orang lain, sosok ayah adalah pelindung,
Maka baginya sosok ayahnya adalah seorang penjahat.
Penjahat kejam yang merusak hidup ibunya, juga merusak masa kecilnya.
Kenangan kenangan buruk yang tidak akan pernah hilang meski tergantikan oleh keluarga baru,
kata kata pahit dan perlakuan buruk yang masih melekat di pikirannya sampai sedewasa ini.
Luka yang sungguh tidak bisa ia sembuhkan.
" Aku tidak kenal dengan yang namanya Rahmat." suara yang begitu tegas hingga menimbulkan rasa takut pada kedua laki laki di hadapannya itu.
" Pam.. sek sek.. Rungoknoo.. ( tunggu tunggu.. dengarkan..)" Adi akhirnya ikut bicara,
" Aku tidak mau mendengarkan apapun mas?!" jawab Pamungkas dengan nada meninggi.
" Pergilah! aku tidak ada hubungan dengan laki laki yang sudah menelantarkan aku dan ibuku!!" Suara Pamungkas lebih keras, membuat Ana dan Ratih buru buru ke ruang tamu untuk melihat.
" Beri kami kesempatan untuk bicara..setelah itu kami akan pergi nak.." ucap si tamu yang lebih tua.
" Kami ingin menyampaikan pesan ayahmu.." imbuh laki itu.
Pamungkas yang hatinya hanya di penuhi kebencian tak sanggup mendengarnya.
Ia memilih berjalan pergi dengan kasar, tak ia perdulikan lagi Adi yang berdiri disampingnya.
" Mas?" Ratih mengikuti langkah cepat suaminya yang berjalan naik ke atas tangga.
" Jangan ikuti aku Ratih!" tegas Pamungkas tau istrinya mengikutinya.
Dengan gerakan kasar ia membuka pintu kamar lamanya dan masuk.
__ADS_1
Ratih tertegun,
Kemarin kemarin ia memang sempat melihat kemarahan suaminya,
tapi hari ini rupanya kemarahan itu lebih besar.
" Ada apa ini sebenarnya pa?" Ratih duduk disamping papanya.
" Kau istrinya Pamungkas nak?" tamu yang lebih tua menatap Ratih,
" Iya, kalau boleh tau.. Anda..?" Ratih ragu,
" Omnya pamungkas, adik dari ayah kandungnya.." jawab laki laki itu berharap mendapat sambutan yang baik dari Ratih.
" Oh.." hanya itu saja yang bisa keluar dari mulut Ratih, ia bingung harus bersikap bagaimana.
" Tolong kami nak..?" pinta laki laki yang memperkenalkan dirinya sebagai om Pamungkas.
" Tolong apa ya.. pak?" Ratih kikuk,
" om, nak.. Panggil kami om, namaku Rustam, dan ini adikku Ruslan.." laki laki itu memperkenalkan namanya.
" Ih.. Senangnya kami mendengar panggilan om darimu nak.." ujar Ruslan dengan logat sulawesi selatannya yang kental.
" Kami datang kesini dengan tujuan ingin memohon pada suamimu,
agar mau datang ke kampung untuk menengok ayahnya.." jelas Rustam,
" Beliau?"
" Dia sakit parah nak, sudah bertahun tahun dia tidak bisa berjalan..
kami sendiri heran, kenapa satu bulan ini dia terus minta kami untuk mencari putranya di jawa,
Dia menangis setiap malam, meratap..
dia bilang tidak akan tenang sebelum dapat pengampunan dari putranya.." jelas Rustam dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
Sementara Ratih, ia memandang papanya, ekspresinya penuh kebingungan.
Melihat kemarahan suaminya, tidak mungkin ia berani membicarakan hal ini.
Jadi ia merasa percuma saja kedua orang ini meminta pertolongannya.
" Dengarkan saja Ratih.. mereka jauh jauh datang kemari.. setidaknya wakililah suamimu untuk mendengarkan.." sela Adi memberi nasehat pada putrinya, seakan bisa membaca kebingungan Ratih.
" Tolong kami nak..? kakak kami memang bersalah pada suamimu..
tapi dia tetap darah daging kakak kami..??".
Ruslan menyerahkan sebuah kertas pada Ratih,
" itu alamat rumah kami, jika sewaktu waktu suamimu berubah pikiran..
dengan itu kalian akan sampai dengan mudah, karena rumah kami sedikit sulit di jangkau.." ujar Rustam,
Ratih mengangguk dan menerimanya.
" Tolong juga sampaikan pada suamimu, dengan kedatangannya..
mungkin akan memudahkan kepulangan kakak kami..
tolong ya nak..
kami betul betul memohon,
bujuk suamimu untuk datang ya nak??"
Kedua laki laki itu memohon dengan sungguh sungguh, hanya ada kesedihan di raut wajah mereka.
" Akan.. akan saya sampaikan.. tapi saya tidak berjanji suami saya akan datang.." ujar Ratih hati hati.
"Tidak apa apa nak.. di sampaikan saja kmi sudah berterimakasih.." keduanya tersenyum lega,
" Tapi.. apa kondisi beliau benar benar?" Ratih tidak berani melanjutkan pertanyaannya,
__ADS_1
Rustam mengangguk,
" sepertinya, dia hanya menunggu kedatangan suamimu saja.." ujarnya membuat Ratih memandang papanya sekilas, lalu tertunduk bimbang.