
Sore itu semua keluarga berkumpul dan duduk bersama.
Hanya Pamungkas saja yang tidak ada, dia pulang untuk mengambil baju ganti dan baju Dinasnya.
Ratih merasa tidak tenang, raut papanya sedari tadi menahan amarah,
kalau di bilang malu tentu saja malu.
" Papa sudah tidak bisa menerima penghinaan ini," ujar papanya dengan nada masih di tenang tenangkan.
" Arga dan Tias itu seperti orang tidak waras, mereka tidak akan berhenti menganggu ketenangan hidupmu sampai kau menemukan pelindung." imbuh Adi menatap Ratih yang tertunduk.
" Mau tidak mau kau harus menikah lagi Ratih, secepatnya." suara papanya tenang namun tegas.
" Menikah??" Ratih mengangkat kepalanya, memandang papanya itu.
" Jangan gegabah pa? Ratih tidak mau menikah hanya karena hal seperti ini??"
" hal seperti ini kau bilang?!, bagaimana kalau hal seperti tadi terjadi di luar sana?! bagaimana kalau kau di pukul, di jambak dan di teriaki pelakor seperti tadi?!" Adi meradang, Ana dan Hendra hanya bisa diam sambil memandangi Ratih.
" Papa mau kau menikah Ratih! secepatnya!" Adi berbicara keras sekarang.
Ratih mengenggam tangan kirinya menggunakan tangan kanannya, meremas remasnya menahan perasaan.
" Apa Ratih tidak bisa pergi untuk sementara saja?" tanya Ratih ragu.
" Sampai kapan kau mau sembunyi? kita tinggal satu kota dengan mereka,
kau tidak bisa kabur selamanya?!" tegas Adi.
" Papa benar Rat, Arga tidak akan menyerah selama kau tidak menjadi milik org lain, dan mungkin setelah menjadi milik orang lain pun..
dia akan tetap mengharapkan mu,
tapi setidaknya..
kau mempunyai seorang suami sebagai pelindung," Hendra yang bisanya bicara asal saja kini bicara dengan serius.
" Kau harus percaya pada papa, keputusannya yang terbaik untuk sekarang.." imbuh Hendra.
__ADS_1
Ratih membisu, cukup lama.
" Papa tidak memberimu pilihan, jadi jangan coba coba berkompromi dengan papa?!,
dulu kau merengek untuk menikah dengan Arga,
Kami yang kurang setuju terpaksa mengalah demi kebahagiaanmu?!,
jadi sekarang maafkan papa yang egois,
papa meminta giliranmu untuk patuh pada perintah kami sekarang,
itu kalau kau ingin hidupku lama."
Mendengar papanya dan Hendra satu suara,
Ratih mencoba mencari tau siapa laki laki yang akan di ajukan sebagai suaminya.
" Dengan siapa Ratih akan menikah?" tanya perempuan itu hati hati.
" Pamungkas," jawab papanya cepat dan jelas.
" Pamungkas, om mu, memangnya ada berapa Pamungkas disini?".
Ratih tercengang, matanya terbelalak tak percaya,
" ...menikah dengan siapa?! om Pamungkas??!" Ratih berdiri, suaranya meninggi,
di tatap seluruh keluarganya dengan tatapan tak percaya,
" Dia pilihan yang terbaik untukmu nduk," ujar papanya.
Laki laki tua itu terlihat lelah dan frustasi,
" Kalau kau ingin papamu panjang umur, manutlah nduk.." suara Ana lirih, ia menarik Ratih agar tenang dan kembali duduk.
Ratih terlihat kebingungan dengan situasi yang ia hadapi sekarang.
" Ba.. bagaimana papa bisa mengambil keputusan ini??" tanya Ratih menatap papanya,
__ADS_1
" Ratih dan om Pamungkas masih saudara dekat? apa kata orang nanti pa?? apa kondisi dirinya seputus asa itu hingga harus menikahi om sendiri??"
perempuan itu menahan air matanya,
pedih menusuk nusuk batinnya.
Belum selesai permasalahan Tias,
ia malah di tuntut untuk menikah dengan omnya.
" Om Pamungkas bukan om kandung kita Rat.." celetuk Hendra,
" Dia adik tiri papa, kau bisa lihat akta lahir om Pamungkas jika tidak percaya.." imbuhnya.
Ratih menatap Hendra tak percaya,
" Jangan omong kosong mas??"
" aku juga baru tau Rat.. karena itu aku menamparmu saat itu..
andai aku tau om tidak sedarah dengan kita.. mungkin aku tidak akan semarah itu..." Hendra memberi pengertian.
Sekarang Ratih menatap papanya,
"itu benar ndukk.." suara papanya stabil sekarang.
" Dia tidak sedarah dengan papa, jadi tidak ada alasan bagimu menolaknya,"
" tapi pa? kami besar dan tumbuh bersama??"
" kesampingkan itu, kau pikir papa tidak tau bagaimana hubungan kalian selama ini?".
Ratih membisu tiba tiba,
" mana ada om yang menyandarkan bahunya dengan mesra pada keponakannya?, kau pikir papa ini rabun? tidak peka?,
kalian sudah bersentuhan layaknya kekasih, jadi keputusan menikah adalah yang terbaik,
papa menyelamatkan semuanya."
__ADS_1
Ratih sudah tidak bisa berkutik, tak bisa bicara apapun lagi, perempuan itu tertunduk dalam dengan wajahnya yang merah padam.