
" Sampun maem mas?" tanya Mak Karto mengambil bawaan di tangan Pamungkas.
" Belum, ayo kita makan sama sama mak.. itu bebek dan ayam panggang.." Pamungkas mengulas senyum pada mak Karto.
" Mbak Ratih sepertinya tidak akan makan lagi mas,"
" tidak apa apa.. biar saya bawa makanannya ke atas mak.." jawab Pamungkas sabar.
" Owalah mas.. alhamdulillah mbak Ratih dapat calon suami sesabar sampean.." mak Karto bersyukur.
Benar kata mak Karto, Ratih tidak turun, Pamungkas pun sudah mendapat informasi dari Hendra, bahwa Ratih sudah di beri tau perihal pernikahan mereka.
Dengan langkah tenang Pamungkas melangkah ke kamar Ratih.
Sesampainya di kamar Pamungkas mengetuk, tapi Ratih tak membukanya.
" Bahuku sakit Rat.. setidaknya bantu aku mengoleskan obat.." ujar Pamungkas setelah berkali kali mengetuk.
" Rasanya pedih sekali Rat.. cakaran temanmu itu cukup dalam melukai kulitku.." Pamungkas masih berusaha menggali belas kasihan Ratih.
Cukup lama pintu itu tidak terbuka, Pamungkas sampai hampir menyerah.
" Ceklekk..!" suara Pintu akhirnya terbuka.
Pamungkas menyembunyikan senyumnya, dan melangkah masuk.
Tanpa berkata apapun Pamungkas melepas sweater hitamnya, menunjukkan punggungnya yang lebar itu.
Tanpa menunggu pula, laki laki itu duduk di samping Ratih, dengan bertelanjang dada.
" Ayo.. oleskan obat..?" ucap Pamungkas lirih, ia memperhatikan Ratih yang hanya diam dan menghela nafas saja.
" lhoo? kok diam?" tanya Pamungkas.
Mendengar itu Ratih bangkit dan mengambil obat.
Sembari mengoleskan obat di bahu Pamungkas yang terkelupas itu Ratih berkata,
" Om tidak perlu berbuat sampai seperti ini,"
__ADS_1
" maksudmu? aku harus diam saja? dan membiarkan wajahmu di cakar?" tanya Pamungkas.
Ratih diam, ia tak menjawab.
" Kenapa kau diam saja dan tidak membalas?" tanya Pamungkas menatap dinding.
" Apa om tidak lihat perutnya yang besar? aku bisa masuk penjara jika sampai terjadi sesuatu dengan perutnya," jawan Ratib datar.
" Bukan karena kau takut?"
" takut? kenapa aku harus takut pada Tias?, aku hanya menahan diriku.."
Pamungkas yang diam,
" sudah selesai om," ucap Ratih menarik tangannya dari bahu Pamungkas.
Pamungkas segera memakai sweater nya kembali, lalu berhadapan dengan Ratih.
" Lain kali, kau harus membalas.. kalau kau di jambak, maka kau juga harus menjambaknya,
kalau kau di cakar maka kau harus mencakarnya,
" Wahh.. om seperti dewa saja,"
" bukan dewa, tapi aku akan berbuat apapun demi orang yang kucintai.." Pamungkas serius.
Matanya tak lepas menatap Ratih.
" Kau sudah tau?" tanya Pamungkas kemudian,
" tentang apa? tentang om yang ternyata bukan om kandungku, atau om yang mendadak jadi calon suamiku?" Ratih membuang pandangannya.
" Dua duanya Rat.."
" bisa bisanya," Ratih tersenyum pahit.
" om benar benar membuatku sesak..
kejutan kejutan yang om berikan membuatku.." Ratih menghentikan kata katanya.
__ADS_1
" Mari kita bicara pada papa om, kita tidak harus menikah.."
" kenapa?!" Pamungkas bertanya tajam,
" aku tidak pantas untukmu? bahkan setelah mendapat restu pun kau tetap sulit menerimaku?!" Ratih memantik ketersinggungan Pamungkas.
" Om tidak akan tau apa yang kurasakan.." keluh Ratih pelan.
" Karena itu bicaralah?!"
" om itu tidak mencintaiku om?, kita hanya tenggelam pada hasrat masing masing, selain itu om juga merasa bertanggung jawab untuk menjagaku,
itu bukan landasan yang baik untuk menikah om?"
mendengar penjelasan Ratih yang tak masuk akal baginya itu, Pamungkas semakin kesal.
" kau menolakku pun percuma Rat, ini bukan keputusanku, tapi keputusan mas Adi,
bahkan aku sendiripun tak punya kuasa." Pamungkas menahan diri.
" Baru kali ini aku menemukan perempuan yang sudah habis habisan di cium tapi tidak mau di nikahi." Pamungkas bangkit, ia keluar dari kamar Ratih,
niatnya untuk membujuk Ratih untuk makan sudah hilang.t
" Kenapa Om? kusut begitu?" tanya hendra melihat Pamungkas yang turun dari tangga dengan langkah berat.
Pamungkas tak menjawab,ia terus saja melangkah dan berjalan ke arah ruang tamu.
Setelah punggungnya menghilang di balik pintu, terdengar suara motornya yang keluar dari rumah.
Ratih berdiri depan kaca jendela, melihat Pamungkas yang pergi dengan motornya.
Ratih tau benar, laki laki itu marah,
tapi keputusan untuk menikah begitu sulit ia ambil.
Banyak hal yang ia pertimbangkan,
tentu saja bukan tentang Pamungkas,
__ADS_1
tapi tentang dirinya yang serba kurang ini.