
Ratih tersentak, bisa bisanya om nya itu menanyakan perihal bibirnya.
" Kalau om tidak mau membahas soal pertemuan tadi malam dengan papa ya sudah,
lebih baik aku pulang dan kembali tidur." Ratih bangkit dari duduknya, dengan gerakan yang cepat berjalan ke arah pintu.
" Selalu lari dari pertanyaanku?" Pamungkas menarik pinggang Ratih,
" om mulai lagi?!" Ratih melepaskan diri.
Pamungkas diam, di tatapnya Ratih lekat.
" Dengarkan Ratih.. om mu ini, tidak punya cukup kesabaran hari ini, jadi katakan saja apa yang sesungguhnya terjadi,
atau aku harus bertanya pada Hendra dan membuat keributan?"
Ratih membuang pandangannya, perasaannya tak karu karuan.
" Aku tidak mau membahasnya om, itu tidak penting?!"
" jadi hal yang tidak penting itu membuatmu sakit?" Pamungkas kesal.
" Om tidak boleh begini?"
" kenapa?"
" om sudah janji menjauhiku?"
" kau yang memanggilku kesini Rat?!"
" iya, tapi untuk bertanya perkara om dan papa??!" tegas Ratih.
" Jadi kau menutupinya?" tanya Pamungkas sengit,
" menutupi apa om?!" Ratih tak kalah galak,
__ADS_1
" Mantan suamimu itu?! apa kau menutupinya supaya dia bebas menciummu lagi?!" Nada Pamungkas meninggi.
Ratih tak menjawab, ia terlihat shock karena Pamungkas mengetahui apa yang sudah terjadi padanya.
Dengan langkah cepat lagi lagi Ratih berusaha menggapai pintu,
tapi Pamungkas yang belum selesai dengan amarahnya itu dengan cepat menarik lengan Ratih.
" om?!!" pekik Ratih,
Pamungkas tak mengubris Ratih.
Di dudukkannya, perempuan itu di atas pangkuannya.
Wajah Ratih memerah seketika,
" om keterlaluan?!" ujar Ratih tak sanggup melihat wajah Pamungkas.
Pamungkas diam, tak menjawab, ia hanya terus menatap Ratih sembari memegangi kedua tangan Ratih agar tidak bergerak kesana kemari.
" Bagus.. sekarang katakan padaku," sahut Pamungkas.
Ratih menghela nafas berat, melirik Pamungkas sekilas lalu mulai bicara,
" Arga memaksaku saat aku berada di parkiran cafe,
dia juga bilang akan menjadikanku sebagai istrinya kembali karena masih mencintaiku.."
" Kau mau kembali padanya Rat?" tanya Pamungkas menjatuhkan kepalanya ke pundak Ratih.
Ratih diam, merasakan Pamungkas yang begitu dekat hatinya tak karu karuan.
" Sudah kan om, sudah kujelaskan, sekarang lepaskan aku, aku mau pulang?" Ratih berusaha bangkit tapi Pamungkas masih belum melepaskannya.
" Kau alergi kusentuh Rat?" Pamungkas mengangkat kepalanya dan memandangi Ratih.
__ADS_1
" Om tidak minum tapi bicara seperti orang mabuk?"
" diamlah, aku sedang meredam emosiku agar tidak menginjak injak mantan suamimu.." suara Pamungkas lirih.
" Jadi benar om satu tempat kerja dengannya??" tanya Ratih dengan mata melebar.
" Kenapa?" bukannya menjawab Pamungkas malah bertanya.
" Jadi om benar benar menekannya di kantor??"
" kau Khawatir padanya?" Pamungkas mengerutkan dahinya tidak senang.
" Tentu saja, maksudku bagaimana kalau orang memandang om buruk??"
" kau khawatir pada siapa?"
" pada Om tentu saja?!" tegas Ratih.
Ratih memakai jaket Pamungkas, dia erat melingkarkan tangannya di pinggang Pamungkas.
" Yang erat!" ujar Pamungkas membuka kaca helmnya.
Suaranya menghilang di bawa angin,
" memangnya ini kurang erat?!" sahut Ratih, suaranya juga kalah oleh angin.
Baru pertama kali ini Ratih di bonceng oleh Pamungkas, entah kenapa rasanya aneh sekali, hatinya senang, namun canggung.
Pamungkas tak kalah senangnya, senyum terus tersungging di bibirnya, hanya saja helm menutupinya dengan baik.
Laki laki berusia tiga puluh enam tahun itu benar benar seperti anak SMA yang jatuh cinta.
Sementara Ratih, ia hanya bisa diam sembari menyembunyikan wajahnya yang merona, karena Pamungkas sering mencuri pandang lewat kaca spion.
" Memangnya jalannya di belakang?!" tanya Ratih,
__ADS_1
" Hahaha..!" Pamungkas hanya menjawab dengan tawanya yang keras.