Om Pamungkas

Om Pamungkas
terburu buru


__ADS_3

Setelah pertengkaran malam itu keduanya tak saling bicara.


Pamungkas lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah,


Dan Ratih menyibukkan diri di cafenya.


Namun suatu sore keduanya harus berangkat kerumah orang tuanya karena undangan makan, entah acara apa.


Keduanya datang meski dengan motornya sendiri sendiri, rupanya kekesalan menumpuk diantara keduanya, hingga berboncengan saja mereka tidak mau.


Saat semua sudah selesai makan dan mulai berbincang di ruang tengah sembari mengunyah buah, Ana bertanya pada Hendra,


" Sekar kenapa tidak ikut kita makan?",


Pertanyaan Ana membuat Ratih tak nyaman, masih saja mencari sekar, memangnya apa pentingnya sekar di keluarga ini?! Ratih benar benar tidak habis pikir.


Apalagi dengan papanya yang biasanya peka Dan kritis itu, kenapa papanya diam saj melihat orang asing bersliweran dan terlalu akrab pada anak laki laki dan menantunya.


Pacar bukan, hanya teman saja, pantaskah?!.


Hati Ratih diam diam bergemuruh.


" Piket malam ma, dia agak sibuk katanya akhir akhir ini jadi tidak bisa main dulu kesini," jawab Hendra.


" oh begitu.. Kasiannya, pulang kerja masih harus mencari makanan, suruhlah makan disini kalau di kelelahan pulang kerja hen?"


" dia sepertinya sudah biasa mandiri, tidak mau merepotkan orang.." ujar Hendra tak sadar wajah adiknya si sebelahnya sudah panas.


Sementara Pamungkas diam saja, ia meminum kopinya.


Tapi sekitar lima belas menit kemudian Pamungkas mulai bicara, dan ia terlihat begitu serius.


" Mbak, mas, saya mau bicara?" ujar Pamungkas,


" bicara apa, bicaralah.." sahut Adi tenang.


" emmhh.." pamungkas melirik Ratih sekilas,


" saya mau ajukan pindah," semua orang di ruangan itu terhenyak,


" pindah??" tanya Adi,


" maksudmu bagaimana pam, coba jelaskan?" imbuh Adi.


" Saya mau ajukan pindah dinas mas, kemungkinan keluar jawa, dan..

__ADS_1


tentu saja saya akan membawa istri saya," jelas Pamungkas.


Adi yang semula duduk santai dan tenang kini duduk dengan serius sembari memandangi anak dan menantunya.


" Memang harus pindah atau kau sendiri yang ajukan?" tanya Adi,


" dari kantor Pam??" Ana ikut bertanya dengan raut wajah yang bingung dan masih kaget.


" Tidak, saya sendiri yang mengajukan mas, mbak.." jawab Pamungkas,


Mendengar itu tentu saja Adi dan Ana semakin heran.


" Kok tiba tiba ngajukan pindah om?" saut Hendra juga penasaran,


" kalau om pindah bagaimana bengkel? Bagaimana rencana rencana kita?" pertanyaan hendra membuat Pamungkas tertunduk sejenak.


" Aku kan sudah bilang tidak mau..!" suara Ratih memecah keheningan yang sejenak itu.


" Tunggu tunggu? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Adi,


" kenapa kau memutuskan pindah sendiri Pam? Bukankah kau pernah bilang posisimu sudah aman?" lanjut Adi.


" Saya melakukan ini demi rumah tangga saya mas," jawab Pamungkas


" omong kosong macam apa mas?!" sahut Ratih lagi.


" Ini bukan omong kosong, ini keputusanku Ratih!" tegas Pamungkas akhirnya di depan keluarga.


" kau mempersulit aku!"


" mempersulitmu untuk bertemu dengan mantan suamimu itu memang tujuanku."


" omong kosong! Itu masa lalu."


" masa lalu yang terus menghantuimu?",


Keduanya saling membalas, lupa bahwa Adi dan Ana ada di hadapan mereka.


" Arga lagi?" tanya Hendra,


Adi menghela nafas panjang, menenangkan dirinya.


" Apa kalian bisa diam dulu?" tanya Adi dengan Nada bicara yang membuat Ratih dn Pamungkas langsung patuh.


Saat keduanya sudah diam, Adi lah yang mulai bicara.

__ADS_1


" Jelaskan padaku tujuanmu pindah? Apakah hanya demi menghindari mantan suami Ratih?"


Pamungkas diam, namun dari ekspresi wajahnya semua terjawab dengan jelas.


" Kukira itu adalah keputusan yang terlalu terburu buru.. Dan belum di butuhkan.." Adi menatap Pamungkas baik baik,


" apa Ratih sudah berbuat yang melampaui batas?" tanya Adi lagi.


" Dia berpikir aku selalu bertemu dengan Arga saat arga liburan ke malang, padahal Ratih tidak pernah menggubrisnya pah?" jelas Ratih.


" Apa Ratih bodoh, Arga sudah sejahat itu tapi Ratih masih mau kembali padanya? Mas Pam itu yang pikirannya keterlaluan mencurigai Ratih?!" imbuh Ratih membela diri.


" Sudah sudah.. Masalah ini jangan si besar besarkan Pam, kau itukan mulai kecil hidup dengan Ratih, faham betul karakternya,


Ya masa sih pam kau tidak bisa memahami..


Ratih memang sedikit keras dan manja, tapi kalau tidak ya tidak.." ujar Adi,


" jadi.. Keputusan pindah itu urungkan dulu.. Kita lihat perkembangan ke depannya Pam.."


" Tapi mas, saya..?"


" sudah.." kata kata Pamungkas di potong oleh Adi,


" keputusanmu itu mengorbankan terlalu banyak hal..


Bisnismu,


Bisnis istrimu..


Dan kami yang sudah tua ini tentu saja tidak rela..


Kecuali itu perintah dari atasan..


Monggo.."


Mendengar kata kata Adi, Pamungkas diam, ia terlihat bimbang.


" Jangan termakan emosi om, perkara Arga biar aku yang mengurus, om fokus saja pada istri om yang cerewet ini.." Hendra mencairkan suasana.


Ratih tak berkomentar, ia hanya memandangi Hendra dengan kesal.


" Kau itu diam saja, patuh, kurang apalagi suamimu? Dimana kau bisa temukan laki laki yang menemanimu dari kecil sampai sekarang?


Selain aku dan papa, tidak ada laki laki lain yang lebih mengerti dirimu selain suamimu Rat?!" nasehat Hendra.

__ADS_1


__ADS_2