
Malam minggu tepatnya, akhirnya Ratih tau perempuan yang bicara dengannya di telfon.
" Selamat siang kak.. saya sekar.." perempuan berseragam putih itu memperkenalkan dirinya, senyumnya manis sekali.
" Siang, Ratih.." Ratih membalas jabatan tangan Sekar.
" Ini belahan jiwaku dek.." ujar Pamungkas merangkul istrinya.
Sekar melempar senyum,
" Iyaa.. saya sudah dengar dari bang Fael.." ujar Sekar.
" Itu bang, saya lupa mengabari.. tadi saya ke bengkel, saya titipkan ke mas Hendra jadinya.." Sekar berbicara pada Pamungkas.
" Oh, ya sudah kalau begitu, biar kuambil nanti.. kembalilah bekerja, kami pergi dulu.." Pamungkas pamit dari parkiran rumah sakit itu.
" Dia adik teman? kenapa dia jawa?" tanya Ratih akhirnya penasaran saat keduanya dalam perjalanan pulang.
" Adik ipar, istri Rafael perempuan jawa.." jelas Pamungkas.
Ratih, diam, tak bertanya lagi.
Tak baik juga rasanya jika ia terlalu banyak bertanya, bisa bisa dirinya di anggap kekanak kanakan.
Sesampainya dirumah, keduanya tidak langsung tidur,
Ratih membawa beberapa buku ke atas tempat tidurnya.
Sementara Pamungkas hanya bolak balik saja disampingnya sembari menarik narik ujung baju tidur Ratih.
" Buku apa? masih lama bacanya?" tanya Pamungkas sembari menggeser kepalanya ke paha Ratih.
" Buku buku lama.." jawab Ratih tak berkutik meski tingkah suaminya itu ada saja untuk mengusiknya.
__ADS_1
" Yang..?" panggil Pamungkas,
" hemm.." jawab Ratih tanpa melihat suaminya.
" Bagaimana menurutmu sekar?" pertanyaan Pamungkas membuat Ratih menutup bukunya dan menatap wajah yang sedang terbaring tenang di pahanya.
" maksudnya?" tanya Ratih,
" Ya pendapatmu apa saat melihatnya?"
Ratih terdiam lama, ia benar benar malas menjawab.
" Kok diam saja?" tanya Pamungkas,
" penting ya?"
" tidak penting, ya sudah kalau tidak mau berkomentar.. pijiti saja kepala suamimu ini.." Pamungkas menarik tangan Ratih dan meletakkannya di dahinya.
" mas suka perempuan bekerja?" tanya Ratih tiba tiba,
" Maksudku yang memakai seragam, seperti istri istri tentara lainnya,
dokter? perawat? atau bahkan guru?".
Mendengar pertanyaan istrinya Pamungkas bangkit, ia duduk disamping Ratih.
" Ada apa? setelah bertemu Sekar kau jadi aneh?" Pamungkas menangkap ekspresi Ratih yang sedikit berbeda.
" Kenapa?" tanya Pamungkas penasaran,
" Aneh apa? aku tidak.." jawab Ratih membuka bukunya kembali.
" Kau ingin seperti mereka?" Pamungkas lebih serius.
__ADS_1
Ratih diam tak menjawab,
" Sayang? aku bicara padamu.."
" yah, aku dengarkan,"
" lalu kenapa aku tak mendapatkan jawaban?" Pamungkas menunggu jawaban dari istrinya.
" Kau seorang sarjana pendidikan.. belum terlambat jika kau ingin mengajar.." ucap Pamungkas,
" kuliah keguruan tidak harus selalu jadi guru," jawab Ratih pendek.
" Lalu kenap kau bertanya seakan ingin bekerja seperti istri istri anggota lainnya?"
" aku hanya ingin tau pendapat suamiku?"
" kalau kau benar benar ingin tau pendapatku, aku bahkan tidak ingin kau pergi keluar, bertemu atau berbincang dengan laki laki lain,
aku ingin menyimpan mu sendiri saja dirumah.." Jawab Pamungkas dengan wajah serius.
Melihat istrinya yang diam saja itu Pamungkas mengambil buku yang ada di tangan Ratih dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
" Aku tau keresahanmu, meski kau tidak mengungkapkannya..
ingatlah, kita ini suami istri..
masalahmu adalah masalahku,
beban pikiranmu, bagilah untukku..
jika kau terus saja diam dan memendam apapun sendiri,
bagaimana aku bisa tau?" Pamungkas menyandarkan kepalanya di bahu Ratih.
__ADS_1
" jangan khawatirkan apapun.. " imbuh Pamungkas.