
Pamungkas Pamit untuk pulang sebentar, mengganti baju dan mengambil barang barang Ratih seperti baju dan lain lain.
Ratih tidak memintanya karena masih terlelap saat Pamungkas pergi, tapi siapa tau saja, setelah bangun istrinya itu ingin mengganti baju atau apa.
Di tengah perjalanan, saat menaiki motornya, laki laki itu tidak bisa menguasai dirinya, ia begitu bahagia, air mata harunya tumpah begitu saja melalui sudut matanya dan terbawa angin.
jika orang sekitar melihat, tentu saja mereka akan bingung, entah Pamungkas sedang tersenyum atau menangis, semua perasaannya campur aduk begitu saja.
Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan, tidak pernah ia nantikan karena ia menghargai dan memahami kondisi istrinya.
Sejak ia tau Ratih tidak kunjung hamil saat pernikahan pertamanya, ia sudah tidak berharap untuk memiliki keturunan,
Ia hanya di ingin hidup bahagia berdua dengan Ratih, itu saja sudah cukup baginya.
Namun tak di sangka.. Tuhan mengirimkan sebuah keajaiban, dalam kondisi yang tidak menyenangkan selam a sebulan terakhir ini, istrinya hamil.. benar.. Istrinya itu sedang hamil..
Yang jelas, karena begitu bahagianya.. laki laki itu menangis di sepanjang jalan pulang.
Sekitar sejam ia berada dirumahnya, ia lalu kembali ke rumah sakit.
ia menggunakan jaket dan training hitam dengan tas di punggungnya, langkahnya begitu cepat memasuki area rumah sakit, karen ingin segera sampai di ruang rawat istrinya.
Setelah sampai, senyum Pamungkas begitu lebar ke arah Hendra dan Ana, namun senyum itu lenyap saat ia melihat Ratih memandangnya dengan muram, lalu membuang pandangannya ke arah lain saat Pamungkas mendekat dengan hati yang berdesir tak karuan, tegang, bahagia.
Melihat suasana yang canggung, Hendra dan Ana memutuskan untuk pulang, memberi waktu untuk Ratih dan Pamungkas.
Pamungkas menggenggam tangan Ratih,
lalu mencium kening Ratih dengan lembut, dan membelainya,
" kau sudah tau?" tanya Pamungkas hati hati, hatinya masih berdesir, kebahagiaannya begitu melesat tinggi di atas kepalanya, namun wajahnya tetap terlihat begitu tenang.
" bahwa aku hamil?" suara Ratih bergetar, namun tak memandang suaminya.
Pamungkas melihat air mata turun kembali dari sudut sudut mata istrinya.
" Iya.. Kau hamil yang..." Ujar Pamungkas sembari mengusap air mata Ratih dengan hati hati.
" Kau harus istirahat, jangan pikirkan apapun.." Pamungkas mengecup kening Ratih kembali, lalu turun mengecup bibir Ratih.
__ADS_1
Tak ada yang bisa membayangkan, betapa bahagianya hati Ratih saat mamanya memberitahunya bahwa ia sedang hamil, goncangan yang ia rasakan beberapa hari kemarin sirna begitu saja, ia bahkan beberapa kali memegangi perutnya, tak percaya,
" apa mungkin dokter salah mendiagnosa??" tanyanya berkali kali dalam hati.
" Apa benar aku tidak mandul?" itu juga pertanyaan yang berputar putar di kepalanya, perasaannya bahagianya bercampur dengan ketidak percayaan.
Kondisi Ratih cukup stabil ke esokan harinya, ia mulai makan dengan baik, dan wajahnya sudah tidak begitu pucat lagi, ia juga makan semua makanan yang di suapkan oleh Pamungkas.
namun keadaan kembali canggung saat Sekar tiba tiba saja datang berkunjung,
" Selamat ya mbak, aku turut senang.." ujar Sekar sembari menaruh sekotak kue di meja, lalu menyerahkan satu buket bunga kepada Ratih.
Mau tidak mau Ratih tersenyum, meski senyumnya itu terlihat di paksa.
" Terimakasih," ujar Ratih.
" Kudengar kehamilan mbak sudah delapan minggu.. Jangan capek capek ya mbak,"
" iya," jawab Ratih pendek dan memaksakan senyumnya, ia melirik suaminya sekilas, Pamungkas terlihat penuh senyuman, wajahnya begitu bahagia,
Melihat itu Ratih diam, entah apalagi yang ia pikirkan yang jelas kehadiran Sekar membuatnya tidak nyaman.
Setelah beberapa lama berbincang, akhirnya Sekar memutuskan pamit karena harus bekerja,
Entah kenapa sejak kepergian Sekar suasana kembali menjadi canggung, Ratih terlihat berkali kali membuang wajah saat Pamungkas memandangnya.
Pamungkas yang melihat itu hanya bisa menghela nafas dengan sabar, ia faham sekarang, bahwa kehamilan juga sangat mempengaruhi mood seseorang, jika sebelumnya ia akan bertanya, maka sekarang ia hanya diam dan mencoba mengerti.
" Pulanglah, kau pasti lelah." ujar Ratih tiba tiba saat malam menjelang,
" Aku tidak lelah, sudah kewajibanku menjagamu.." jawab Pamungkas dari sofa.
" gara gara aku sakit kegiatan mas pasti terganggu, maka pulanglah, siapa tau mas ada kepentingan." ujar Ratih dengan nada kaku.
Pamungkas yang sejak tadi diam, akhirnya bangkit dari sofa dan mendekat ke istrinya.
" Ada apa? ngotot sekali menyuruhku pulang? Apa ada seseorang yang akan datang kesini menjengukmu?" tanya Pamungkas sedikit kesal,
" memangnya siapa yang mau menjengukku?" Ratih memandang suaminya,
__ADS_1
" mantan suamimu mungkin." nada Pamungkas penuh kecemburuan.
" Wah, aku menyuruh mas pulang karena mungkin mas ada janji lain dengan seseorang, tapi kenapa justru aku yang di salahkan?" Ratih tersenyum kecut.
" Aku tidak punya janji dengan siapapun, aku bahkah menolak bisnisku di luar sana karena ingin fokus menjagamu"
" karena terpaksa?"
" terpaksa? Kenapa aku harus terpaksa? Jangan aneh aneh pikiranmu Rat,
sedari tadi kulihat kau memang sengaja mencari masalah,"
" aku tidak mencari masalah, ku hanya tidak ingin menganggu kesibukanmu, siapa tau kau punya janji bertemu dengan seseorang, apa aku salah?"
Keduanya saling menatap.
" Justru aku yang heran, kenapa tiba tiba kau menyuruhku pulang, tidak ada angin tidak ada hujan, siapa yang mau berkunjung?" Pamungkas menatap Ratih serius.
" Jangan macam macam Rat, aku tidak ingin kau di sentuh siapapun, aku akan membunuhnya meski hanya menatapmu saja."
" itu hal yang paling tidak masuk akal, tidak ada laki laki lain yang pernah menyentuhku selama aku menjadi istrimu?!"
" kau memang tidak, tapi ada orang di luar sana yang masih mengharapkan mu, aku tidak tau betapa kecewanya dia mendengar mu akhirnya mengandung anakku"
" itu bukan urusanku."
Tegas Ratih.
melihat mata Ratih yang berkilat marah, Pamungkas tiba tiba tersadar, bahwa dirinya sudah bersalah karena ikut tersulut.
Di tenang kan dirinya, mengingat istrinya itu sedang hamil.
" Sudahlah, aku akan tetap disini dan tidak akan pulang, jadi jangan menyuruhku pulang." ujar Pamungkas lebih tenang dan kembali duduk di sofa.
" Aku mau tidur di mama setelah pulang dari sini." ujar Ratih saat Pamungkas sudah duduk tenang.
" kenapa?" tanya Pamungkas tenang,
" kangen saja tidur dengan mama, tidak boleh?"
__ADS_1
Mendengar itu Pamungkas menghela nafas,
" terserah kau saja." ujar nya menahan diri, ia tidak mau beradu pendapat dengan istrinya lagi.