Om Pamungkas

Om Pamungkas
apa kau baik baik saja?


__ADS_3

Pagi itu itu Ratih ke cafe seperti biasanya, meski perasaannya masih belum membaik, namun ia tetap menyibukkan diri.


Menata buku buku yang sesungguhnya sudah tertata rapi,


Mengelap meja yang sesungguhnya sudah di lap oleh pekerjanya.


" Mbak.. Pulang saja kalau tidak enak badan.." ujar salah satu pekerjanya karena sikap Ratih sedikit berbeda, wajahnya pun terlihat lesu meski di paksakan bergerak.


" Aku tidak apa apa, kalian lanjut saja.." ujar Ratih,


Dirinya memang dirasa sedikit kurang tidur,


Bagaimana bisa tidur, pikirannya kemana mana meski Pamungkas tergolek disampingnya.


Ia takut suaminya itu nekat mengajukan pindah tanpa persetujuannya,


Meski sudah di nasehati oleh papa mamanya, tetap saja..


Ratih takut Pamungkas nekat karena tau bahwa dirinya sempat berbincang dengan Arga.


Tidak hanya tidur, namun makannya pun berkurang,


Pertengkarannya dan suaminya kali ini benar benar menguras tenaganya, pamungkas juga tidak pernah bersikap sefrontal malam itu, dengan tiba tiba memutuskan pindah dan mencengkeram tangan Ratih dengan menyakitkan.


" Klining..!" suara pintu cafe terbuka,


Seseorang yang lama tidak Ratih lihat,


" Wang..?!" Sapa Ratih senang.


Laki laki yang rambutnya sempat pendek itu, kini kembali gondrong, namun seperti biasanya, tak mengurangi aura Iwang yang kalem itu.


" Hai.. Kangen denganku?" sapa Iwang sembari duduk di salah satu kursi.

__ADS_1


" Kau kemana saja??" Ratih menyusul duduk,


Iwang mengulas senyum,


" sibuk menarilah.. Mau sibuk apa.." ucapnya kalem.


" tapi sudah lama sekali kau tidak menjengukku?" Ratih cemberut,


" aku sibuk wong ayu.. Kan tahun ajaran baru kemarin itu.." jelas iwang.


Keduanya berbincang, selayaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu, namun tiba tiba wajah sumringah Iwang berubah menjadi sedikit serius.


" Rat.. Sesungguhnya aku benar benar sibuk, tapi aku menyempatkan diri kesini karena ada yang ingin kutanyakan kepadamu..?"


Senyum Ratih menghilang mengikuti wajah serius Iwang.


" Bertanya sesuatu.. Apa itu Wang?" tanya Ratih pelan.


Iwang terdiam cukup lama, ia terlihat bimbang, dan Ratih membaca bimbangan itu.


" Emmhh.. Apa.. Apa kau baik baik saja?" akhirnya iwang bertanya,


" seperti yang kau lihat, aku sehat.." Ratih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


" maksudku.. Kehidupan rumah tanggamu?"


Deg.. Ratih membisu cukup lama, ia kaget dengan pertanyaan Iwang.


" Apa.. Apa kau bahagia?" tanya iwang lagi melihat kegelisahan di mata Ratih.


Ratih menghela nafas,


" Tentu saja aku baik baik saja, rumah tanggaku juga," jawab Ratih tenang.

__ADS_1


" Memangnya kenapa? Ada apa kau tiba tiba saja bertanya tentang itu?" imbuh Ratih,


" ah tidak.. Aku.. hanya penasaran saja.." Iwang memaksakan senyumnya,


" katakan saja, jangan menyembunyikan apapun yang kau ketahui dariku, jika kau memang menganggapku teman..".


Iwang diam cukup lama, ia terlihat benar benar bimbang.


" apa.. Suamimu baik padamu?" tanya iwang kemudian,


" sejujurnya.. Kami sedang bertengkar.."


" bertengkar karena??"


Ratih diam,


" yah biasalah.. Rumah tangga,"


" tapi di tetap pulang?" pertanyaan Iwang membuat Ratih semakin Yakin, jika hal yang akan di katakan iwang bukanlah hal yang sepele.


" katakan saja Wang, apa yang kau ketahui, aku tidak mau main tebak tebakan, aku lelah.." ucap Ratih menunjukkan wajahnya yang memang letih dan kurang tidur.


" Anu.. Aku.. Mungkin salah sangka, apa kau punya saudara perempuan?"


" kau melihat suamiku bersama perempuan?" tanya Ratih langsung ke akarnya.


Iwang diam lagi,


" perempuan itu berambut sebahu?" tanya Ratih membuat iwang memandangnya ganjil.


" dimana kau melihat suamiku dan perempuan itu?"


" di.."

__ADS_1


" dimana?!" tegas Ratih,


" di salah satu mall.. Di salah satu toko perhiasan, mereka.. sedang memilih milih cincin emas sepertinya..".


__ADS_2