
Ratih berjalan mengikuti suaminya, melewati kebun yang ada disamping rumahnya.
" Sudah pulang sana," ujar Pamungkas,
" sendirian dirumah? inikan sudah malam?" Ratih terus saja menempel.
" Lho? malam malam pak?" Pak Agus buru buru bangkit melihat Pamungkas, kebetulan pintu rumah pak Agus sedang terbuka.
" Monggo Monggo.. masuk, ibu juga ikut tho?" pak Agus mempersilahkan keduanya masuk.
Ratih hanya diam menunggu suaminya ngobrol dengan pak Agus.
Ngalor ngidul entah apa yang para laki laki itu bicarakan, hingga satu jam berlalu, akhirnya Pamungkas pamit.
Melihat jalanan yang gelap menuju rumahnya tentu saja Ratih terus menempel.
Lampu jalanan yang kurang terang membuat pepohonan rimbun di sekitar semakin menyeramkan untuk Ratih.
" ini konsep jalanmu bagaimana? kok mepet ndusell ae..?" Pamungkas yang di dorong dorong lama lama kesal juga.
" Ayo cepat jalannya? gelap..?!" keluh Ratih memegang erat lengan Pamungkas.
" Kenapa ikut kalau takut gelap?"
" dirumah sendiri malah takut.."
" istri tentara kok penakut.." gumam Pamungkas mengejek.
" Yang tentara kan sampean, bukan aku.." sahut Ratih.
" Ya tetap saja.. masa tiap aku piket mau tidur dirumah lama terus?"
" siapa yang suruh beli rumah terpencil?"
" eh.. disini udaranya sehat.. bebas polusi.."
" iya iya.. bebas polusi, tapi serem.."
" siapa yang menyangka aku punya istri penakut.."
__ADS_1
" ngejek terus?!" protes Ratih.
Keduanya sampai dirumah, Ratih mengganti bajunya dan bersiap siap untuk tidur.
Wajah Pamungkas masih datar, ia tidur dengan celana pendeknya seperti biasa.
" Belum selesai bicara lho tadi?" Ratih memeluk pinggang suaminya seperti anak anak yang memeluk boneka beruang besar.
" Waktunya tidur," jawab Pamungkas pendek.
" Ya sudah.. minta maaf ya sayang..?" ujar Ratih, membuat Pamungkas langsung memandangnya,
" apa?" tanya Pamungkas,
" minta maaf sayang.." Ratih mengulangi.
" Memangnya salah apa?" Pamungkas masih belum puas,
" sepertinya karena aku terus memanggil om.." .
Mendengar itu Pamungkas sedikit tersenyum.
" Di usahakan seterusnya, tapi kalau lupa di ingatkan," Ratih erat memeluk Pamungkas.
Boneka beruang besar itu berbalik, dan memeluk istrinya balik.
" Dari kemarin kemarin begini kan beres.." ujar Pamungkas sembari mengangkat gaun tidur Ratih.
Arga berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Rumah yang sudah tiga puluh hari tidak ia lihat.
Tias menyambutnya dengan perutnya yang sudah terlihat besar.
" Mas? makan dulu ya?" Tias beritikad baik, namun Arga membuang muka dan terus saja berjalan ke kamar.
" Aku mau tidur sendirian, kau tidur di kamar lain saja." ujar Arga dingin.
" Aku ini istrimu lho mas?" Tias mengikuti langkah Arga.
__ADS_1
" lalu kenapa?" Arga masih dingin.
" kok bisa bisanya mas Arga bicara seperti itu, bahkan saat aku mengandung anakmu?"
Arga terlihat kesal.
" Jangan banyak bicara, aku di mutasi ke papua, daerah yang rawan dengan konflik.
Inikan maumu? supaya aku tidak bisa bertemu dengan Ratih lagi?"
" Aku memang tidak ingin mas bertemu dengan Ratih lagi, tapi perkara hukumanmu bukan aku yang bisa menentukan, bukankan mas sendiri yang ngamuk seperti orang gila di pernikahan Ratih?
sudahlah, dia sudah menikah dengan omnya,
mas mau apalagi?
merebutnya?
sebelum merebut mungkin tanganmu sudah patah terlebih dahulu oleh suaminya??"
" tutup mulutmu! aku hanya kalah pangkat!"
" tidak, kau kalah dalam segala hal,"
" Kau diam atau kutampar?!" Arga semakin marah.
" Menyingkir! dan jangan coba mengikutiku kemanapun aku pergi nanti,
awas saja kalau kau bertingkah terus seperti parasit!".
Tias mundur, ia keluar sebelum di pukul.
Sungguh kecewa dirinya akan sikap Arga yang tidak ada baik baiknya,
layaknya seorang istri yang sedang hamil besar, ia ingin di belai, di manjakan, dan di beri kalimat kalimat yang baik.
Tapi kenyataannya sangat terbalik..
" Yang sabar ya nak.. doakan mama.." ujar tias lirih sembari mengelus perutnya.
__ADS_1