
Pamungkas sedang berdiri di depan kaca, mengancingkan satu persatu kancing baju seragamnya.
Sementara Ratih baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.
" Hasil memancingku dan mas Adi semalam lumayan banyak Rat," ujar Pamungkas melirik rambut basah istrinya.
" tapi aku tidak melihat ikan satupun yang mas bawa pulang?" Ratih membuka handuknya begitu saja.
Pamungkas menatap istrinya dari cermin, cukup lama, ia memperhatikan bagaimana istrinya itu mengolesi tubuhnya dengan body cream secara merata di tangan kaki dan bagian lain.
Bau harumnya sungguh menggelitik perasaan Pamungkas tiba tiba.
Entah muncul dari mana rasa cemburu karena bau tubuh istrinya yang terlalu wangi karena body cream itu.
Ada rasa tidak senang dan tidak terima kenapa tubuh yang sudah indah itu masih di tambah tambahi dengan bau harum yang mungkin saja bisa menggoda hidung para pembeli di cafe nanti.
Pamungkas yang sudah berseragam lengkap itu mendekat,
Ia berdiri di hadapan Ratih yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur itu sembari membuka kembali kancing baju seragamnya.
Ratih menatap suaminya itu polos, seakan tak tau apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh Pamungkas.
" Apa sih mas??" Ratih mengerutkan alisnya dan melanjutkan tangannya yang sibuk mengolesi tubuhnya.
" Untuk apa?" tanya Pamungkas mengambil body cream itu dan meletakkannya di meja rias.
" mas??" Ratih memberingsut sembari mengambil handuk yang ada disampingnya,
" untuk apa berdandan cantik dan wangi setiap hari?" tanya Pamungkas melepas baju seragamnya.
" Tentu saja supaya terlihat baik, apa mas mau aku terlihat berantakan dan bau?"
" tentu tidak, jangan terlalu cantik dan wangi.. Aku tidak suka yang.." ujar pamungkas hanya menyisakan celana pendeknya saja lalu mengejar Ratih naik ke atas tempat tidur.
" Ya Ampun, bukankah kita harus bekerja??!" Ratih menutupi dirinya,
" siapa yang menyuruhmu menggodaku pagi pagi?"
" aku??"
" siapa lagi yang ada di kamar ini? Jangan terlalu cantik yang, kalau kau di bawa kabur orang nanti aku yang repot?" Pamungkas menangkap Ratih dan menindihnya,
" ampun Yang..? aku harus belanja, anak anak sudah menungguku, nanti saja pulang dari cafe ya?" bujuk Ratih, namun Pamungkas sepertinya sudah di ujung tanduk.
" Nanti tidak ada waktu, pulang dari cafe kau ke mbak Ana, bantu mbak Ana memasak karena kita akan membuat ikan bakar,
Aku juga akan menyusul setelah pulang kantor.." bisik Pamungkas di telinga istrinya, lalu turun ke leher mengecup kulit yang harum itu.
" Ahh.. Sudah kukatakan jangan terlalu harum.." keluh Pamungkas yang rupanya sudah tidak tahan.
Sore,
betapa terkejutnya Ratih saat melihat Sekar berada dirumah orang tuanya, ia terlihat sedang sibuk membantu mama Ratih membersihkan ikan ikan hasil pancing papanya dan suaminya.
" Sudah lama?" tanya Ratih kikuk, sejak kejadian di bengkel waktu itu, ia tidak begitu senang dengan sosok sekar,
Perempuan itu seperti tidak peka terhadap perasaan sesama perempuan.
__ADS_1
Tapi kenapa dia disini, apa mas hendra yang mengundangnya? Atau justru suamiku?, apa suamiku benar benar menganggapnya adik? Tapi.. Apa sekar juga menganggap suamiku kakak? Atau...
Di buang pikirannya yang tak karu karuan itu,
suaminya adalah laki laki baik yang bertanggung jawab, jadi tidak mungkin ada hal semacam itu diantara mereka.
" Baru saja mbak.." jawab Sekar tersenyum manis.
" Mas Hendra mana ma?" tanya Ratih,
" hendra masih di bengkel.." jawab mamanya sembari mengupas bumbu.
Mendengar Hendra masih di bengkel, Ratih semakin heran,
Kalau kakaknya itu hendra masih di bengkel, lalu siapa yang mengajak Sekar kesini?.
Ratih berjalan keruang tengah, menaruh tasnya.
" Arangnya mana ma?" tanya Ratih mendekat lagi ke dapur.
" Arangnya suamimu yang mau belikan katanya, sebentar lagi dia sampai.."
" mas Pam telfon mama barusan?" tanya Ratih sedikit tidak nyaman, ia melirik Sekar sekilas.
" Iya, kenapa kok cemberut begitu?"
" mana ada Ratih cemberut ma?"
" kalau capek rebahan dulu, toh hendra belum pulang.." ujar mamanya,
" bumbu sudah selesai, ikan sudah di bersihkan sekar, sudah tidak ada pekerjaan lagi.. Tinggal tunggu suamimu membawa arang.." jelas mamanya, Ratih melirik pekerjaan Sekar,
Ikan yang bertumpuk itu memang sudah hampir selesai di bersihkan.
" piring dan nasi juga sudah selesai, iyakan mbok karto?" mamanya mengajar bicara mbok Karso yang sedang mengelap piring dan sendok di samping meja makan.
" Nggih bu, sampun sedoyo.. ( iya bu, sudah semua..)" sahut mbok Karto.
Tak lama Pamungkas datang, wajahnya terlihat begitu cerah dengan kedua tangan membawa plastik besar berisikan arang.
Tak terlihat lelah setelah bekerja sedikitpun, ia tampak segar dengan rambut yang masih tertata dengan pomade.
" Dimana Hendra yang?" tanya Pamungkas berjalan mendekat ke istrinya, mencium kening istrinya, lalu melanjutkan langkahnya ke taman belakang.
Setelah menaruh arang arang itu Pamungkas mencuci tangannya di dapur.
Ada Sekar disana, keduanya terlihat saling menyapa dengan senyuman manis, tentu saja hal itu tak lepas dari pandangan mata Ratih.
" Mas Hendra belum datang, memangnya tidak janjian?" tanya Ratih,
" tidak, kukira mbak ana sudah memberitahunya?" Pamungkas melangkah keruang tengah, dimana istrinya duduk.
" Dia bilang banyak pekerjaan, mungkin sebentar lagi dia pulang," sahut Ana,
" mas Adi kemana?" tanya Pamungkas sembari membuka baju seragamnya.
" kerumah pak RT dari tadi, tidak tau ada urusan apa,"
__ADS_1
" oh.." sahut Pamungkas yang berkaos loreng itu merebahkan dirinya di sofa.
" Kopi Yang.." pinta Pamungkas pelan,
" makan juga belum sudah minta kopi?"
" biar ndak ngantuk.. Ayo tho.."
" mandi sana,"
" mamangnya kau sudah mandi??" tanya Pamungkas,
" aku juga juga baru datang,"
Mendengar itu Pamungkas tersenyum,
" ya sudah, mau ke kamarmu atau ke kamarku?" Pamungkas bangkit,
" jangan mulai, tidak capek apa?" Ratih sudah membaca apa yang di maksud suaminya.
" Mandi saja, tidak enak mandi sendirian.. Ayo ayo..?" ujar Pamungkas setengah berbisik, lalu menyambar tangan istrinya dan menariknya agar ikut bangkit dan mengikuti langkah Pamungkas.
Sesungguhnya Ratih lelah menuruti kemauan Pamungkas yang tidak ada lelahnya, tapi diam diam dia juga senang karena meski ada Sekar disana, suaminya tetap bersikap hangat dan memperhatikannya, itu berarti perasaan Ratih saja yang berlebihan,
Ratih diam diam tersenyum dan mengikuti langkah suaminya menaiki tangga.
setelah magrib ikan mulai di bakar di taman belakang, seperti biasa, Pamungkas dan Hendra yang turun tangan.
" Ayo nak sekar, makan yang banyak jangan malu malu.." ujar Adi pada Sekar saat semua sudah mulai makan.
" Iya, makan yang banyak dek.. jangan sungkan sungkan, kami tangkap ikan banyak.." Pamungkas ikut menimpali dengan mulut penuh ikan.
Ada beberapa sisa ikan yang masih Pamungkas bakar, namun Ratih tak henti menyuapinya.
" Wes om, ikannya sudah banyak, jangan bakar lagi.. Makan sendiri sana lho, kayak bayi ae di suapi..!" komentar Hendra.
" Lho? Iri? Mangkannya cepat nikah sana..!" ejek Pamungkas, dengan tangan sibuk membolak balik ikan.
" ih, mana ada iri sama om," balas Hendra membuat Adi dan Ana tertawa, termasuk Sekar.
" Sudah mas, matikan kipas anginya.." ujar Ratih mengambil ikan ikan yang sudah matang, memindahkannya ke piring, dan meletakkannya di atas tikar, di tengah keluarganya yang sedang makan.
Yah, mereka menggelar tikar di atas rumput dan makan lesehan di halaman belakang.
" pekerjaanmu banyak ya mas?" tanya Ratih pada Hendra, ia jarang sekali bicara pada kakaknya itu karena kesibukan.
" Lumayan banyak, om Pam sih, sekarang jarang ke bengkel?!" protes hendra,
" iya, mancing terus sama papa Hen, jangan protes.. Mumpung papa semangat ini..!" sahut Adi,
" ah! Papa.. Hendra kan jadi ribet, tidak mau taulah om, tetap datang ke bengkel untuk mengecek, supaya hendra tidak bingung ini itu?!"
Mendengar protes dan wajah hendra yang serius itu, Pamungkas tertawa,
" Iya iya, aku akan ke bengkel.. sudah jangan ribut, ayo habiskan ikannya.." jawab Pamungkas tenang lalu melirik Ratih.
" makan yang banyak.. Ini hasil pancing suamimu.." ujarnya pelan disamping istrinya, terlihat kasih sayang yang begitu besar di mata Pamungkas.
__ADS_1