
Ini hari sabtu, Pamungkas tak terlihat dirumah.
Entah apa yang laki laki itu kerjakan di hari libur, semenjak pertengkaran malam itu Ratih tak pernah berbicara bahkan bertanya tentang apapun.
Ratih merasa kurang sehat seminggu ini, kepalanya sakit terus menerus, biasanya sakit kepala ini akan langsung hilang dengan obat sakit kepala, tapi ini tidak, hilang sejam dua jam setelah itu muncul kembali.
Ratih yang sedari pagi ada dirumah, itu akhirnya memesan taksi online dan berangkat sendiri kerumah sakit.
Ia sengaja datang kerumah sakit besar karena ingin tau apa yang menjadi penyebab sakit kepalanya.
Sesampainya di rumah sakit ia duduk menunggu antrian, wajahnya sedikit pucat karena menahan sakit kepala.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya giliran Ratih yang masuk ke ruangan.
Ratih masuk ke dalam lift, ia berniat turun karena sudah selesai dengan pemeriksaannya.
Tapi tak disangka, Arga masuk ke dalam lift yang ia naiki.
" Rat?" Arga terlihat terkejut,
" kau sedang apa disini?" tanya Arga,
" Kerumah sakit ya periksa." jawab Ratih datar, ia berniat keluar dari lift, tapi Arga mencegahnya,
" setidaknya jenguk anakku.. baru pergi Rat..?" laki laki itu terlihat lelah dan kurang tidur, tangannya tak lepas dari lengan Ratih.
Pamungkas yang tidak melihat istrinya dirumah segera menyusul ke cafe, tapi di cafe juga tidak terlihat istrinya.
Kebetulan ada Iwang yang sedang asik duduk dan membaca buku.
" Lho? Ratih mana mas?" tanya Iwang menyalami Pamungkas yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
" ku kira kesini, dirumah tidak ada.." jawab Pamungkas dengan nada lelah.
" Mungkin ke wilis, atau ke pasar bunga?" ujar Iwang,
" Memangnya buat apa dia ke pasar bunga terus menerus? mau jualan bunga?" sahut Pamungkas.
Mendengar jawaban Pamungkas Iwang menutup bukunya.
" Maaf mas.. saya benar benar minta maaf kalau harus sedikit lancang..
apa mas dan istri sedang ada problem?" tanya Iwang tiba tiba.
Pamungkas terdiam, rupanya nada bicara dan ekspresinya sudah terlihat jelas.
" tidak, aku hanya sedang lelah terhadap diriku saja.." jawab Pamungkas pelan.
Ria datang, menaruh secangkir kopi hitam di depan Pamungkas.
Pamungkas sedikit terkejut, malu juga, ia bahkan tidak tau kalau istrinya sedang sakit.
Ini semua karena hubungan mereka yang memburuk.
" Ngapunten mas.. yang namanya tias itu sering kemarin..
menganggu mbak Ratih.." imbuh Ria, perempuan itu merasa harus menyampaikan itu pada Pamungkas, karena Ria ikut khawatir melihat situasi dan perubahan perasaan Ratih yang sering buruk akhir akhir ini.
" Tias?" ulang Pamungkas,
" iya.. saya tidak tau perempuan itu siapa, tapi setiap perempuan itu datang kesini, mood mbak Ratih selalu buruk",
Pamungkas diam, terlihat berpikir.
__ADS_1
" Masa lalu yang tidak di selesaikan dengan baik sering kali menjadi bomerang.." ucap Iwang pelan, membuat Pamungkas memandangnya.
" Kembalilah bekerja Ria," perintah Pamungkas.
Mendengar itu Ria mengangguk dan segera pergi, meninggalkan Pamungkas dan Iwang berdua.
" Istriku pernah menceritakan sesuatu?" tanya Pamungkas serius,
" Dulu, sebelum menikah dengan sampean.. tapi setelah menikah dia tidak pernah menceritakan apapun, dia bilang mas adalah suami yang baik dan perhatian, tidak ada yang bisa ia keluhkan.." Iwang mengulas senyum,
" lalu apa yang dia ceritakan sebelum menikah denganku?" Pamungkas menunggu,
" perihal sakit hatinya saja mas.."
" pada mantan suaminya?"
" yah.. apalagi saat tau selingkuhan suaminya itu hamil, Ratih benar benar kacau.."
" kacau?"
" iya, dia merasa gagal menjadi perempuan, menikah sekian tahun dengan mantan suaminya tapi ia tak juga hamil,
tapi mantan suaminya malah dengan mudah mendapatkan anak dari perempuan lain,
kukira.. kalau aku berada di posisi Ratih aku juga akan merasakan hal yang sama mas..
Sedih dan tidak percaya diri..".
Iwang berharap, dengan mengatakan semua itu bisa menambah pengertian pada Pamungkas agar lebih memahami perasaan istrinya.
Namun Iwang tidak tau apa yang di tangkap Pamungkas, yang jelas laki laki itu hanya diam, dan membuang pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1