Om Pamungkas

Om Pamungkas
makan dirumah


__ADS_3

Pamungkas berdiri di depan pintu sel.


Sementara Arga duduk diam di atas lantai ubin yang dingin itu.


Wajahnya habis babak belur, namun ia masih tidak mau juga memberi hormat pada Pamungkas.


" Kau tidak menyesali nya?" tanya Pamungkas tenang.


" tidak." jawab Arga,


" kenapa kau tidak menyesalinya?"


" karena saya mencintai Ratih." jawab Arga Angkuh,


rupanya rasa sakit dan rasa malu belum membuatnya sadar.


" Kau sudah melakukan kejahatan, menganggu, merusak,


jangan gunakan cintamu sebagai dalih.


Banyak orang yang di mabuk cinta di luar sana, tapi mereka bisa menahan diri mereka dengan baik." ujar Pamungkas masih tenang.


" Anda sengaja bukan?!, anda sengaja pindah kesini untuk menekan saya?!,


meski hanya beberapa kali saya bertemu anda dulu, tapi saya tau anda menyimpan perasaan selain saudara pada Ratih.


Saya menyesal mendiamkan hal itu?!" Arga masih tetap duduk dan bersandar, ia tidak punya tenaga untuk bergerak.


" Bukankah itu sebuah kesempatan yang kuberikan untukmu,


kau bisa menjaganya dengan baik, membahagiakannya,


tapi kenapa tak kau lakukan?" nada Pamungkas muli tajam.


" Harusnya kau diam dan menerima kenyataan..


keributan yang kau timbulkan sungguh membuatku malu,


apa kau tau, tanganku ini, kakiku ini, begitu ingin memukul dan menginjakmu." Pamungkas mendekat, agar suaranya dapat di dengar jelas oleh Arga.


" Setidaknya turunkan keangkuhamu, kau seorang putra, ibumu menangis memohon padaku,


apa kau sama sekali tidak kasihan dengan orang tuamu?"


Arga membeku, ia tak lagi menjawab.


" kuberi kesempatan kedua, mengingat ibumu memohon padaku dan istrimu juga sedang hamil besar,


meski aku bisa menghabiskan karirmu sekarang, itu tak kulakukan..


Aku mencintai Ratih, aku tidak mau istriku melihatku sebagai laki laki yang kejam dan tidak berbelas kasih.


Setelah ini, jalankan perintah dengan baik dan jangan pernah lagi kau menunjukkan wajahmu pada istriku, sampai kau mati".


Fakih mengejar langkah Pamungkas sampai parkiran.


" Kau diam diam saja langsung pulang?" protes Fakih,

__ADS_1


" apalagi bang? aku sedang malas lama lama di kantor" jawab Pamungkas melepas helmnya.


" Tapi kau sudah bicara dengan komandan kan?"


" Ya sudahlah.."


" di lempar kemana dia?" tanya Fakih penasaran,


" nanti abang tau sendiri.." jawab Pamungkas memakai helmnya lagi.


" Aku pulang dulu bang, bosan aku jawab pertanyaan orang orang disini," Pamungkas pamit, di menaiki motornya keluar dari lingkungan kantor,


melewati beberapa pos, menerima perlakuan hormat dari setiap penjaga, hal yang sesungguhnya cukup membosankan untuknya.


Dulu, ia tak pernah berpikir sekalipun untuk menjadi seorang tentara.


Setiap melihat seseorang berpakaian loreng kepalanya selalu tertunduk, hatinya carut marut, kesal kecewa benci.


Sosok ayahnya yang tega dan tidak bertanggung jawab begitu melekat.


Namun atas bujukan ibu dan bapak sambungnya ia berhasil menjadi seorang perwira.


Ibunya berkata,


" kelak.. jika kau sudah sudah punya jabatan, jangan pernah diam saja melihat istri istri anggotamu yang meminta bantuan padamu..


jangan pernah lelah jika mereka datang menangis dan mengadu..


jika bukan kau, siapa lagi yang akan mengayomi..".


" Sul...!" Pamungkas berhenti di hadapan laki laki yang terlihat susah payah mendorong gerobaknya.


" Ayo tak gonceng..! dalane munggah ngunu Sul..! ( ayu tak bonceng..! jalannya nanjak begitu Sul..!)" ujar Pamungkas.


" Owalah wes rausah Pam, wes biasa bendino yo ngene..( owalah sudah tidak usah Pam, sudah biasa setiap hari begini..)" jawab si Samsul.


Pamungkas menghela nafas kesal,


" Wes tho Sul, ndang munggah!, opo awakmu seng gonceng terus aku seng narik gerobakmu? ( sudahlah Sul, cepat naik!, apa kamu yang bonceng terus aku yang narik gerobakmu?)" tawar Pamungkas takut Samsul payah.


Samsul akhirnya mengalah melihat gigihnya Pamungkas menawarkan dirinya.


" Ya wes, aku seng gonceng awakmu seng narik, gelem ora? seragaman ngunu ra isin?? ( ya sudah, aku yang bonceng kamu yang narik, mau tidak? berseragam begitu apa tidak malu?)" tanya Samsul.


" Isin opo? lambemu?! ( malu kenapa? mulutmu?!)" Pamungkas melempar tawa, ia turun dari motornya, membiarkan Samsul yang di depan, lalu dirinya duduk di belakang sembari kedua tangannya kuat menarik gerobak.


Di jalan tidak satu dua orang yang dengan sengaja melihat Pamungkas dan Samsul, tentu saja karena itu pemandangan yang jarang.


Gerobak yang berat itu jadi terasa ringan karena keduanya malah bercanda sepanjang jalan.


" Sul.. sego gorengmu lak enak ya..? ( sul, nasi gorengmu kan enak ya?)" ujar Pamungkas keras agar suaranya tak hilang terbawa angin.


" Piye lek sewa tempat, ben awakmu ora kesel kesel nyurungi gerobak ae bendino teko omah.. ( bagaimana kalau sewa tempat, biar kamu tidak capek capek dorong gerobak dari rumah..)" imbuh Pamungkas.


" Walah pam, malah ribet, dananya juga ndak onok buat sewa tempat.. wes ngene ae, sing penting berkah.." Sahut samsul, ia fokus ke jalan raya.


" Tak bantu Sul?" ujar Pamungkas membuat Samsul sedikit kaget.

__ADS_1


" Awakmu temenan ta iki? ( kamu serius ini?)" tanya Samsul,


" iyoo.. tak silihi duwet gae sewa tempat..( iya.. tak pinjami uang buat sewa tempat..)"


" wahh.. duwitmu okeh iki?! oleh buwuhan akeh rupane yoo? ( wahh.. uangmu banyak ini?! dapat amplopan nikah banyak rupanya ya?)" goda Samsul,


Pamungkas malah tertawa,


" Kamu itu jangan sungkan sama aku Sul, kalau ada apa apa cari aku yo?" ujar Pamungkas kemudian.


"Klinting..!" suara lonceng kecil yang menggantung di pintu selalu berbunyi saat seseorang memasuki cafe.


" Selamat datang..?! " Ujar Ratih dari meja kasir.


Wajahnya mendadak malu saat tau siapa yang baru saja masuk.


Pamungkas menghentikan langkahnya tepat di depan meja kasir.


" Kok istriku masih belum pulang?" tanya pamungkas sembari menghela tangan Ratih lalu mencium punggung tangannya.


" Malu banyak yang lihat??" Ratih malu karena banyak remaja disana,


" kenapa? halal.."


" iya tau halal, tapi kan malu om?"


" om lagi.." Pamungkas menggerutu,


Ratih keluar dari meja kasir dan menarik Pamungkas masuk ke dapur.


" Mbok ya kalau mau jemput ndak usah pakai seragam?" protes Ratih,


" ndak ada rencana, ini langsung dari kantor, ijin pulang duluan.."


" kenapa?"


" kok tanya kenapa?,


di kantor itu ribut permasalahan kita.. semua orang menatapku aneh sembari bicara entah apa.."


Ratih tertunduk,


" salahku ya om?"


" iya, salahmu.. harusnya dari dulu menikah denganku.."


" kalau itu sih salah om? kenapa tidak bilang.."


" ihh.. bisa saja menjawabnya?!" Pamungkas gemas dan mencubit pipi Ratih.


" Makan disini saja ya? biar aku minta Ria belikan nasi di cafe ujung jalan.."


" makan yang ada disini saja.." Pamungkas melingkarkan tangannya di pinggang Ratih.


" Tidak ada nasi disini om, hanya ada roti, wafle dan es cream..?"


" ya sudah, tutup saja.. kita bungkus dan makan dirumah.." ujar Pamungkas sembari mengecup bibir Ratih.

__ADS_1


__ADS_2