Om Pamungkas

Om Pamungkas
masih ingin


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dengan tenang, namun..


hari yang di takutkan Ratih akhirnya datang juga.


Orang yang paling tidak ingin ia lihat malah memperlihatkan dirinya,


Meski ia hanya berdiri di depan jendela cafe sembari memandangi Ratih yang saat itu sedang santai karena pengunjung sedikit.


" Ram, Rama?!" panggil Ratih pada salah satu pekerjanya,


" iya mbak?" Rama mendekat ke meja kasir.


" Kau lihat orang yang dari tadi berdiri di depan jendela itu?, bicara baik baik dengannya, suruh dia pergi..!" perintah Ratih.


Rama terlihat bingung,


" kenapa? Takut??!" tanya Ratih membaca kegelisahan Rama.


" nanti kalau saya di ajak berkelahi bagaimana mbak?" keluh Rama,


" ih, kau ini laki laki bukan sih?!"


" badannya tegap begitu mbak.. lha saya seperti layang layang begini mbak..??",


Jawaban Rama membuat Ratih menghela nafas.


" panggil saja mas Pamungkas mbak?"


" ah, bisa amburadul semua kalau dia yang datang, sudah lanjutkan pekerjaanmu..!" Ratih kesal.


Ratih melihat lagi keluar jendela, rupanya laki laki yang berdiri di depan jendela itu sudah pergi.


" Untunglah..." keluh Ratih sembari menghela nafas tenang, hampir saja pikirnya, jangan sampai seorangpun melihat Arganta berdiri di depan cafenya.


Pamungkas tampak payah, setelah masuk ke dalam rumah ia langsung mandi, mengganti pakaian, dan duduk di kursi meja makan.


" Nasi goreng.. Hemm.." pamungkas tersenyum lebar saat melihat nasi goreng di suguhkan di hadapannya.


Tentu saja, nasi goreng jawa buatan Ratih selalu enak, tidak hanya dirinya, hendrapun suka dengan nasi goreng buatan Ratih.


" Tambah lagi mas?" tanya Ratih saat melihat piring Pamungkas hampir kosong,


" Sudah, aku kenyang.." ujar Pamungkas meminum segelas air putih yang sudah di sediakan Ratih.


" Bagaimana hari ini? Banyak pengunjung?" tanya Pamungkas tidak biasanya, membuat Ratih sedikit heran.


" emhh.. Hari ini tidak banyak," jawab Ratih tenang.


" sabarlah, namanya jug berdagang.. Pasang surut.. Di nikmati saja.. Usaha nasi goreng temanku jug begitu, dia mengeluh sepi minggu minggu ini.."


" iya, bahan bahan makanan juga naik..",


Mendengar keluhan Ratih Pamungkas tersenyum.


" apa dirumah saja? Dan ikut kegiatan ibu ibu di kantor?"

__ADS_1


" ah, tidak.. Aku jualan saja.. Malas ketemu orang banyak setiap waktu.."


" dasar.." Pamungkas hanya tersenyum.


" besok aku memancing ya?"


" memancing lagi?"


" iya, ke laut.. Naik perahu.."


" dengan siapa?"


" teman kantor.. Mumpung libur.."


" mancing terus.."


" kau kerumah mama saja ya, biar tidak sepi disini sendirian.." ujar Pamungkas.


" Atau mau ikut? Sekali kali?"


" ah tidak, aku takut berada di tengah lautan lepas mas, bisa pingsan.."


" sejak kapan? Waktu di telaga sarangan kau baik baik saja?"


" itu telaga, terlihat ujungnya, bukan lautan yang tidak terlihat ujungnya mas??!",


Pamungkas tertawa, senang sekali melihat wajah kesal istrinya.


" oh iya, aku jalan jalan sajalah besok.." ujar Ratih tiba tiba, ia ingin mencoba cafe cafe baru di sekitaran soekarno hatta.


" mw ke suhat,"


" untuk?"


" yah ke cafe, terus lihat barang barang apalah,"


" dengan siapa?"


" dengan linda, ayu dan lainnya mungkin.. Biar ku telfon mereka sebentar lagi," jelas Ratih.


Pamungkas diam, tidak menjawab.


" mas mau pesan sesuatu?" tanya Ratih tidak peka kalau suaminya itu tidak begitu setuju.


" Tidak usah, setelah kepentinganmu selesai segeralah pulang, tidak usah keluyuran tidak jelas kalau aku tidak ada dirumah.."


" lho?? Kok begitu ngomongnya?" Ratih memandang suaminya serius.


" teman temanmu itu bujang," jawab Pamungkas memperlihatkan ketidaknyamanannya.


" lalu kalau mereka bujang?"


" mereka akan selalu membawamu ke masa lampau, tempat bermain dan kenangan kenangannya,"


Mendengar itu Ratih tertawa,

__ADS_1


" mas takut aku terbawa masa lalu dan lupa kalau aku ini istrimu?"


" ckk.. harusnya ku dulu membuat kenangan lebih banyak denganmu.." Pamungkas berdecak menyesal.


" yah, harusnya dulu om tidak lari.." Ratih mengejek menggoda suaminya.


" Siapa yang lari? aku tidak pernah lari.." Pamungkas tidak terima.


" Baiklah baiklah.. Tidak ada yang lari, tidak ada yang menghindariku,


Bahkan tidak ada yang tidak pulang selama setahun lebih, setelah mencuri bibir keponakannya.."


Wajah Pamungkas merona, entah kenapa ia masih malu mengingat hal itu.


" Iya kan om?" Ratih terus membuat Pamungkas tak bisa berkata kata, laki laki itu benar benar malu.


" kau sekarang kan istriku?"


" tentu saja, setelah di ciumi begitu masa tidak di jadikan istri sih om..?" Ratih tertawa,


" cukup Ratih.." Pamungkas bangkit dari tempat duduknya.


Melihat itu Ratih bukannya diam,


" ampun om..?!" ujar nya ikut bangkit, namun segera berlari ke dalam kamar.


Pamungkas yang gemas tentu saja mengejar langkah istrinya yang sudah mengejeknya habis habisan itu.


" Jangan menganggu Ratih lagi, apa kau tidak kapok di hajar suaminya sampai hampir mati?" nasehat papanya serius.


" apa yang sudah terjadi jadikan pembelajaran untukmu, tidak semua hal yang kau inginkan bisa kau raih, dan tidak semua yang terlihat baik itu benar,


kami tau kau terluka,


kami juga terluka,


carilah jalan yang baik,


Jangan muncul lagi di hadapan Ratih, mama mohon Ar..??" pinta mamanya sembari memandangi putranya yang tampak semakin kurus itu.


" lihat tubuhmu, kau semakin kurus saja, padahal kemarin kemarin kau adalah laki laki yang tampan dan gagah.." mamanya sungguh sedih melihat kondisi putranya.


" menikahlah.. Carilah perempuan yang benar benar tulus dan mencintaimu apa adanya.. Jangan ganggu Ratih lagi nak..


Jangan..


Suaminya sudah memberi ampun sekali padamu.."


Mendengar ucapan kedua orang tuanya,


Arga tak bergeming, laki laki itu diam seribu bahasa, hanya matanya saja yang menyiratkan kebingungan yang besar.


Hati dan pikirannya sedang bertarung hebat.


Hatinya masih menginginkan Ratih untuk kembali padanya, namun pikirannya selalu mengingatkan bahwa suami Ratih yang seperti moster itu bisa kapan saja membuatnya menghilang.

__ADS_1


__ADS_2