
" Bicaralah.. Sesungguhnya kenapa kau memperlakukan ibuku sampai seperti itu?" Pamungkas berdiri di depan Rahmat yang terbaring tak berdaya, Ratih yang sungkan dengan para om berkali kali menarik lengan suaminya agar ikut duduk, namun suaminya itu tidak menghiraukannya.
" Aku bertemu dengan temanmu, teman masa mudamu saat kau masih kuat mabuk dan foya foya,
Dia bicara seakan akan kau ini laki laki baik dan begitu mencintai ibuku?!" ujar Pamungkas setengah menuntut.
Ia tidak terima laki laki yang sudah menyakiti ibunya setengah mati itu dianggap baik.
" Mas?? ayahmu itu sakit..??" bisik Ratih yang duduk disamping Pamungkas yang berdiri.
Pamungkas tak menghiraukan istrinya, terlihat jelas dari wajah Pamungkas betapa tidak terimanya.
Hal itu membuat semua om dan termasuk tantenya terdiam, mereka semua tertunduk, namun tangan Rapuni tak henti mengelus kaki kakaknya yang sedang terbaring tak berdaya itu.
" Kau tidak punya pembelaan kan?, yah.. Benar.. Apa yang bisa kau bela, bahkan caramu meludahiku saja masih ku ingat dengan jelas..!" Pamungkas tajam, meledak sudah.. Perasaan yang ia simpan bertahun tahun.
" Aku tidak akan bertanya kenapa kau perlakukan aku seperti itu! aku sudah menerimanya, tapi aku tidak terima saat orang lain mengatakan kau mencintai ibuku sementara sikapmu lebih mirip seorang penjajah dari pada seorang suami..!".
Rahmat berusaha bangkit, jelas matanya penuh dan air di sudut sudut matanya sudah berjatuhan.
Bagaimana tidak, darah dagingnya.. Anaknya satu satunya, menghujatnya sedemikian rupa, segagah apapun ia dulu, hatinya tetap tersayat sayat, andai waktu bisa ia ulang, mungkin putra yang berdiri dihadapannya sekarang akan memeluknya penuh kasih.
Rusdi membantu kakaknya duduk meski susah payah.
Laki laki tua itu terbatuk batuk beberapa kali sebelum akhirnya membuka mulutnya.
" Aku memang mencintai ibumu.." ujarnya lirih membuat seluruh anggota keluarga menatapnya.
Mata Pamungkas menyalang tajam, tak terima.
" Apa kau bilang?" Pamungkas mendekat namun dengan sikap kasar.
" Mas??" Ratih masih menarik suaminya, ia takut tangan Pamungkas tak terjaga dan lepas kendali.
" Aku memang mencintai ibumu nak, dari awal sampai sekarang.."
" Bagaimana bisa?!!" suara Pamungkas keras.
" Ijinkan dia untuk bicara, kumohon ijinkan ayahmu untuk bicara...??" suara Rapuni menyela dengan air matanya sudah bercucuran karena nelangsa kakaknya di perlakukan kasar oleh putranya sendiri.
" mas...??" Ratih ikut menyela,
Melihat keduanya Pamungkas mundur dan menghela nafas panjang,
" baiklah, bicaralah!" suara laki laki itu masih saja keras.
Ratih hanya bisa mengelus dada melihat sikap suaminya yang mulai dari kecil sampai sekarang baru ia lihat.
Sosok yang biasanya tenang dan bijaksana bisa sekasar ini.
__ADS_1
" Sekali lagi ayah tekankan, memang ayah mencintai ibumu..
Dan karena saking cintanya, ayah sampai gelap mata.." Rahmat berusaha bicara dengan suara yang jelas.
" Dulu, awal kami menikah semuanya baik baik saja..
hingga datang juniorku diantara kami," lagi lagi mata Pamungkas terbelalak, ia ingin menyanggah kata kata ayahnya, tapi salah satu om mendahuluinya,
" Dengarkan dulu penjelasan ayahmu sampai selesai, setelah itu marahlah jika kau ingin marah,
Tapi tolong jangan memotongnya, dia bicara dengan susah payah.." Rusli setengah memohon.
Melihat Pamungkas diam, Rahmat melanjutkan lagi kata katanya,
" Namanya Bima, dia adik lettingku.. Kami satu kesatuan,
Karena bima dekat denganku, dia jadi sering kerumah,
Dia juga akrab dengan ibumu, sampai sampai memanggil ibumu dengan sebutan mbakyu..
Aku sering menyuruhnya makan dirumah, karena dia bujang, dan aku sering meminta pertolongan padanya perkara hal hal kecil,
Dia cukup pandai mengelola keuangan dan berbisnis, sehingga aku yang memang dari kecil suka mabuk dan tidak punya kemampuan ini tertarik untuk berbisnis dengannya.
Mungkin karena masakan ibumu enak, dan ibumu juga wanita yang cantik jug kalem, Bima menjadi nyaman bahkan sering bercanda santai dengan ibumu.
suatu ketika, awal dari semua kecurigaanku adalah sebuah pesan yang ku temukan,
Pesan Bima yang berbunyi 'bagaimana kalau saya saja yang antar mbakyu, kasian mbakyu capek.. Saya bonceng ya..'.
Aku yang baru saja pulang piket, entah di hasut setan dari mana marah marah dan menuduh ibumu berselingkuh dengan Bima,
Aku berpikir setiap kutinggal piket mereka pasti keluar boncengan berdua dan pergi entah kemana.
Mulai dari sana ku pukuli ibumu,
Satu dua kali,
Hingga akhirnya Bima mendengar, dan berita sampai ke kantor,
Bima menuntutku karena sudah menuduhnya, dia berkata jika terbukti ia tidak berselingkuh, maka dia akan membuat permasalahan ini menjadi panjang.
Aku, yang takut di tindak oleh kantor akhirnya mengalah, namun sakit hatiku dan kecurigaanku tak kunjung padam,
Hingga sebulan kemudian aku mendengar ibumu hamil kau nak.."
Pamungkas diam, ia menahan dirinya.
" Pikiranku di penuhi dengan prasangka, jangan jangan yang di kandung ibumu bukan anakku, tapi anak Bima..
__ADS_1
Semenjak itu sikapku pada ibumu berubah, kecemburuan, curiga, merasa di khianati campur aduk di pikiranku setiap hari.
Hingga kau lahir, pikiranku masih belum jernih,
Meski semua orang berkata kau mirip sekali denganku, aku tetap saja marah, hingga aku terus terusan memperlakukanmu dan ibu mu semakin buruk.
Aku menjadi orang yang semakin tidak bertanggung jawab karena tidak bisa mengendalikan amarahku, aku terus saja mabuk dan berjudi,
Menyakiti ibu mu hari demi hari.
Egoku memaksaku untuk terus membalas dendam, aku bahkan sampai mencari perempuan lain.." Rahmat terhenti, nafasnya naik turun kelelahan, namun ia harus terus bicara agar putra satu satunya tau apa yang sesungguhnya terjadi.
" Hingga pada akhirnya, aku tak sanggup lagi melukainya, kutinggalkan kalian.. Kukira setelah kutinggalkan ibumu akan mencari Bima karena kau adalah anaknya, aku juga merasa percuma memaksa perempuan yang hatinya sudah tidak ada padaku untuk terus hidup denganku.
Tapi ternyata aku salah.. Bertahun tahun setelah bercerai dari ibumu aku kembali bertemu Bima pada saat kunjungan,
aku yang sudah kembali kesini, dan Bima yang sudah pindah ke jawa barat akhirnya bertemu di satu tempat.
Aku sempat heran karena Bima masih membujang meski aku sudah meninggalkan ibumu bertahun tahun, kenapa mereka tidak bersatu jika saling mencintai pikirku, karena aku sudah tidak ada sebagai penghalang hubungan mereka.
Namun Bima akhirnya menjelaskan semuanya,
Awal dari semuanya adalah ibumu yang meminjam motor untuk membeli kue kesukaanku di pasar karena aku akan turun piket,
tapi Bima yang sudah menganggap ibumu kakaknya sendiri malah bercanda dan menawarkan bantuan yang membuatku gelap mata dan cemburu.
Bima juga bersumpah demi orang tuanya, bahwa tidak pernah sekalipun mempunyai perasaan lebih dari seorang saudara pada ibumu, jangankan keluar dan memboncengnya, menyentuh ujung kulit ibumu pun Bima tidak pernah.
Mendengarku bercerai dari ibumu karena perbuatannya Bima sampai menangis ia bersujud di depan ku sembari bersumpah puluhan kali, ia juga menyesalkan kenapa dia membuat pesan yang seperti itu hingga menghancurkan hubunganku dengan ibumu.."
" jadi...?" suara Pamungkas mendesis, ia menahan dirinya, tangannya sudah terkepal.
Ratih yang melihat itu bangkit, ikut berdiri, ia menggenggam tangan yang terkepal itu.
" Jadi.. semua adalah salahku.." sahut Rahmat,
" Bagus kau mengakuinya.." mata Pamungkas sudah penuh.
" Maafkan aku nak.. Karena pikiran burukku, karena kecurigaanku.. Kebodohanku..
Aku menyia nyiakanmu dan ibumu.." ujar Rahmat dengan bahu yang terguncang.
" Jadi itu sebabnya kau selalu meludahiku?
Kau jijik padaku karena mengira aku bukan anak kandungmu??" Pamungkas menahan gemuruh emosi yang sudah meluap luap di dadanya.
Rahmat tertunduk dalam mendengar itu,
" maafkan aku nak.. Maafkan aku..??" dengan bahu yang masih berguncang hebat.
__ADS_1