
Motor Yamaha XSR itu baru saja memasuki rumah, belum juga di parkir, sudah terdengar dering HP berkali kali.
" Iya Hen?" jawab Pamungkas masih duduk di atas motornya.
" Papa menyuruh om kemari, cepatlah om.. papa kelihatan marah?" suara Hendra terdengar gelisah.
Tanpa bertanya apapun lagi Pamungkas mematikan sambungan Hendra, memasukkan kembali HPnya ke dalam kantong jaket.
Laki laki itu membeku cukup lama di atas motornya,
pandangannya entah lari kemana.
Ia mengira dirinya akan lolos hari ini, tapi ternyata tidak..
mungkin memang harus hari ini dia meminta ampun pada kakaknya atas kekurang ajarannya.
Banyak hal negatif yang mendadak terlintas,
bagaimana jika Kakaknya mengusirnya, dan tidak menganggapnya saudara lagi?,
bagaimana juga kalau Ratih juga ikut di usir gara gara dirinya?.
Pamungkas menutup kedua matanya dan mendongak ke atas langit,
laki laki itu seperti berdoa, dan berpasrah akan apapun yang terjadi, bahkan ia sudah siap untuk mendapatkan beberapa pukulan dan cacian.
Di nyalakan lagi mesin motornya, dan berbalik keluar kembali.
Dengan kecepatan yang lumayan Pamungkas mengendarai motornya.
Melintasi jalanan yang tidak begitu Ramai karena waktu sudah lumayan malam.
Sekitar dua puluh menit kemudian motor Pamungkas masuk ke dalam halaman rumah Adi.
Terlihat Hendra membuka Pintu, ia tak berkata apapun, namun menepuk punggung omnya pelan, saat keduanya masuk kedalam rumah.
Pamungkas yang tidak punya rasa takut, kini mulai di liputi cemas,
kakinya yang biasanya melangkah kemanapun dengan yakin, rasanya sekarang berat.
Ia masih kaget, hatinya tidak karua karuan dengan panggilan yang mendadak ini.
Menghadap komandan saja tidak se menakutkan ini..,
Pamungkas mengeluh dalam hati.
Tentu saja ia takut, dan harusnya ia memang takut, karena ia adalah orang yang bersalah.
Bukannya mengurus keponakan baik baik malah jatuh cinta, malah mencium dan menggodanya,
Pamungkas merasa benar benar tidak pantas hidup.
Sesampainya di ruang tengah, langkah Pamungkas gentar,
__ADS_1
melihat sosok Adi saja ia rasanya tak sanggup.
Ia malu, benar benar malu, rasa cintanya pada Ratih benar benar membuatnya menjadi orang yang pantas di sebut om.
Tanpa Adi bicara sepatah pun Pamungkas langsung duduk bersimpuh di hadapan Adi.
Hendra dan Ana tentu saja terkejut melihat Pamungkas yang tiba tiba duduk dengan melipat kedua kakinya kebelakang,
yang Pamungkas lakukan duduk di atas karpet, tepat di hadapan kaki Adi, bukan di atas sofa.
"Om..?" Hendra mengeluh lirih, namun ia juga tak berdaya,
tidak mungkin dirinya ikut campur.
Tak ada yang berani berkomentar, karena raut wajah Adi hanya menunjukkan amarah.
Pamungkas tertunduk dalam,
tidak sedikitpun ia berani menatap kakaknya.
" Ampuni aku mas.." akhirnya Pamungkas memberanikan diri membuka mulutnya,
" Apa yang kulakukan pada Ratih itu buruk dan melanggar aturan keluarga..
itu tidak pantas..
karena itu,
" Ini.. ini sungguh sungguh bukan salah Ratih..
sungguh aku yang berdosa mas..??" Pamungkas masih memohon.
" Jangan usir aku mas.. aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku..??" Pamungkas menyentuh pergelangan kaki Adi.
Adi tersentak, ia menarik kakinya.
Suasana tiba tiba hening, tapi Hendra dapat melihat dengan jelas mata papanya yang memerah berkaca kaca.
Adi masih ingat benar,
kalimat itu.. permintaan agar jangan mengusirnya, sering Pamungkas kecil ucapkan di minggu minggu pertama ia pindah kerumah ini.
Setiap dia membuat kesalahan kecil, yang bahkan tak ia sengaja,
ia mengira akan di pukul dan di usir.
Sejak itu Adi tau Pamungkas menderita trauma yang besar.
Susah payah Adi menanamkan kepercayaan diri, menjadikannya seorang perwira yang gagah,
namun kenapa sekarang dia begini lagi?.
Hati Adi di liputi nyeri, kenapa adikknya ini malah bersimpuh dan menyentuh kakinya.
__ADS_1
" Anak bodoh.." Akhirnya Adi bicara, suaranya ikut bergetar,
" susah payah aku mendidikmu, tapi kau masih bersikap seperti pengecut begini..?"
Pamungkas mengatupkan kedua bibirnya, ia sungguh sungguh tidak ingin menyakiti hati kakaknya yang sudah merawatnya baik baik itu.
" Semua sudah berlalu Pamungkas! kau bukan lagi anak kecil yang bisa di pukul dan di usir dengan mudah! kau adalah seorang laki laki yang dewasa dan kuat! berhenti bertingkah seperti ini! berdiri!" tegas Adi dengan perasaan yang berkecamuk.
Sejujurnya ia memang ingin marah, tapi hanya untuk memberi Pamungkas pelajaran,
namun siapa sangka Pamungkas malah bersikap menyedihkan begini dan menggali kenangan lama yang tidak menyenangkan oleh Adi.
Pamungkas diam, tak bergerak, ia tak mau bangkit.
" Sudah ku bilang berdiri?!!" kemarahan dan kesedihan bercampur aduk.
" Jangan salahkan Ratih mas? aku yang salah.." lagi lagi kata kata itu yang keluar dari mulut Pamungkas.
" Sesayang itu kau pada Ratih?" tanya Adi,
Pamungkas tak menjawab,
" jawablah! sesayang itu kau pada keponakanmu itu?",
Pamungkas masih membisu.
" Aku bukannya tidak tau kau menyimpan perasaan ada Ratih, tapi aku mengacuhkannya,
kukira kau yang dewasa dan sudah kesana kemari akan dengan mudah melupakan perasaanmu, bahkan dengan mudah akan menemukan perempuan lain."
Mak Karto, yang belum tidur, sembunyi di dapur, perempuan itu sungguh tidak tega melihat Pamungkas.
Mak Karto tau benar, keluarga ini menyayanginya.
mak Karto pun menyayanginya, meski ia tau ia bukan putra kandung Mbah kakung.
" Kulepaskan kau sebagai adikku!" tegas Adi membuat Pamungkas mengangkat wajahnya,
" kau tidak lagi menjadi adikku mulai detik ini!"
Mata Pamungkas tergenang, ia menatap Adi tak percaya.
" Jangan begitu mas??" tangannya meraih kaki Adi kembali, tapi Adi mengelak.
" Aku salah?, mbak? aku salah mbak? aku salah??!" Pamungkas meminta bantuan Ana, tapi Ana tak bisa berbuat apapun, perempuan itu hanya bisa menghapus air matanya.
" Berdirilah Pam, mas mu menyayangimu.." ujar Ana pelan.
" Kalau dia sayang padaku kenapa berkata seperti itu??,
pukul saja, patahkan tangan atau kakiku agar aku tidak bisa mengejar Ratih lagi?! tapi jangan berkata kalau aku bukan adikmu lagi..??!" Pamungkas kalut.
Di tahan air matanya dengan susah payah agar tidak jatuh.
__ADS_1