
" Sudah selesai?" tanya Pamungkas melihat Ratih keluar dari dalam gedung.
" Sudah," jawab Ratih pendek, Iwang mengikuti di belakang Ratih.
" Lhok kok duduk disini? di dalam banyak kursi.." Iwang menyapa Pamungkas yang sedang duduk tenang di kursi dekat tempat parkir.
" Di dalam tidak boleh merokok bukan?" Pamungkas menginjak rokoknya dan bangkit.
" Omnya Ratih ya? maaf saya terlambat memperkenalkan diri.." Iwang menyalami Pamungkas,
" saya Iwang.."
" Pamungkas.." keduanya berjabat tangan dengan tenang.
" Oh.. anda yang sering mengantarkan Ratih pulang?"
" benar.." Iwang mengangguk sopan,
" lain kali datanglah kerumah untuk makan malam dengan kami,"
" sampaikan saja pada Ratih.. saya akan menyesuaikan jadwal.." Iwang kalem dan sopan.
" Baiklah.. ayo pulang Rat?" ajak Pamungkas.
Pamungkas melirik jam tangannya,
" Jam delapan, mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya Pamungkas,
" Mau makan dimana om?" Ratih memang sedikit lapar,
" terserah kau saja, biasanya anak muda lebih tau tempat tempat yang bagus," jawab Pamungkas lurus menatap jalan.
" Mau tempat yang bagus apa yang enak? banyak tempat bagus tapi masakannya kurang enak," Ratih malah bertanya,
" Ya sudah, manut saja," jawab Pamungkas.
Keduanya melewati jalanan yang ramai, lalu berhenti di salah satu tempat makan yang cukup ramai.
Keduanya makan dengan tenang, Ratih yang memang lapar makan dengan lahap, ia bahkan tak bicara apapun pada Pamungkas selama keduanya menikmati makanan.
Sementara Pamungkas sesekali menatap Ratih,
yang di tatap sesungguhnya tau, namun acuh saja dan terus sibuk dengan makanannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian keduanya selesai makan, dan memutuskan langsung kembali kerumah.
Pamungkas mengendarai mobilnya dengan tenang,
sementara Ratih sibuk bermain HP.
" Sejauh apa hubungan kalian?" suara Pamungkas tiba tiba setelah cukup lama senyap.
__ADS_1
" Siapa?" Ratih bertanya sembari menoleh ke arah omnya,
" kau dan guru seni itu?"
" kami dekat," jawab Ratih santai, karena dirinya memang berteman dekat dengan Iwang.
" Ingatlah untuk menjaga dirimu sebelum ada ikatan,"
" om?!" Ratih tersinggung dengan nasehat Pamungkas.
" Apa?" sahut Pamungkas malah tenang mendengar suara Ratih meninggi,
" Om bicara seperti om berbuat hal yang benar saja?!"
" maksudmu sikapku padamu?" seperti tak ada rasa malu dan canggung lagi Pamungkas mengatakan itu, ia sudah mulai terbiasa.
" Om sadar itu?!"
" tapi aku begitu hanya padamu,"
" omong kosong om?!" Ratih melengos kesal.
" Aku ini anak kakakmu om?!" tegas Ratih mengingatkan omnya,
" siapa yang tidak tau.." jawab Pamungkas santai.
" Lalu?!"
kenapa kau malah marah marah..?
kau tidak sepatutnya sedekat itu dengan Iwang, carilah laki laki yang serius, yang mau mengikat mu, bukan sekedar wira wiri dan senang senang saja.."
Ratih tersenyum sinis,
" jadi aku tidak boleh berdekatan dengan laki laki lain? tapi aku harus selalu menerima saat om menyentuhku?"
Pamungkas diam sediam diamnya, ia tak menjawab.
" Kenapa diam om? merasa bersalah?" tanya Ratih merasa menang karena omnya itu tak menjawab.
" kau senang rupanya menyudutkanku?" Pamungkas akhirnya menyahut.
" karena om juga suka mengangguku,"
" aku perduli, bukan menganggu,"
" kalau om seperti ini terus aku bisa curiga lho?!"
" curiga apa?"
" curiga kalau om jatuh cinta padaku?!".
__ADS_1
Pamungkas menghentikan mobil yang ia kendarai di bahu jalan, dan kebetulan jalan itu sepi karena pertokoan sudah banyak yang tutup.
Seperti mengatur perasaannya Pamungkas merebahkan punggungnya.
" Kita hentikan perdebatan ini Ratih.. aku kalah.." ujar Pamungkas,
" jadi benar om jatuh cinta padaku?" Ratih masih saja bertanya, membuat Pamungkas tak berkutik,
" jawab om?" tuntut Ratih.
" Cukup Ratih, rasanya aku semakin tidak waras saat bersamamu.." Pamungkas yang dewasa itu selalu hilang akal saat bersama Ratih
" Mengaku lah om??!"
" mengaku apa? apa yang harus ku akui Ratih?!" kesabaran Pamungkas habis dan nadanya mulai meninggi karena terus terusan di desak oleh Ratih.
" Om suka padaku iyakan? suka suka sukaaaa padaku???" Ratih sengaja menggoda Pamungkas, menyerangnya bertubi tubi.
Melihat omnya yang biasanya tenang itu mulai gusar tentu saja Ratih senang,
ia ingin membalas Pamungkas.
Pamungkas tak menjawab, ia hanya berkali kali menghela nafas.
" Jangan mendesakku," ucap Pamungkas pelan, dadanya sudah sesak.
Ia sedari tadi menahan diri, merelakan Ratih menari dengan laki laki lain,
dan bukannya semakin tenang, dirinya justru di sudutkan.
" Bisa bisanya om suka pada keponakan sendiri.. ck.. ck.. ck.." Ratih terus mengejek.
Pamungkas yang sejak tadi menghindari pandangan Ratih, tiba tiba menatap Ratih.
Tangan panjangnya dengan cepat menghela dagu Ratih,
" Cup.." satu kecupan mendarat di bibir Ratih, Ratih tercengang sampai tak bisa bicara, matanya hanya menatap Pamungkas kaget.
Melihat Ratih diam saja, Pamungkas mengulanginya lagi,
" cup..",
melihat Ratih yang lagi lagi terdiam, sembari membelalakkan matanya, Pamungkas semakin berani.
Di lepas sabuk pengamannya, dan mendorong dirinya ke arah Ratih.
Dan seperti yang lalu, bibir tipis itu menangkap bibir mungil Ratih.
Ratih mundur, namun tangan kanan kiri Pamungkas melingkar di pinggang Ratih dan menariknya lekat dengan tubuh Pamungkas.
" Kau yang bertanya, dan ini jawabanku, jadi kuanggap kau yang meminta ini.." Bisik Pamungkas di sela ciumannya.
__ADS_1