
Pamungkas menaruh tas kecil berisi peralatan kecantikan istrinya di atas meja rias yang sudah lama kosong itu.
" Mau menginap disini berapa lama?" tanya Pamungkas pada istrinya yang sudah berbaring di atas tempat tidur lamanya.
" Belum tau," jawab Ratih dengan mata terpejam.
" Sebenarnya aku tidak terlalu senang kau disini, harus naik turun tangga, dokter kan sudah bilang kau tidak boleh capek dan harus benar benar menjaga kehamilanmu?" ujar Pamungkas berjalan ke arah jendela dan membuka kaca jendelanya agar hembusan angin masuk ke dalam kamar yang sudah lama tidak di tempati itu.
" lebih baik aku disini sementara, agar hatiku lebih tenang," sahut Ratih,
" jadi tinggal bersamaku membuatmu tidak tenang?" Pamungkas menoleh dan menatap istrinya dengan tatapan kecewa,
" sejak kapan itu? Awal pernikahan atau semenjak kau hamil?" tanyanya lagi, tidak ada tenaga untuk bertengkar dengan istrinya, tapi hatinya lama lama lelah juga dengan kalimat kalimat Ratih yang lebih banyak sinis itu, memang nada bicaranya rendah dan tenang, namun terkesan banyak sindiran di dalamnya, seakan akan Pamungkas tak menginginkan kehadirannya.
" Sudahlah.." ujar Ratih memiringkan tubuhnya, ia tau kalau kata katanya mungkin melukai Pamungkas.
" kenapa?" Pamungkas duduk disamping tempat tidur, memandangi istrinya yang bahkan tidak menatapnya.
" kenapa kau tiba tiba bersikap seperti aku ini musuhmu yang seakan akan kapan saja bisa menyakitimu..
Katakan, kapan aku pernah menyakitimu?
Mungkinkah aku secara tidak sadar pernah menyakitimu Rat?" Pamungkas ingin mendapatkan jawaban yang melegakan dari istrinya, namun istrinya itu hanya diam.
melihat kediaman Ratih Pamungkas tidak mengatakan apapun lagi, ia bangkit dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Ratih sendiri.
Ana menghampiri Pamungkas yang merokok di teras, Ana tau, perasaan Pamungkas sedang tak baik, itu terlihat jelas dari wajahnya.
" Akan kupindahkan istrimu ke bawah, di samping kamar mak Karso.." ujar Ana duduk tak jauh dari Pamungkas.
" Dia mau mbak?" tanya Pamungkas tanpa menatap Ana, matanya lurus menatap pepohonan dan jalan raya.
" Mau tidak mau, papanya akan memaksanya.. Jadi kau tenanglah.. Mak karso sedang menyiapkan kamarnya.. tapi tempat tidurnya lebih kecil dari tempat tidur yang di atas, cukup memang untuk berdua, namun tidak lega.."
" tidak masalah mbak, toh dia menyuruhku pulang terus, seperti tidak ingin dekat dekat denganku,"
" itu mungkin bawaan bayi Pam.. dulu mbak juga begitu, rewel..
Jadi banyak banyaklah mengalah.." nasehat Ana.
Pamungkas mengangguk pelan,
" apa yang membuatmu gelisah.. Kau masih berpikir kalau istrimu ingin kembali pada mantan suaminya?" tanya Ana membaca keresahan di mata Pamungkas.
Pamungkas mematikan rokoknya di asbak,
" Kau mencintainya kan Pam?"
" kenapa itu harus di pertanyakan mbak?" wajah Pamungkas berubah serius.
" kalau begitu percayalah.."
" saya selalu percaya padanya mbak, tapi sikapnya terkadang menggoyahkan kepercayaan saya..
Bukankah seharusnya dia bahagia, bukankah seharusnya wajahnya di penuhi senyuman?
dengan sikapnya itu, semua orang akan mengira dia terpaksa mengandung anakku.." Pamungkas tertunduk,
__ADS_1
" Huss...! Ngomongmu kemana mana Pam, podo wae.. Wajahmu sekarang juga gelisah, tidak ada senang senangnya..?!" ujar Ana setengah memarahi.
" Itu karena sikap Ratih yang seakan tidak menginginkanku mbak?"
" itu bawaan bayi pam, mengertilah.."
Pamungkas diam, lama ia duduk tanpa membicarakan apapun, hingga akhirnya dia Pamit pulang untuk mengambil barang barangnya.
Ratih makan dengan sedikit gelisah, waktu sudah cukup malam, namun tidak terlihat tanda tanda kehadiran Pamungkas.
" Ada apa Rat? Perutmu tidak enak?" tanya Ana pada putrinya yang tiba tiba minta di buatkan nasi goreng, padahal jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
" Tidak ma.." ujar Ratih sembari melirik HPnya yang berada di atas meja makan.
Ia bisa saja menelfon suaminya itu, dan bertanya ia sedang berada dimana, tapi mengingat kata katanya tadi siang saat menyuruh suaminya pulang, rasanya ia malu.
Bagaimana ini, saat Pamungkas disampingnya amarahnya selalu tersulut karena mengingat hubungan suaminya dan sekar, mulutnya dengan gampang menyuruh Pamungkas untuk menjauh bahkan pulang.
Tapi saat Pamungkas benar benar pulang dan jauh, ia gelisah setengah mati.
Jangan jangan suaminya itu sedang berduaan bersama sekar.. Itu saja yang memenuhi kepalanya.
Pamungkas duduk disamping gerobak nasi goreng, menunggu Samsul yang sudah siap siap pulang.
" Wes.. Mulio.. Wes bengi iki.. ( sudah.. Pulanglah.. Sudah malam ini..)" suruh Samsul, sedari tadi Pamungkas hanya duduk dan merokok.
" Kau kan belum selesai beberes.. bereskan dulu, kau tutup aku pulang.." ujar Pamungkas menyandarkan punggungnya di tembok yang dingin.
" Astaga.. Kau ini seperti orang tidak berguna saja, pergi pulang.. istrimu sedang hamil.. Tunggui sana..!" ujar Samsul sembari mencuci wajan nasi gorengnya.
" Kau tidak senang ya ku tunggui dari tadi sul?" tanya Pamungkas tenang,
Owalah, awakmu iku wong pangkat pam.. Mosok meneng dek kene nungguk i bakul sego goreng.. Ora pantes..
Nongkrong nang cafe kono, karo konco koncomu seng podo podo pangkate..
( owalah, kamu itu orang berpangkat pam.. Ya masa disini menjaga tukang nasi goreng.. Tidak pantas..
Nongkrong ke cafe sana, dengan teman temanmu yang sama sama berpangkat..)" kata Samsul sembari mencuci piring piring kotor nya.
" Teman kerja ya di tempat kerja.." jawab Pamungkas pendek sembari menghembuskan asap rokoknya.
" Wes tho pam.. Bojoku iko yo ngunu, meteng malah nangisan, diluk diluk purik.. Wajar ngunu iku..
Ngomongen judes, padalo atine pingin di perhatekno.. Percoyo aku.. ( sudahlah pam.. Istriku dulu ya begitu,
Hamil malah cenggeng, sedikit sedikit marah.. Wajar begitu itu..
Ngomongnya judes, padahal hatinya minta di perhatikan.. Percaya aku..)" Samsul memberi masukan berdasarkan pengalaman pribadinya.
Pamungkas diam,
" opo seh seng mbok khawatirno Pam? ( apa sih yang kau khawatirkan pam?)" tabya Samsul lagi sembari membawa piring piring nya yang sudah bersih.
" Usiaku sudah tiga puluh delapan.." ucap Pamungkas lirih, namun terdengar oleh samsul.
" terus?"
__ADS_1
" banyak yang ku khawatirkan sul..
Dengan usiaku yang jauh melebihi istriku..
Kehamilannya adalah sebuah keajaiban bagiku..
Namun juga menimbulkan keresahanku.." imbuh Pamungkas dengan mata entah menatap kemana.
" keresahan?"
" Yah.. Aku yang sudah tidak muda ini, takut membuatnya jenuh..
Di tambah lagi.. Mantan suaminya yang seperti lintah itu..
Amarahku selalu saja meluap saat mendengar namanya di sebut,"
" kau cemburu?"
" tentu saja, dia beberapa kali meringsek masuk.. Mengaduk aduk amarahku.."
Samsul tertawa tiba tiba,
" Kau yang segagah ini?" samsul menggelengkan kepalanya tak percaya,
" cemburu pada laki laki lain yang sudah menjadi sampah di hidup istrimu?"
" aku manusia biasa sul, dia tampan, perayu handal dan masih muda..
Berbeda denganku..
kadang aku bahkan merasa istriku terpaksa menikah denganku dulu.." Pamungkas membuang rokoknya.
" Itu pikiran pikiran yang tidak sehat, tapi jangan kau pupuk,
Jika kau yang berseragam saja bisa punya pikiran begini,
Lalu bagaimana denganku? Yang hanya bakul sego goreng ( tukang nasi goreng) ini..
kau tau istriku seorang gurukan Pam,
Lalu apa menurutmu aku juga tidak pernah merasa tidak percaya diri?
Dulu sering sekali..
Minder..
Tapi perasaan minder yang keterlaluan itu justru membuat rumah tanggaku sempat kacau..
Sampai akhirnya istriku meyakinkan aku, bahwa dia mencintaiku apa adanya..
Dia tidak pernah merasa malu dengan pekerjaanku..?"
Pamungkas diam,
" Belajarlah saling terbuka, bicarakan..
Apa yang sesungguhnya kalian berdua inginkan..
__ADS_1
Kukira kalian sama sama memendam perasaan kalian.. Hingga mengakibatkan jarak bahkan mungkin kesalahpahaman tentang perasaan masing masing.." ujar Samsul tau tau sudah menata semua perabotnya.