
Ratih turun dari tangga, langkahnya perlahan karena tubuhnya masih dirasa lemas.
Pagi ini suasana terlihat sedikit berbeda, entah apa.. Ratih masih berusaha mencarinya.
Mak Karto menyambutnya di dapur dengan senyum yang sumringah.
" Sugeng enjing ndoro putri..( selamat pagi tuan putri..)" mak Karto sedikit menggoda.
" Ndora ndoro.. mak kenapa senang sekali hari ini, semalam mimpi apa?" ujar Ratih duduk di kursi.
Mak Karto menaruh segelas teh hangat sembari menjawab.
" Mimpi mbak Ratih jadi pengantin.."
" ihh mak??!" protes Ratih membuat mak Karto semakin lebar senyumnya.
" Semalam ribut sekali mak.. ada apa?" tanya Ratih setelah menyeruput tehnya.
" mbak Ratih bangun??"
" ingin bangun, tapi tubuhku lemas, mataku lengket..
jadi ya tidur lagi.."
" owalah.. semalam mas Pamungkas di panggil pak Adi.."
" di panggil??"
" iya,"
Ratih terdiam tiba tiba, perasaannya tidak enak.
" mak dengar apa yang di bicarakan papa dan om?" tanya Ratih lirih.
" Mak tidak mau bilang, tanya saja sama mas Hendra.. karena mas Hendra juga ada semalam.."
" lho? kenapa harus tanya mas Hendra? memangnya ada apa sih mak semalam??" Ratih semakin penasaran.
" Harusnya mbak Ratih bangun dan melihat..
mas Pamungkas sampai bersimpuh di depan bapak.."
Deg..
Wajah Ratih kaku,
" Saya tidak tau jelas, tapi setau saya mas Pamungkas memohon sambil menangis.." mak Karto benar benar pintar menggali kekhawatiran Ratih.
Ia sengaja mengatakan itu agar Ratih menaruh rasa kasihan pada Pamungkas.
Ratih yang masih sedikit pucat itu kini malah kembali pucat.
" Yang benar mak??" tanya Ratih hampir tak terdengar.
" Nggih mbak.. saestu.. ( betul..)"
Ratih tiba tiba bangkit,
" Lho? sarapan dulu mbak? mau kemana??" mak Karto mengejar langkah Ratih.
" Antar saja sarapannya ke kamar mak," ujar Ratih berjalan menaiki tangga.
Adi dan Ana tak membuang waktu, mereka datang pada para orang tua untuk menghitung dan mencari hari yang baik.
Setelah mendapat hari yang baik keduanya segera pergi menjadi bahan kain dan jarik.
__ADS_1
" Ratih kan belum di beri tahu pa, kok kita sudah asal belanja saja?" tanya Ana saat sudah dalam perjalanan pulang.
" kalau sudah dekat harinya saja di beritau, kalau sekarang sekarang takutnya kabur?" jawab Adi sembari menyetir mobilnya hati hati.
" Kenapa dia harus kabur? kata Hendra keduanya sudah mempunyai kedekatan?" Ana yang tidak tau apa apa itu bingung.
" Namanya saja anak muda, sulit di mengerti.." gumam Adi.
" Tapi.. apa tidak perlu mencari ayah kandung Pamungkas pa?"
" untuk apa?" tanya Adi dengan suara tak senang.
" Dia sudah membuang Pamungkas, jangankan menyekolahkannya, memberinya makan saja tidak!"
Ana terdiam melihat suaminya itu mendadak kesal, sepertinya ia sudah salah bicara.
Arga baru saja turun piket, ia sengaja main ke tempat pelatihan anjing pelacak.
Disana ramai berkerumun para anggota sedang memasak.
" Wah, muduh piket nemu wong masak iki.. ( wah, turun piket nemu orang masak ini..)" ujar arga duduk disamping perapian yang sengaja di buat untuk membakar ikan hasil tangkapan dari kolam samping kantor K-9.
" Enaknya, datang datang makan.." celetuk salah satu anggota yang masih berada di dalam kolam menyisir ikan.
" Owalah mas.. arep tak ewangi aku yo sek tas muduh piket iii.. ( owalah mas.. mau ku bantu lha aku juga baru turun piket iii..)" Arga meringis, tak banyak orang yang menyukainya, karena ia cenderung seenaknya sendiri.
" Kau tau pak Pamungkas Ar?" tanya salah satu orang disana.
Mendengar nama Pamungkas Arga berdecak kesal.
" Bahas yang lain saja, nafsu makanku jadi hilang ini.." ujarnya bangkit.
" Lha, jawabanmu kok ra penak ngunu? kui dulure mantanmu tho? ( lha, jawabanmu kok tidak enak begitu? itu saudara mantan istrimu kan?)"
" ngosip ae.. ngerti teko endi awakmu? ( tau dari mana kamu?)" tanya Arga kesal.
Ia masih berseragam lengkap.
" Mana adikmu Hen?!" tanya Pamungkas cemas.
" Di dalam ruangan sampean om.." jawab Hendra yang sibuk di bawah mobil.
Pamungkas tak menunggu lagi, ia masuk ke dalam bengkel, menuju ruangan yang memang di gunakan Pamungkas untuk bekerja.
Suara sepatu PDHnya terdengar mengetuk lantai lumayan keras karena ia berjalan dengan terburu buru.
Jangankan melepas sepatu, melepas helmnya pun ia lupa.
Sesampainya di ruangan itu Pamungkas menghela nafas lega namun juga khawatir.
" Sakit malah keluyuran?!" tegas Pamungkas pada perempuan yang sedang duduk di kursi Kerja Pamungkas itu.
Ia menggunakan celana panjang berwana coklat dan sweater berwarna senada, dan
rambutnya terurai begitu saja.
Wajahnya yang pucat tampak di beri sedikit bedak agar terlihat lebih segar.
" Dengan apa kau berangkat kesini?" Pamungkas mendekat,
" taksi online.." jawab Ratih tak memandang omnya malah menatap keluar jendela, melihat jalan raya yang riuh.
" Kau senang sekali membuat orang kebingungan ya?" Pamungkas melepas helmnya dan meletakkannya di atas lemari kayu yang terletak tak jauh darinya.
" Om kebingungan?" tanya Ratih datar,
__ADS_1
" tentu saja?! kau yang sakit ini tiba tiba meneleponku dan mengajakku bertemu di bengkel?
pasti ada yang ingin kau katakan sampai kau susah payah menemuiku?" ujar Pamungkas duduk di hadapan Ratih.
" Sekarang katakan, lalu setelah itu kuantar pulang.."
" aku bahkan belum bicara, tapi om sudah mau membawaku pulang.."
" tentu saja, kau itu masih belum pulih benar?"
Ratih diam, ia kembali menatap jendela.
Melihat itu Pamungkas melembutkan suaranya.
" Baiklah.. bicaralah, aku akan mendengarkan.." ucap Pamungkas lebih tenang.
" Apa yang terjadi semalam pada om?" tanya Ratih kemudian,
" tidak terjadi apapun Ratih.." sahut Pamungkas tenang.
" Om bohong.. papa memarahi om kan?"
Pamungkas tersenyum kecil,
" mboten cah ayu.." jawab Pamungkas sambil melepas sepatunya.
" Kau sudah makan?"
" om mengalihkan pembicaraan?"
" tidak, aku memang belum makan,
ini jam makan siang, tapi aku langsung menuju kesini, kasihanilah aku Rat.. setidaknya biarkan aku makan dulu..".
Setelah keduanya makan mie ayam yang berada disamping bengkel, Pamungkas duduk tenang dan mengeluarkan bungkus rokoknya.
Ratih yang pengertian membuka jendela,
Pamungkas tiba tiba saja menyadari bahwa Ratih masih belum sehat,
maka di urungkan niatnya.
" Merokok saja, Ratih tidak apa apa.." ujar Ratih pelan, matanya tak henti menatap Pamungkas.
" Ah tidak.." jawab Pamungkas mengambil sebotol air mineral dan meminumnya.
" Papa tidak memukul om kan?" tanya Ratih langsung,
" memukulku? kenapa?"
" kok kenapa? karena papa tau tentang aku dan om??" tegas Ratih.
" Jadi kau buru buru kesini karena ingin menanyakan itu?" Pamungkas lagi lagi mengulas senyum manisnya.
" jawab saja om?"
" papamu memang tidak memukulku, apa harus ku jawa memukul?"
Ratih terlihat kesal dengan jawaban Pamungkas.
" Sekarang giliranku.." suara Pamungkas yang berat itu tiba tiba membuat Ratih waspada.
" giliran maksudnya?" tanya Ratih.
" ya giliranku untuk bertanya, masa kau saja yang boleh bertanya?" Pamungkas santai menyandarkan punggung di kursi.
__ADS_1
" Luka di bibir bawahmu, siapa yang menyebabkannya?" tanya Pamungkas meski ia sudah tau siapa yang jadi biang keladinya.