
" Ayo.. bicara baik baik.." Pamungkas memasukkan kunci pintu depan itu ke kantong celananya.
" Buat apa aku bicara kalau mas sudah mengambil kesimpulan sendiri?" Ratih mundur,
berbalik entah mau berjalan kemana lagi.
Pamungkas yang kesal terus di hindari mengangkat tubuh Ratih dan membopongnya masuk ke dalam kamar.
Ratih hanya diam sembari menghela nafas, menunggu sampai dirinya di turunkan.
" Kan diam? Kenapa tidak melawan saat kuangkat?" Pamungkas heran saat melihat Ratih hanya diam dan tidak berkomentar saat di turunkan di atas tempat tidur.
" Aku harus teriak teriak kalau aku di culik?" Ratih asal bicara,
" malah bercanda?!" Pamungkas melotot,
Bukannya takut Ratih malah tersenyum,
" Aku capek mas, kita bicarakan besok saja..
Ya masa istri baru pulang tiba tiba disuruh milih? mau suaminya atau laki lain?"
Ratih bangkit, dan membuka lemari, dia mengacuhkan Pamungkas, dalam hatinya kesal,
tapi Ratih ingat benar pesan mbak Fakih, kalau ia harus mengembalikan kepercayaan suaminya.
Perempuan itu menganti bajunya begitu saja, membiarkan tiap inci tubuhnya yang bebas tanpa pakaian itu di pandangi Pamungkas.
" Ih! Astaga..!" dengus pamungkas mengalihkan pandangannya,
__ADS_1
tapi tak lama setelah itu ia menelan ludah, kemarahannya tidak murni lagi.
Ratih yang sudah mengganti bajunya dengan Daster itu mengambil HPnya lalu rebahan dengan santai di atas tempat tidur.
" Ayo kita bicara?!" desak Pamungkas yang masih berdiri di depan tempat tidur itu, ia menginginkan jawaban Ratih.
" Aku sudah bilang besok saja, tapi kalau mas ngotot ya sudah, monggo.." ujar Ratih malah bermain dengan camera HPnya.
" Kau mempermainkan ku ya? Mentang mentang aku mencintaimu?
Jadi kau boleh seenaknya?" Pamungkas masih saja serius,
Ratih malah tersenyum tipis.
" Memangnya di dunia ini yang punya hati hanya mas saja?
Yang punya cinta hanya mas saja?" celoteh Ratih tak memandang suaminya.
" Hemm.. Purik?"
" purik apa?! Aku sudah tua buat apa purik purik?!" Laki laki itu memakai celananya, tapi entah kapan Ratih bangkit,
Perempuan itu tiba tiba saja memeluk Pamungkas dari belakang.
Pamungkas tertegun, harus ia kemenakan kemarahannya kalau tiba tiba di peluk seperti ini?.
Ratih bisa merasakan hangat punggung Pamungkas di pipinya, ia sengaja mengeratkan pelukannya agar suaminya tidak menghindar,
tapi yang terjadi adalah bukan sikap menghindar yang Ratih dapatkan,
__ADS_1
laki laki itu malah berbalik, dan langsung menggendong Ratih,
Ia melingkarkan kedua paha Ratih di pinggulnya dan membawa istrinya itu ke atas meja disamping tempat tidur.
" Mau dimana?" bisik Pamungkas yang garangnya sudah kabur entah kemana itu.
Ratih mengalungkan tangannya di leher Pamungkas, sembari sesekali meremas kuduk suaminya itu.
" di ruang tengah bagaimana.." Ratih balas berbisik.
Pamungkas tidak menjawab, tapi tangannya langsung mengangkat tubuh Ratih dan membawanya keluar dari kamar menuju ruan tengah.
Di baringkan istrinya itu di sofa,
" Tidak jadi pergi?" Ratih tersenyum,
" nanti dulu," sahut Pamungkas dengan suara terkuasai Ratih sepenuhnya.
Laki laki itu mendekap, membelai, dan mencumbui istrinya,
Ia lupa, bahwa beberapa menit yang lalu ia masih marah,
Masih kesal,
Masih dongkol pada istrinya itu.
tapi hanya karena sebuah pelukan,
Semua perasaan carut marut yang ia rasakan selama beberapa hari ini sirna seketika,
__ADS_1
Kemarahan pun runtuh entah dimana serpihannya,
Apalagi saat kedua tangan Ratih melingkar lembut penuh kepasrahan di lehernya.