
" Ke dokter nggih mbak.." ujar mak Karso mengolesi punggung Ratih dengan minyak kayu putih.
Hari sudah menjelang malam saat Ratih bangun dari tidurnya, matanya terlihat begitu sembab, dan wajahnya masih pucat.
" Aku tidak mau tidur dirumah sakit mak.. Tidak enak.." jawab Ratih pelan.
" kalau begitu makan ya.. Biar tidak tambah sakit..
Itu mak buat sayur asem sama mendol goreng.. Kesukaannya sampean, mendolnya di goreng kering.."
Ratih menggeleng,
" Mau susu kedelai saja mak.. Yang dingin.." ujar Ratih.
" Ya sudah, saya ambilkan dulu mbak.." mak Karso membetulkan baju Ratih, lalu segera berjalan keluar.
Di luar mak Karso menghampiri Pamungkas yang tiduran di ruang tamu sedari siang.
" Mas, sudah bangun mbak Ratihnya.. Minta susu kedelai, badannya sudah saya olesi semua dengan minyak kayu putih, semoga saja membaik.." Pamungkas mengangguk,
" terimakasih mak.." ujar Pamungkas sembari duduk.
Setelah Mak Karso pergi, terdengar suara mobil Hendra memasuki garasi.
Tak lama terdengar suara langkah hendra masuk ke dalam rumah.
" Bagaimana Ratih Om? Katanya muntah muntah gara gara Rangin yang di bawa sekar?" tanya Hendra duduk tak jauh dari Pamungkas.
" Iya, padahal itu kue kesukaannya mulai SD.." jawab Pamungkas lesu.
" Kalau nanti malam muntah muntah lagi kita bawa ke dokter lagi saja.." kata hendra,
" mauku begitu, tapi kita lihat perkembangan malam ini," jawab Pamungkas masih lesu.
" Lesu sekali Om?, ayo makan.. Aku belum makan ini.."
" kau makan saja dulu, aku sedang tidak berselera.." jawab Pamungkas membaringkan tubuhnya kembali di sofa.
Susu kedelai satu botol kecil itu ternyata habis, mak karso dan Ana senang melihatnya.
" Nah, begitu.. Biar sehat.. Kalau mau ada kelapa muda.. Tadi siang suamimu yang beli.." Ana menawarkan,
Ratih menggeleng,
" Tidak ma, sudah kenyang.. " jawabnya merebahkan diri kembali.
" Mak capek ya, mak boleh istirahat.." ujar Ratih pada mak Karso,
" ndak capek.. Mbak Ratih mau di pijiti lagi kakinya?"
" Ndak mak.. mak istirahat saja.. Mama juga, keluarlah.. Ratih mau tidur lagi.."
Mendengar itu, Ana dan mak Karso tentu saja mengangguk, dan kemudian pergi.
Setengah jam kemudian Pamungkas bangkit dari rebahannya, ia sudah gelisah ingin menemui istrinya sedari tadi, tapi mendengar perkataan Adi, ia menahan dirinya, tapi tetap saja..
Ini sudah mulai malam dan ia harus tidur di kamar.
" Masuklah Pam, tidur disamping istrimu.." ujar Ana saat Pamungkas berjalan ke dapur untuk meminum segelas air putih.
" Ya ini memang mau masuk mbak.." jawab Pamungkas pelan, lalu berjalan melewati ruang tengah dan menuju kamar yang di tempati istrinya.
Dengan hati hati ia membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali,
Terlihat istrinya itu sedang tertidur.
Tepatnya tengah malam, sayup sayup Pamungkas mendengar suara tangisan kecil.
di lawan kantuknya dan di buka matanya, di carinya asal suara tangisan itu.
Betapa terkejutnya Pamungkas saat ia tidak melihat istrinya berbaring disampingnya.
Laki laki itu sontak bangun, matanya mengelilingi ruangan, Ratih tidak ada.
Pamungkas mendengarkan dengan seksama asal suara itu, ternyata suara itu berasal dari kamar mandi.
Dengan sigap Pamungkas bangkit dan berjalan ke kamar mandi, di bukanya pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu.
" Yang..??" Pamungkas menemukan istrinya yang jongkok di sudut kamar mandi sembari menangis.
" kenapa? Muntah lagi?? yang mana yang sakit??" tanya Pamungkas ikut jongkok,
Ratih tak menjawab, ia menampik tangan Pamungkas yang berusaha menyeka air matanya.
Pamungkas yang di tampik seperti itu sesungguhnya tak habis pikir, seumur umur Ratih tidak pernah memperlakukannya begini.
Sesungguhnya perempuan ini sedari kecil sangat menurut pada Pamungkas.
Pamungkas menghela nafas, menambah kesabarannya,
" Setidaknya bangunlah.. Nanti kau malah masuk angin, disini dingin.." suara Pamungkas lembut.
namun Ratih tak juga bangkit,
" Ya sudah, kalau kau tidak mau bangun, maka aku juga tidak akan bangun.." ujar Pamungkas menyandarkan dirinya ke dinding kamar mandi.
Ditatap istrinya itu, lagi lagi ia berusaha membelai istrinya itu tapi kembali di tampik, setelah menampik Pamungkas Ratih bangkit dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Perempuan itu duduk di atas tempat tidur dengan sisa sesegukannya.
Pamungkas bangkit, mengikuti langkah istrinya.
Dengan langkah yang pelan namun pasti, Pamungkas duduk disamping istrinya itu.
" Sebegitunya kau membenciku?" suara Pamungkas lirih, tak ada kemarahan disana.
Ratih tetap saja membisu,
" Sudah saatnya kita bicara dengan benar.." imbuh Pamungkas, ia tidak perduli meskipun tidak mendapatkan jawaban, yang jelas.. Inilah waktunya untuk bicara, meski ia tidak tau benar apa yang sesungguhnya di rasakan istrinya itu.
" Aku minta maaf.." suara Pamungkas kali ini membuat Ratih memandangnya, namun tak lama ratih membuang pandangannya kembali, entah kenapa.
" Aku minta maaf jika selama menjadi suami, ada hal hal yang tidak aku mengerti dan menyakitimu..
Aku tidak tau apa yang sesungguhnya kau rasakan..
Dan Kau derita..
Tapi yang jelas aku ikut terluka setiap air matamu itu jatuh..
Aku sungguh sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan apa yang kau pikirkan..
Maafkan aku, maafkan aku karen telah menjadi suami yang bodoh..
Tapi.." belum selesai Pamungkas bicara,
" Sudah permintaan maafmu mas? Kalau sudah menjauhlah..
Aku benci.." desis Ratih,
Deg...
Pamungkas mendengar dengan jelas akhir kalimat Ratih meski itu pelan sekali.
Sekarang wajah Pamungkas yang mulai memucat, pembicaraan yang ia harapkan akan berakhir baik, malah seperti ini.
Ia tau Ratih berkali kali menampik sentuhannya, tapi ia tidak mengira akan ada kata benci yang keluar dari mulut Ratih.
" Benci.. Benci kenapa? Benci kepada siapa..?" tanya Pamungkas dengan suara bergetar.
" Kau benci padaku Rat???" tanya Pamungkas tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.
" Aku benci.. Aku benci semuanya! Bahkan keadaanku!" jawab Ratih dengan mata penuh frustasi,
di seka air matanya sendiri.
Pamungkas terdiam, cukup lama,
__ADS_1
Di kuasai dirinya, di kumpulkan kembali keteguhan hatinya.
" Ratih.." suara Pamungkas serak tiba tiba,
" Aku tidak tau apa kesalahanku, sehingga kata kata benci itu sampai terlontar dari mulutmu.."
" aku.." Pamungkas terhenti, sepertinya ia benar benar terguncang oleh kata kata Ratih.
Bagaimana bisa perempuan yang ia cintai..
Pamungkas mengumpulkan tenaganya kembali untuk bicara.
" Sebenci apapun kau padaku, sebenci apapun kau pada keadaanmu,
Kumohon.. Jaga kandunganmu baik baik..
Jangan karena kau tidak nyaman denganku,
Jangan karena kau membenci keadaan ini, lalu kau menyia nyiakan kehidupannya dengan membuat dirimu sakit.
Dia adalah berkah Rat..
Untukmu dah untukku..
jangan menyia nyiakan apa yang sudah Tuhan beri pada kita,
Itu tidak hanya anakku, tapi anakmu juga.." ujar Pamungkas setegar mungkin.
" Jujur saja.. Aku sangat khawatir..
Aku juga sangat tidak percaya diri..
Dan sekarang semuanya terjadi,
jangan membenci anak yang ada di perutmu hanya karena aku..
Jika memang dia menghalangi harapan dan cita citamu, biarkan aku yang merawatnya sendiri..
Aku tidak akan menyulitkan mu, apapun itu.. Aku akan mendukungmu,
Bahkan.." Pamungkas kembali terhenti, kata kata yang sesungguhnya pantang baginya, mungkin akhirnya harus ia ucapkan demi kebahagiaan istrinya,
ia sudah tidak sanggup melihat Ratih tertekan dan tersiksa.
" Bahkan...
bahkan..
Jika hal paling buruk yang terjadi..
Jika..
kau meminta perpisahan karena sudah tidak sanggup hidup denganku,
aku..
Aku akan berusaha untuk mengabulkannya..
Asal kau bahagia dan tidak tersiksa seperti ini lagi..
Benar..
Dan jika,
kau.. masih ingin kembali pada Arga,
Baiklah..
Meski tak rela,
Aku pun akan berusaha merelakannya.." Pamungkas gemetar, tak pernah terpikir olehnya sebuah perpisahan, tapi jika memang itu yang tebaik.. Ia akan berusaha melakukannya.
Sementara Ratih, yang sedari tadi diam, air matanya mengucur dengan deras tanpa suara.
Hatinya begitu sakit mendengar ucapan ucapan Pamungkas, apalagi suaminya itu sampai sampai mengucapkan kata perpisahan, semakin Yakinlah Ratih kalau ini hanyalah akal akalan Pamungkas untuk segera berpisah dengannya.
" Pisah mas bilang?" Ratih membuka mulutnya,
" Aku atau mas yang sesungguhnya menginginkannya?"
" Maksudmu??" Pamungkas bingung,
" Caramu bicara begitu lembut dan menyentuh, jika saja orang mendengarnya, maka mereka akan mengira bahwa akulah yang brengsek sebagai istri..!" air mata terus saja turun dari sudut mata Ratih
" jadi dari awal, perpisahan tujuan mas?!"
" Ratih?? Dengarkan aku, kau tidak memahami kalimatku dengan benar, bukannya aku menginginkan itu, tidak! Tapi jika kau ingin kembali pada arga.."
" cukup!" potong Ratih,
" jangan bawa bawa Arga! Dia tidak ada urusan apapun denganku..!" tegas Ratih.
" Lalu apa yang membuatmu begini terhadapku? apa yang sudah kulakukan sehingga kau begitu membenciku sekarang?" Pamungkas tetap sabar meski ia masih saja kebingungan dengan sika istrinya.
" Kita buat kesepakatan saja, anak yang ku kandung, akan kurawat baik baik, jika memang perpisahan yang mas harapkan ya sudah, itu akan mempermudah langkahmu untuk menikahi sekar kan."
Jederrr!
Seperti di sambar petir,
Pamungkas tertegun, cukup lama, matanya menatap nanar kearah istrinya yang masih terisak isak.
Tak percaya dengan apa yang ia dengar Pamungkas kembali bertanya,
" menikah dengan siapa kau bilang Rat??"
" dengan sekar, mas ingin berpisah dariku dan menikahi sekar kan?!" jawab ratih dengan air mata semakin deras.
" Ya Tuhanku..????!" ucap Pamungkas tak percaya,
" iblis apa yang merasuki pikiranmu Ratih?? bisa bisanya kau berpikir bahwa aku mampu melakukan hal sekotor itu??!!" tegas pamungkas.
" iblis? Aku yang berpikir kotor??" tatap Ratih tak percaya,
" ya! Tentu saja pikiranmu kotor!
Bagaimana kau bisa mengarang indah bahwa aku mempunyai hubungan dengan sekar?!" Sekarang Pamungkas yang marah.
" Aku mengarang indah?? Aku tidak bodoh mas, aku juga bisa melihat dengan jelas?!"
" lalu apa yang kau lihat dengan jelas?!"
" kau selalu saja berdekatan dengan sekar!"
" aku ada kepentingan dengannya, bukan karena aku suka?!"
" omong kosong, aku tidak buta mas, kau selalu tersenyum lebar saat dia datang?!"
" astaga.. Mengarang lagi, aku selalu tersenyum dengan orang orang yang kukenal?!"
" Sudahlah mas! Aku yang akan mengalah! Biar ku urus anakku sendiri.."
" enak saja! Itu anakku juga! Mengalah mengalah, mengalah apa? Tidak ada yang di perebutkan disini!" Pamungkas geram,
" kau itu salah paham?!" tegas Pamungkas.
" masih belum mau mengakui ya? Kalian benar benar.."
" mengakui apa? Katakan? Apa yang harus ku akui? Aku tidak pernah berpaling darimu?!"
" mas kira aku tidak tau kalau mas pergi berdua dengannya dan membeli cincin?! dan cincin yang mas belikan itu, yang ia pakai tadi bukan?!!" amarah Ratih sudah tidak terbendung, entah suaranya sampai keluar atau tidak ia sudah tidak perduli.
Seperti di siram air es bergalon galon, Pamungkas tercengang, matanya melotot,
sungguh luar biasa imajinasi istrinya ini pikirnya, yah memang benar ia mengantar Sekar, tapi itu tidak seperti yang Ratih bayangkan.
Namun akhirnya ia tau, dari mana kesalahpahaman besar ini berasal.
__ADS_1
" Masih mau mengelak la..hbbb" belum selesai Ratih bicara, Pamungkas membekap mulutnya.
" Sudah puas mengarang indahnya? Sekarang giliranku bicara," ujar Pamungkas setelah menghela nafas panjang.
" Kalau kujelaskan, kau akan malu..
Tapi tetap harus kujelaskan agar kau paham situasi yang sesungguhnya istriku.." ucap Pamungkas tenang.
Keduanya saling menatap, Ratih dengan matanya yang masih basah, dan Pamungkas dengan sorot mata yang sudah tenang, seperti semua benang kusut sudah teruraikan baginya.
" Dengarkan aku baik baik.. Ingat setiap kata yang ku ucapkan..
Aku.. Suamimu ini.. Memang pergi mengantar sekar.. Tapi kami di toko perhiasan itu tidak berdua, tapi bertiga dengan Hendra,
Kenapa bertiga dengan hendra? Karena hendralah yang membeli cincin.. Jadi bukan suamimu ini yang membeli cincin.
jadi jelasnya, aku hanya merekomendasikan toko perhiasan yang bagus untuk mereka,
Itu adalah toko perhiasan dimana aku membeli cincin kawin kita dulu,
Aku tidak tau siapa yang melihatku disana, yang jelas hendra sempat ke toilet waktu itu, karena itu mungkin kau mengatakan aku berdua dengan sekar." jelas Pamungkas masih belum menurunkan tangannya yang membekap mulut istrinya.
" itulah sebabnya aku bertanya iblis apa yang merasuki pikiranmu sehingga kau bisa berpikir sekotor itu..
Hendra dan Sekar sedang menjalin hubungan, dan mereka sedang menuju jenjang pernikahan,
Mereka sudah mengikat diri satu sama lain,
Dan sesungguhnya minggu ini keduanya sudah siap untuk memberi tahukan tentang hubungan mereka pada keluarga besar, namun kau tiba tiba sakit dan tidak stabil, karena itu hendra mengurungkannya dan menunggu dirimu pulih."
Mata Ratih menatap Pamungkas tak percaya,
" Sudah jelas?" tanya pamungkas sembari menurunkan tangannya dari mulut Ratih.
" Tidak mungkin.." Ratih menggeleng tidak percaya,
" Mas hendra selalu terbuka padaku, kalau ini memang benar, kenapa aku tidak di beri tahu??" Ratih masih sungguh sungguh tidak percaya,
" Itu karena permintaan sekar, sekar bilang ia malu padamu, dan baru ingin hubungan mereka di buka saat Hendra sudah benar benar memutuskan untuk menikah," jelas Pamungkas sejelas jelasnya.
" Kalau kau masih tidak percaya,
Minggu depan Rafael dan istrinya akan datang kesini, mengunjungi kita sekalian berkenalan secara resmi dengan papa mamamu.."
Ratih masih belum bisa mencerna kata kata suaminya,
" Sebentar.. jadi,
mas tidak punya hubungan apapun dengan sekar?
Dan.. Sekar akan menjadi kakak iparku??" tanya Ratih dengan sisa air matanya.
Pamungkas mengangguk,
" kau mau aku membangunkan Hendra? Dan membawanya kesini untuk menjelaskan langsung padamu?" Pamungkas bangkit dari duduknya berniat keluar dan membangunkan Hendra.
" Jangan?!" Ratih menarik tangan Pamungkas,
Bagaimana bisa Ratih membiarkan Hendra mengetahui hal memalukan semacam ini,
Kalau memang benar kakaknya dan sekar..
Ia sungguh sungguh sudah cemburu buta,
tiba tiba saja wajah Ratih terasa panas karena malu, perempuan itu tertunduk dalam cukup lama, membuat Pamungkas menggeleng gelengkan kepalanya sembari terheran heran.
" Maafkan aku mas.." ujar Ratih setelah lama tertunduk,
wajah yang tadinya pucat itu, kini merona merah karena malu, sekarang pikirannya mulai terbuka,
Kenapa sekar sering kerumah ini, kenapa ia juga sering ke bengkel, ternyata bukan menemui suaminya, melainkan menemui kakaknya dan ia sedang mendekatkan diri dengan keluarga ini.
" Astaga..." keluh Ratih dalam hati, ia menutup matanya saking malunya.
" Sudah kubilangkan, kau akan malu jika tau.." ujar Pamungkas pada istrinya yang masih terpejam itu,
menyentuh dagunya lalu mengecupnya lembut.
" Jadi sekarang bagaimana?" tanya Pamungkas, setelah kedua bertatapan lama,
" apanya?" tanya Ratih kosong,
" katanya kau benci,
membenciku, juga membenci keadaanmu?" tanya Pamungkas kembali serius, ia masih belum bisa melupakan kata kata Ratih yang membuat hatinya jatuh dan lemas itu.
" itu... Itu karena aku berpikir mas sudah mengkhianati aku.." jawab Ratih terbata bata,
" Sungguh? Bukan karena sudah menganggu jalanmu dengan arga?"
" Jalanku dengan Arga? Sekarang mas yang mengarang indah??"
" aku tidak mengarang, tapi laki laki itu seperti lintah, dia selalu merusak moment indah kita, mana tau kalau sesungguhnya kau masih mencintainya?"
" jangan katakan itu lagi?! Sampai kapan aku akan di curigai?? Aku tidak mau membahas apapun tentangnya!" ujar Ratih kesal, tuduhan tentang Arga tidak ada habisnya.
" kenapa? Saking kecewanya? Andai dia tidak berselingkuh maka kau tidak perlu menikah dengan om mu ini kan?" Pamungkas masih ragu akan perasaan istrinya.
" huss!!" sekarang Ratih yang membungkam mulut Pamungkas, tapi apalah daya tangan sekecil itu, pamungkas dengan mudah menyingkirkannya.
" huss apa? Memang iyakan, kau awalnya terpaksa menikahiku?"
" awalnya.." jawab Ratih pelan,
" tapi sekarang tidak.." imbuh Ratih cepat,
" yang benar saja Rat, jujurlah..
mumpung kita sedang bicara dari hati ke hati, m sepahit apapun akan kuterima,
Meski harus kutahan setengah mati.." ujar Pamungkas menguatkan diri.
Ratih menggeleng tegas,
" tidak, aku tidak pernah memikirkan Arga sedetikpun, apalagi setelah.." Ratih terhenti,
" Setelah apa? Katakan?" Pamungkas penasaran.
" Setelah mas yang saat itu masih om ku, tiba tiba menciumku di sarangan.." jawab Ratih dengan wajahnya yang mulai segar, dan perasaannya sudah kembali stabil, entah kenapa ia tiba tiba membaik.
Pamungkas tak menyangka dengan jawaban istrinya, ia bahkan tidak bisa menahan senyumnya,
" di sarangan?" tanya Pamungkas,
" iya.. Sejak saat itu si keponakan mulai memikirkan om nya,
Tapi om nya yang pengecut malah pergi dan tidak bertanggung jawab,"
Mendengar itu Pamungkas lagi lagi tidak bisa menahan senyum bahagianya.
" jadi sekarang..?" tanya Pamungkas masih belum lega,
" jadi sekarang tentu saja aku mencintaimu.. Aku mencintaimu om ku, yang juga suamiku.." ujar Ratih membuat pamungkas melambung tinggi, wajahnya di penuhi gurat kebahagiaan.
Ini adalah kalimat yang tidak pernah ia bayangkan dan harapkan, tapi sekarang ia mendapatkannya.
" Sungguhkah itu Rat.. Kau mencintaiku.. ? Benar benar mencintaiku?" tanya Pamungkas seperti penegasan,
Dan Ratih mengangguk, anggukan yang pasti.
Melihat anggukan itu, Pamungkas meraih tangan istrinya, menciumnya.
" Aku juga mencintaimu Rat..
Bahkan mungkin lebih banyak.." ujar Pamungkas sembari memeluk Ratih dan mengecup kening istrinya itu berkali kali.
Ini adalah sebuah berkah bagi Pamungkas, tidak ada yang lebih indah selain pernyataan cinta dari istrinya yang tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
Rasa bahagia menyelimuti keduanya, dan segala kesalahpahaman, luntur saat itu juga.
Sekian cerita Ratih dan pamungkas, terimakasih sudah membaca☺️