
Mak Karto menangis, ia menutup mulutnya rapat rapat agar suaranya tidak terdengar.
Sementara Hendra hanya bisa terduduk lesu di ujung ruangan.
" Kau harus berhenti menjadi adikku, karena ke depannya kau akan menjadi menantuku," ucap Adi akhirnya.
Hendra yang tadinya terduduk lesu bangkit seketika, sementara Ana saking kagetnya tak bisa berkata apapun.
Pamungkas mengangkat wajahnya, memandangi Adi tak percaya.
Kepalanya menggeleng pelan dengan air mata tertahan.
" Apa ini mas..." keluh Pamungkas kembali tertunduk, entah kenapa ada nyeri yang menyusup.
" Ku ijinkan kau mengambil Ratih sebagai istrimu,
jagalah dan lindungi dia dengan baik..
kau dengar itu Pamungkas pambudi utomo?" Adi bangkit, dan memeluk Pamungkas.
Seketika pertahanan Pamungkas runtuh,
laki laki itu menangis, benar benar menangis di pelukan Adi.
Pamungkas pambudi utomo, Pambudi utomo adalah nama belakang dari ayah tiri Pamungkas, nama belakang dari Adi, Hendra dan juga Ratih.
Keluarga ini sudah merangkul dan merawatnya dengan baik, bahkan tak tanggung tanggung menyematkan nama keluarga mereka pada nama belakang Pamungkas, semua itu demi menumbuhkan kembali kepercayaan diri Pamungkas dan menyembuhkan trauma kekerasan yang banyak di alami Pamungkas saat masih hidup dengan ayah kandungnya.
Bagaimana mungkin Pamungkas tidak menangis,
nelangsa, terkejut menjadi satu.
Ia memeluk Adi erat erat, mulutnya ingin berkata terimakasih, tapi rasanya itu tak cukup.
__ADS_1
Mak Karto yang tadinya menangis sedih, sekarang menangis karena haru.
" Bangkitlah.. aku sedih melihatmu begini.." ujar Adi menarik Pamungkas bangkit.
Pamungkas patuh dan duduk disamping Adi, di usap air mata di wajahnya.
" Kau mencintai Ratih?" tanya Adi saat semua sudah mulai tenang.
Pamungkas masih diam, ia masih takut mengeluarkan pendapatnya.
" Katakan saja yang sejujurnya,
kami tidak benar benar tau apa yang kau rasakan,
tapi.. jika kau tidak begitu mencintainya, maka kau harus berkorban seumur hidupmu untuk menjaganya, karena aku tidak akan menyerahkannya kembali pada Arga, meski Ratih masih mencintai Arga." ucap Adi tenang namun tegas.
" Dari pada ku kirimkan Ratih keluar kota, membiarkannya hidup tidak jelas arah dan tujuannya,
lebih baik dia menjadi istri seorang perwira bukan,
tapi laki laki yang sudah turut merawatnya sejak ia beranjak remaja,
aku yakin Pam.. kau tidak akan menyia nyiakan Ratih bukan?" Adi menepuk pundak Pamungkas, menginginkan jawaban.
Pamungkas masih linglung, ia hanya tertunduk.
" Arga akan menceraikan istrinya om, dan akan memaksa Ratih untuk kembali padanya, apa om rela?" Celetuk Hendra membuat Pamungkas memandangnya sejenak, tentu saja Hendra lebih memilih Pamungkas dari ada Arga.
" Berpikirlah dulu pam.." suara Ana pelan,
" kau tidak harus menuruti kami jika hatimu tidak begitu menginginkannya.." Ana bersikap bijak.
" Aku mencintai Ratih..! " ucap Pamungkas tegas, namun ia masih tertunduk, perasaan malu masih melekat.
__ADS_1
Namun tak lama kemudian, dengan mengangkat kepalanya, dan memandang Adi dia berkata dengan penuh keyakinan,
" Aku tidak akan berjanji mas..
tapi aku akan berusaha untuk tidak membuatnya menangis,
tidak membuatnya sengsara,
senyum dan kenyamanannya akan kujadikan prioritas utama..,
perlakuan baik bapak pada ibuku..
akan kukembalikan berlipat pada Ratih.." ujar Pamungkas mendapatkan kembali wibawanya.
Betapa senangnya Adi mendengar itu, Pamungkas sejak dulu mampu membuatnya tiba tiba sedih dan tiba tiba kagum.
Mak Karto menyerahkan secangkir teh hangat pada Pamungkas,
" Tresnane sampean sampun keturutan mas..( cintanya sudah keturutan mas..)" mak Karso menghela tangan kanan Pamungkas yang sedang duduk sendiri di ruang tamu itu.
Pamungkas yang berwajah datar itu tiba tiba tersenyum mendengar kata kata mak Karto.
Ada perasaan hangat dan tulus yang dirasakan Pamungkas saat tangannya di genggam sejenak oleh mak Karto.
" Selamat ya mas.. semoga bisa membahagiakan mbak Ratih.. menjaga dan mencintainya dengan baik..,
mas Pamungkas yang sabar, meski mbak Ratih masih manja tapi mbak Ratih tidak mau merepotkan orang lain.."
" saya tau mak.. saya sudah hafal.." Pamungkas kembali tersenyum.
" Mak lupa.. kalau mas juga ikut merawat mbak Ratih dan mas Hendra dulu..,
ya wes mas, pokoknya mak doakan semoga mas Pamungkas dan mbak Ratih selalu bahagia dalam pernikahannya nanti.. saling setia dan mencintai.."
__ADS_1
" nggih mak.. matur sembah nuwun dungane mak.. " Pamungkas mencium tangan mak Karto, meski hanya seorang pembantu rumah tangga, tapi mak Karto sudah seperti anggota keluarga disini, semua orang menghargainya dengan baik.
" Mak boleh istirahat.. biar gelasnya saya cuci nanti.." ujar Pamungkas kalem.