Om Pamungkas

Om Pamungkas
jangan terlalu baik


__ADS_3

Ratih menata buku buku barunya di rak etalase.


Buku buku history romance yang banyak di sukai anak anak muda jaman sekarang.


Sejak pagi ia tak melayani satupun pembeli, ia menyerahkan semua pada Ria.


" Kau kenapa? kurang bersemangat?" suara Iwang tiba tiba saja di belakangnya.


" hai.. tidak mengajar?" Ratih berbalik menyapa Iwang,


" aku kosong hari ini," jawab Iwang sembari menguncir rambutnya lalu duduk di meja yang dekat dengan Ratih.


" Memangnya tidak ada tujuan selain kesini?" goda Ratih.


" Sementara belum ada.." jawab Iwang tersenyum.


" Buku baru Rat?" Iwang melihat buku buku yang covernya masih mengkilat dan bagus.


" Iya.."


" tumben, bisanya kau suka buku lama?"


" ini hanya menuruti anak anak saja, banyak dari mereka yang menyuruhku membeli yang bergenre hisrom, karena harga tidak terlalu mahal sepertinya lebih baik membeli baru saja.."


" Jangan terlalu banyak.."


" kenapa?"


" sekarang banyak novel online, aku lebih setuju kau menumpuk karya lama yang mungkin kelak nilainya akan tinggi..",


" Kau benar, sekarang saja sudah lumayan harga novel novel lama..


orang orang di pasar buku bekas tau mana yang bernilai dan tidak.." Ratih tersenyum.


" Kau mau kopi? ini masih pagi?"


" Aku belum sarapan, jangan kopi.. susuk boleh?"


" Lho.. bagaimana kalau kita beli nasi uduk atau kuning saja di ujung gang?"


" baiklah.. jalan bersamamu ya?"


" boleh sekalian aku beli untukku dan ria.."


" kau belum sarapan juga?"


" tentu aku sudah, tapi tak banyak.. asal menemani suamiku sarapan.."


Iwang mengangguk lalu bangkit.


Sore menjelang, saat Pamungkas sampai dirumah istrinya beluk sampai.


Laki laki itu menunggu dengan tenang sembari menyiram tanaman di halaman depan.


Tak lama motor Ratih masuk ke halaman.


Perempuan berjaket jeans biru tua itu turun dari motor, tangannya terlihat membawa sesuatu.


" Kok telat pulangnya yang?" Pamungkas mendekat,

__ADS_1


" iya, beli nasi babat dulu.." sahut Ratih mencium tangan Pamungkas lalu segera masuk.


" Tau saja suamimu menunggu.." Pamungkas mengikuti langkah Ratih.


Keduanya duduk di kursi meja makan,


" Sambalnya pedas.. jangan makan terlalu banyak.." ujar Ratih menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pada suaminya, serta sambal yang di letakkan di tempat berbeda.


" Kau tidak makan sayang?" tanya Pamungkas saat istrinya hanya duduk sembari meminum sebotol susu fermentasi.


" kebetulan di traktir Iwang tadi sekitar jam tiga sore, jadi masih kenyang.." sahut Ratih.


" Ada acara apa?" Pamungkas mulai makan saat mendengar istinya masih kenyang.


" Tidak ada acara, mungkin sedang luang saja,"


" oh... dia masih sering datang ke cafe?"


" tentu saja.. dia sama sepertiku suka membaca buku.."


Pamungkas diam, ia fokus mengunyah makanannya.


" Aku mau ke pantai boleh?" Ratih yang jarang kemana mana itu tiba tiba saja,


" pantai? dengan siapa?" Pamungkas hampir saja tersedak.


" Dengan anak anak sekolah tari.. aku mengenal mereka dengan baik, itu satu tim yang pentas denganku.."


" dengan Iwang juga berarti?" tanya Pamungkas,


" tentu saja, dia kan gurunya.." Ratih mengulas senyum,


" mas boleh ikut kalau mau?"


" ah, sayangnya tidak.. rencana berangkat kamis,"


" menginap?"


" tentu tidak, kalau menginap aku tidak akan ikut.. hanya sehari kok Yang.." ujar Ratih.


Pamungkas belum menjawab, ia meneruskan makannya, sampai nasi di piringnya habis.


Setelah malam menjelang dan keduanya bersiap untuk tidur, baru Pamungkas membuka obrolan tentang rencana Ratih itu.


" Sepenting itukah acara ke pantai?" tanya Pamungkas saat kepalanya sudah di atas bantal.


" Ini seperti acara setiap tahun.. dan kebetulan anak anak ini sering latihan dan pernah pementasan denganku..


Iwang mengajakku karena berpikir aku pasti senang,


tapi jika sebagai suami sampean berkeberatan, aku tidak akan ikut.." ujar Ratih rupanya sadar kalau suaminya sedikit enggan memberinya ijin.


Pamungkas terlihat berpikir,


" Apa kau mau mendengar saranku sebagai suami?" ucap Pamungkas setelah lama berpikir,


" tentu saja, katakan saja.." Ratih yang masih duduk sembari memegang buku itu mendengarkan.


" Aku akan mengijinkan mu untuk kali ini saja.. tapi dengan catatan, tolong ke depannya jangan terlalu dekat dengan Iwang..

__ADS_1


jujur saja aku sering keberatan saat tau dia diam begitu lama di cafemu.."


Ratih menatap suaminya,


" Iwang tulus berteman denganku.." ujar Ratih meyakinkan suaminya.


" Pikiranku memahami itu, tapi hatiku kadang tidak terima sayang..


dia pernah menyukaimu?" Pamungkas menghela tangan istrinya dan mengecupnya.


" Iwang masih muda dan bebas..


tidak sepertiku, yang usianya jauh di atasmu, aku terikat dinas, tidak bisa menemanimu sesuka hati.. lalu menurutmu bagaimana perasaan ku melihat iwang bisa bebas kapanpun menunggui mu di cafe?".


Ratih diam, suaminya benar.. tapi dirinya dan Iwang sungguh sungguh tak ada hubungan yang melibatkan perasaan sedikitpun.


" Aku dan Iwang berteman karena memiliki hobby yang sama.. itu saja.." Ratih menjelaskan pelan,


" aku tau, aku yang terjun dalam dunia militer ini mana tau seni, sastra.."


" sehati tidak harus selalu sama, bisa juga dengan saling mendukung.."


Pamungkas tersenyum,


" Itu benar, aku selalu mendukung apapun itu demi kebaikanmu..


tapi aku tidak bisa mendukung saat ada laki laki yang selalu saja menempel pada istriku.."


" Jangan cemburu pada Iwang.." Ratih tertawa,


" Iwang dan sampean itu jauh sekali.. jangan menganggapnya sebagai ancaman.."


" Tresno iku jalaran soko kulino sayang.."


" jadi sampean tidak percaya padaku?" tanya Ratih pelan.


" Aku percaya padamu.. tapi tidak percaya pada orang lain, pada orang orang di sekitarmu..


aku merasa orang bisa merebutmu kapan saja jika aku lengah.." ujar Pamungkas dengan tatapan serius.


Ratih diam, ia menutup bukunya.


" sampean bicara seperti aku ini tidak punya prinsip saja," ujar Ratih menaruh bukunya lalu ikut berbaring disamping suaminya.


" Bukan tidak punya prinsip, tapi kadang kau terlalu naif, kebaikanmu mudah di manfaatkan orang lain..


kau lupa sayang..


aku mengawasimu sejak kecil..


karena kau terlalu baik, mainanmu sering kali di bawa temanmu, bahkan tidak di kembalikan..


dan setelah kau dewasa, kau membiarkan hal itu terjadi..


dengar Ratih, kau harus mampu mempertahankan milikmu,


perasaan tidak enakan pada orang lain jangan jadikan beban.." Pamungkas memeluk istrinya,


" kau istriku sekarang, berdirilah lebih kuat, tegaslah..

__ADS_1


aku di belakangmu, selalu mendukungmu.." Pamungkas mengecup kening Ratih lembut, menguatkannya, agar tidak lagi mudah di permainkan orang lain.


" Aku mencintaimu Ratih sayang.." Pamungkas mempererat pelukannya.


__ADS_2