
Senja sudah mulai menghilang, dan gelap mulai merayapi langit saat Ratih sampai dirumah.
Hari ini undangan perayaan ulang tahun ibu komandan,
mau tidak mau dirinya datang meski tidak di dampingi suaminya.
Suaminya belum pulang juga entah kemana,
mungkin sedang sibuk di bengkel, mungkin juga sibuk berbincang dengan Sekar, pikirnya.
" Ahhh..!" di lempar tasnya ke atas tempat tidur,
Ia tidak mau tau, berhadapan dengan banyak ibu ibu mulai tadi sore sudah terlalu banyak menguras tenaganya.
Setelah mengganti bajunya Ratih berjalan ke dapur,
Menyiapkan makan malam hanya untuk suaminya saja, karena perutnya masih terlalu kenyang.
Setelah makanan dan kopi selesai di hidangkan di meja makan, Ratih kembali ke kamarnya.
Ia mengintip jendela sesekali, membuka tirai sedikit, berharap mendengar suara deru motor suaminya.
Ratih menyerah, setelah satu jam ia menunggu, akhirnya ia berbaring di atas tempat tidur.
Tangannya gatal ingin menghubungi suaminya, namun di urungkan niatnya jika mengingat betapa jarangnya Pamungkas bicara, di taruh kembali HPnya di meja samping.
Sekitar jam sembilan malam, terdengar suara motor Pamungkas berhenti di depan pagar,
mendengar suara pagar di buka, Ratih yang sempat tertidur akhirnya bangun,
Perempuan bergaun tidur merah tua itu berjalan keluar dan membukakan pintu.
Laki laki yang masih berbaju dinas namun menggunakan jaket bomber berwarna hitam itu masih sibuk memarkir helm dan melepas helmnya.
" Mau di panaskan makanannya?" tanya Ratih saat suaminya masuk begitu saja melewatinya.
" iya" jawab Pamungkas pendek, lalu masuk ke dalam kamar.
Ratih yang mendengar itu tak berkata apapun lagi, ia langsung berjalan ke dapur, menghangatkan ikan dan sayur yang di masaknya tadi seusai magrib.
Setelah makanan siap Ratih berjalan ke arah kamar, berniat memanggil suaminya.
" Sudah di panaskan mas," Ratih memberitahu suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.
Pamungkas yang sedang menggosok rambutnya dengan handuk itu menatap istrinya, dari bawah sampai atas.
Gaun tidur merah tua yang cukup pendek sehingga pahanya yang mulus terlihat jelas.
Pamungkas melengos ke arah lain, saat itu Ratih melihat ada yang tidak beres dengan tangan kanan suaminya.
Ratih mendekat, niatnya ingin bertanya, tapi bukannya mendapat sambutan baik, Pamungkas malah mendorongnya ke atas tempat tidur.
Raut wajah Pamungkas berbeda dari biasanya, ia terlihat banyak menahan perasaan, entah sedih entah kesal,
yang jelas, tidak ada wajah teduh dan hangat seperti dulu di awal pernikahan mereka.
Ratih menduga itu ekspresi marah dan benci, itu terbukti dari sikap Pamungkas yang tidak lagi lembut.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki laki laki itu, diluar dugaan Ratih, ia mengira dirinya akan di pukul, tapi bukannya di pukul, Pamungkas malah naik ke atas tubuhnya, dan membuka gaun istrinya dengan paksa.
" Mas?!" Ratih mencegah tindakan suaminya yang benar benar membuatnya tidak nyaman itu,
namun bukannya berhenti, mendapat penolakan dari Ratih ia semakin tak terkendali,
Di tariknya gaun itu hingga kedua tali di bahunya putus.
Ratih memekik,
" minta baik baik! Jangan kasar?!!" tegas Ratih mendorong dada suaminya yang benar benar tidak perduli dengan penolakannya itu.
" Kau itu istriku! tidak ada orang yang lebih berhak padamu selain aku!" tegas Pamungkas dengan suaranya yang dalam dan berat.
Tangannya erat memegang kedua tangan Ratih.
Bibirnya membungkam bibir Ratih sebelum Ratih menjawab.
Tidak tau apa yang menunggangi Pamungkas malam ini, ia tidak pernah sekasar ini pada istrinya.
Gaun tidur yang rusak dan tempat tidur, menjadi saksi betapa Pamungkas hanya menunjukkan kekuatannya sebagai laki laki malam ini,
Betapa Pamungkas ingin menunjukkan bahwa Ratih sepenuhnya berada di tangannya dan tidak bisa melakukan apapun jika Pamungkas sudah berkehendak.
Tidak ada kelembutan, kehangatan, dan perbincangan manis, yang ada hanya semakin Ratih menolak semakin keras Pamungkas menekan Ratih.
" Diamlah.. aku tidak ingin menyakitimu.." bisik Pamungkas dengan suara Parau, ia sudah di kuasai nafsu sepenuhnya, tidak bisa melihat kedua mata istrinya yang sudah tergenang air mata.
Setelah nafsu dan amarah itu sudah terselesaikan, barulah Pamungkas bisa mendengar isakan istrinya dengan jelas.
Seketika laki laki itu bangkit dari tempat tidur.
Tangannya ingin memeluk Ratih, dan meminta maaf,
tapi di urungkan niatnya.
Rasanya sudah tidak pantas ia meminta maaf, kerusakan yang ia timbulkan mungkin tidak dapat di maafkan dengan begitu mudah oleh Ratih meski dirinya memohon sekarang, pikir Pamungkas.
Di tengah kebingungannya, matanya melirik selimut di kaki Ratih, disambarnya selimut itu tiba tiba, dan di gunakan untuk menutupi tubuh istrinya yang meringkuk tak berdaya akibat perbuatannya.
" Aku bersalah, aku.." Pamungkas tak sanggup meneruskan kata katanya, ia tidak sanggup pula melihat air mata istrinya yang di deras itu, dengan langkah cepat ia segera berjalan keluar kamar, meninggalkan istrinya.
Keesokan harinya, saat Ratih bangun ia sudah tidak menemukan sosok suaminya,
motor dan helmnya pun sudah tidak ada.
Rupanya Pamungkas sengaja berangkat sebelum Ratih terbangun.
Ratih tidak berniat kemanapun hari ini, seluruh tubuhnya terasa sakit.
" Toktoktok..!" suara pintu terketuk, Ratih bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu depan.
" Bu Agus?"
" Nggih, bapak minta saya masak dan menemani ibu hari ini," ujar bu Agus,
Ratih sedikit heran,
__ADS_1
" kata bapak ibu tidak usah kemana mana, karena kurang sehat.." imbuh bu Agus yang tidak tau apa apa itu.
" Suami saya kerumah ibu?" tanya Ratih,
" Iya bu, tadi subuh subuh.." jawab bu Agus.
" Hemm.. Ya sudah bu, laksanakan saja apa yang di katakan suami saya,
Dan kebetulan saya juga tidak kemana mana hari ini..
Bu Agus masuk saja, kalau cari saya di kamar ya bu.." Ratih membuka pintu lebar lebar, membiarkan bu Agus masuk, setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar.
Sekitar lima belas menit kemudian, bu Agus mengetuk pintu kamar Ratih,
Ratih yang mendengar ketukan itu bangkit dan membuka pintu.
" Bu, njenengan ada luka tho bu? apa sudah ke dokter?" tanya bu Agus dengan raut khawatir.
" Luka apa bu Agus?" Ratih mengerutkan dahi.
" Itu bu, saya nemu perban ada darahnya di kantong sampah?"
" mana lihat?" Ratih penasaran, ia mengikuti langkah bu Agus ke depan, dimana kantong kantong sampah siap di buang.
Benar, itu perban yang terlilit di tangan suaminya semalam, berarti Ratih tidak salah lihat.
Bu Agus menunjukkan perban yang tidak terlalu besar namun panjang, disana ada bekas entah darah entah betadine, yang jelas itu sudah mengering.
" Tadi waktu bapak kerumah ibu, apa tidak terlihat tangan bapak yang luka?" tanya Ratih pada bu Agus,
bu Agus menggeleng,
" Bapak pakai jaket bu, tangannya masuk ke jaket dua duanya.." ujarnya.
Mendengar itu Ratih diam, ia tak lagi bertanya, ia berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Di periksanya baju yang kemarin di pakai suaminya, tidak ada bekas apapun.
Segera ia kembali ke dalam kamar, duduk dan berpikir,
Entah apa yang sebenarnya terjadi,
Selama hidupnya tak pernah ia melihat Pamungkas sekasar semalam.
Tatapan dan tingkahnya sedikit mengerikan seperti bukan dirinya.
Tangannya pun mencengkeram erat seperti mencengkeram musuh yang ingin di taklukkan nya, bukan seperti menyentuh istrinya.
Ratih mengeluh pelan, entahlah..
Padahal setelah kejadian di cafe waktu itu Pamungkas tampak lebih hangat, bahkan berkali kali memeluknya untuk menenangkannya.
Tapi beberapa hari kemudian suaminya itu bersikap dingin kembali,
memang tidak bersikap kasar atau marah,
tapi dia datang dan pergi seperti angin, tidur seperti patung,
__ADS_1
bahkan semalam adalah malam pertama setelah berminggu minggu ia tidak di sentuh.