
Ratih terbangun di atas lengan suaminya.
Niat hati ingin melirik jam, tapi di hadapannya hanya ada dada yang lebar menutupi pandangannya.
" Om..?" Ratih berusaha bergerak, tapi Pamungkas malah lebih erat mendekapnya.
Perempuan yg tubuhnya kecil itu tentu saja tidak bisa bergerak.
" Mau kemana? masih subuh.." suara Pamungkas lirih.
" Ndak bisa nafas om?" protes Ratih lirih,
" yoh.. panggil saja om sampai kakek nenek.." gerutu Pamungkas dengan mata masih terpejam.
" Memang om ku kan?"
" aku punya dua jabatan, om mu iya, suamimu iya,"
" lalu mau di panggil apa?" Ratih mendongak ke atas, menatap suaminya.
" Sayang boleh.." Pamungkas membuka matanya dan saling bertatapan dengan Ratih.
" Sayang?" Ratih mengerutkan dahinya,
" iya.. sayang.. kayak suami istri lainnya.."
" Ah, itu cuman di film dan sinetron?"
" mas, papa, papi, ayah, itu sudah biasa.. sayang saja ya? yang juga boleh.."
Ratih mencubit dada Pamungkas.
" Mendadak genit begini ya om?"
" ya masa di panggil om terus?"
" om juga panggil Ratih terus?!"
" mau di panggil sayang juga? aku malah seneng lho bisa memanggilmu sayang di depan orang banyak.." Pamungkas mengecup kening Ratih.
" Wes.. aku mau bangun?" Ratih berusaha bangkit,
" Nanti saja, ini kan hari sabtu..?"
Pamungkas tidak mengijinkan Ratih bangun dari tempat tidur.
Pamungkas menyusul istrinya ke cafe, karena hari sabtu, Ratih hanya buka setengah hari.
Sebelum menjemput istrinya mampir ke bengkel untuk sekedar melihat kondisi bengkel.
" Lho? ada sekar tho?" Pamungkas menyapa adik ipar Rafael itu.
" Iya.." sahut Sekar tersenyum sungkan.
" Motornya kenapa?" Pamungkas duduk tak jauh dari Sekar.
" Ganti oli.."
" owalah.. belum di ganti?"
" masih antri.." perempuan yang usianya mungkin sepantaran atau di bawah Ratih terlihat kikuk dan malu.
" Wah.. yok opo hendra iki?" Pamungkas bangkit dan mencari Hendra.
__ADS_1
Ternyata Hendra masih sibuk di bawah mobil.
" Pekerjamu kemana? sampai antri antri begitu?" tanya Pamungkas jongkok dan mengintip Hendra.
" Dua orang di bagian motor tidak masuk om?!" jawab Hendra sembari keluar dari kolong mobil.
" Adik temanku sampai antri begitu, padahal cuma ganti oli?"
" ya mau bagaimana om, kalau tidak mau menunggu suruh ke bengkel lain saja.."
" eh.. kok ngomongmu begitu..?"
Hendra diam, ia terlihat lelah.
" Ya sudah.. biar kubantu, kalau ganti oli saja aku bisa," Pamungkas berusaha sabar menghadapi Hendra yang jiwa mudanya masih meluap luap itu.
Ia kembali ke tempat motor,
" biasa pakai merk apa ini?" tanya Pamungkas pada Sekar.
Iwang duduk bersama Ratih dan Ria, cafe sudah mulai sepi karena tiga puluh menit lagi sudah tutup.
" Panggil saja aku Wang kalau ada acara.. mungkin aku bisa bantu bantu.." ujar Ratih.
" Memangnya boleh sama suamimu?" tanya Iwang tersenyum,
" Yah.. be ok belum tau, kan belum ngomong.."
" kalau tidak boleh ikut menari lagi ndak usah mekso.. ( memaksa), nanti malah muncul masalah.." ujar Iwang lagi.
" Dia l
kan tau Wang, sebelum menikah aku sudah menari denganmu..
bukan setiap hari, tapi kalau sedang ada pementasan saja.."
" monggo.. datang saja ke sekolah tari kami..?" Iwang menyambut.
Ketiganya meneruskan perbincangan dengan santai dan akrab.
Iwang yang juga datang di pesta pernikahan Ratih tentu saja sudah menerima dengan lapang dada kalau Ratih sudah menjadi istri orang dan tidak boleh sembarangan lagi mengajaknya keluar, dengan dalih apapun itu.
Saat ketiganya sedang seru serunya, bahkan sampai tertawa terbahak bahak, tanpa Ratih sadari Pamungkas masuk ke dalam cafe.
Laki laki itu tentu saja memerhatikan istrinya yang nyaman sekali mengobrol dengan Iwang.
" Ayo pulang sayang.." suara Pamungkas mengagetkan Ratih.
" Om sudah datang..?" Ratih menoleh ke asal suara.
Mendengar panggilan om rasanya Pamungkas tidak senang,
apalagi ia di panggil di hadapan Iwang.
" Suruh Ria saja yang tutup, kita pulang dulu.." nada Pamungkas kurang senang.
" Selamat sore mas.." sapa Iwang ramah,
" selamat sore, sudah lama?" sahut Pamungkas demi kesopanan.
" Lumayan mas, sudah habis dua cangkir kopi.." jawab Iwang tersenyum ringan.
" Oh.. ya sudah, kami duluan.. ada kepentingan.." Pamungkas mengajak Ratih untuk segera bangkit.
__ADS_1
" Ria, cek semuanya ya sebelum pulang?, Wang.. aku duluan ya??" pamit Ratih.
" Duluan saja Rat, aku juga ma pulang ini, biar kubantu Ria tutup.." sahut Iwang.
" Terimakasih lho Wang..!" ujar Ratih lagi sembari mengambil tasnya dan mengikuti langkah suaminya ke luar.
Disepanjang perjalanan sampai dirumah Pamungkas membisu.
Wajahnya datar, tak banyak menggoda Ratih seperti biasanya.
Ratih yang tidak peka mana tau kalau suaminya itu sedang kesal.
Kekesalan itu rupanya di bawa sampai keesokan harinya, laki laki itu lebih banyak diam.
" Ada masalah di kantor?" tanya Ratih meletakkan secangkir kopi di meja ruang tengah.
" Tidak," jawab Pamungkas sembari membolak balik koran yang ia beli di lampu merah kemarin.
" lalu?" Ratih duduk disamping suaminya.
" Lalu apa?" Pamungkas tetap memperhatikan koran.
" Om berbeda sejak kemarin..?" tanya Ratih hati hati,
" berbeda kenapa? aku setiap hari ya begini.." jawab Pamungkas tenang, membuat Ratih semakin tak nyaman.
" Ratih berbuat sesuatu yang membuat om kesal ya?" tanya Ratih memegang paha suaminya.
" Iya kan?" imbuh Ratih.
Pamungkas tak menjawab, ia hanya menghela nafas dan terus membaca koran.
" Setidaknya om bicara, biar Ratih tau dimana salah Ratih??"
" bukan kau yang salah, tapi aku yang salah." jawab Pamungkas cepat, masih tak memandang Ratih.
" Kenapa jadi Om?" Ratih bingung,
" ya memang akulah yang salah, harusnya aku tau diri, dari awal cintaku bertepuk sebelah tangan,"
Ratih tersentak,
" kenapa bicaranya seperti itu om??!"
" benar kan?" kali ini Pamungkas melipat korannya dan menatap Ratih.
" itu.. tidak benar sepenuhnya.." Ratih tertunduk sekilas.
" berarti ada benarnya?"
" astaga.. ada apa ini om? kemarin baik baik saja?"
" aku baik baik saja, tidak marah padamu,
tapi kalau kau bertanya apa yang sedang kurasakan, aku sedang kecewa pada diriku sendiri yang tidak tau diri,
tugasku kan menjagamu, melindungimu, tidak perduli kau mencintaiku atau tidak."
" Om kesambet dimana?!"
" sudah hampir satu bulan kita menikah Rat?" Pamungkas bangkit,
" sudahlah, kau nonton tv saja, aku mau kerumah pak Agus.."
__ADS_1
Ratih ikut bangkit.
" Setidaknya tunjukkan apa kesalahanku om? buka malah pergi??" Ratih mengejar langkah suaminya.