Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
davy


__ADS_3

Walaupun ragu Marissa berbicara pada ibunya mengenai uang sekolahnya karena Marissa bingung harus meminta pada siapa lagi.


" Bu maaf ya ini ada surat dari sekolah Marissa . Tadi siang Marissa sudah menemui Ayah tapi kata Ayah sedang tidak ada uang" marissa memberikan surat itu.


" Astaga Ca maaf kan ibu, ibu sampai mengabaikan mu. Tapi saat inu ibu ga punya uang sebanyak itu. Kemarin waktu Ibu di tinggalkan Ayahmu Ibu sama sekali ta di beri uang. Uang tabungan Ibu habis untuk biaya hidup kita sehari - hari. Coba nantu ibu pinjam sama Kake dulu ya na. " Bu Rina mengelus rambut Marissa " Maaf kan Ibu ya nak semua ini salah Ibu "


" Ngga Bu ini bukan salah Ibu, ini semua sudah takdir yang harus kita terima dan jalani sebaik mungkin Bu "


" Ada masalah apa Rin? kenapa kamu seperti bingung begitu?" suara Kake mengagetkan Marissa dan Bu Rina.


" Ayah... kenapa tidak istirahat? " Bu Rina mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ayah bosan Rin kalau harus terus tiduran, kamu belum jawab pertanyaan ayah Rin ada apa? "


" Mm... begini Yah apa Ayah punya uang? Rina mau pinjam uang boleh?" ragu - ragu Bu Rina.


" Ya ampun Rin kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Uang Ayah baru saja di pinjam adik ipar mu. Karena adikmu Awan belum mengirim uang bulan ini. Memangnya untuk apa? "


" Buat bayar uang sekolah Marissa yah. Kalau uang nya tidak ada tidak apa-apa ko yah. "


Pupus sudah harapan Marissa satu- satu nya. Hanya Kake nya lah yang menjadi harapan Marissa saat ini.

__ADS_1


" Ya sudah bu tidak apa - apa Marissa bisa menyusul ulangan nanti " walaupun kecewa namun Marissa berusaha tersenyum. Hal itu membuat Kake dan Ibunya merasa bersalah.


Hari semakin malam namun mata Marissa ta kunjung terpejam. Matanya seolah enggan tertutup. Pikiran biaya sekolah yang menghantuinya membuat nya ta tenang.


" Ternyata seperti ini rasa nya hidup tanpa Ayah, Kenapa Ayah begitu tega meninggalkan ku? Kenapa Ayah lebih memilih mengorban kan kami? Apa Ayah sudah ta menyayangi ku lagi ? " Marissa menangis dalam gelap.


Setelah lelah dengan pikiran nya perlahan Marissa tertidur saat waktu menunjukan pukul dua dini hari.


🍃🍃


Hari ini Marissa sudah ta bersemangat untuk datang ke sekolah. jika bukan karena bu rina terus membujuknya Marissa akan lebih memilih bolos sekolah.


" Ca Davy sudah menunggu kamu tuh diluar " teriak Ibu Rina.


" Pagi putri kecil kaka yang manja "


" Hmmm... "


" Yah cuma hmmm doang. Lesu amat de kenapa? "


" Ngga papa ko ka cuma lagi males ke sekolah aja " terang Marissa.

__ADS_1


" Karena ini... " Davy menunjukan uang yang dia bawa dan menyerahkan nya pada Marissa.


" Ka apa itu buat Marissa?" kaget Marissa


" Iya kan kemarin Kaka udah bilang mau bantu kamu"


" Tapi ka, dari mana kaka punya uang sebanyak ini? Apa kaka minta sama ayah dan ibu kaka? " Marissa merasa tidak enak hati.


" Bukan sayang itu upah hasil kerja kaka di toko ayah "


" Tapi ka ini uang kaka. Hasil kerja keras kaka"


" Sssssttt... jangan ngomong kaya gitu. Kaka ga suka! Justru tujuan kaka kerja keras itu untuk kamu de. Kamu harus ingat baik - baik ya semua milik kaka juga milik kamu de. Kaka bener - bener sayang sama kamu de buat kaka kebahagiaan kamu adalah prioritas utama kaka" Davy membelai wajah Marissa.


" Kaka... makasih ya ka aku terharu banget di saat ayah meninggalkan aku, ternyata tuhan telah mengutus kaka sebagai pelindung Marissa. Marissa juga sangat menyayangi kaka "


Bu Rina yang mendengar percakapan mereka di balik pintu ta kuasa menahan tangis nya. Saat sang ayah tega menyia - nyiakan anak nya justru ada seorang laki - laki yang rela berkorban untuk putrinya.


Dengan relanya Davy membiarkan tangan halus nya menjadi kasar demi wanita yang ta memiliki hubungan darah dengan nya.


🍃🍃🍃

__ADS_1


Ulangan berjalan dengan lancar Marissa ta mendapakan kesulitan yang berarti. Marissa sangat bersyukur berkat bantuan Davy dia bisa mengikuti ulangan akhir semester 1 dengan lancar.


" Gimana ulangan nya de? "


__ADS_2