
Davy berangkat kerja dengan perasaan bersalah. Menikah belum genap sebulan sudah membuat Marissa makan hanya dengan garam.
Uang di saku kantong nya pun tidak banyak hanya tersisa satu lembar uang seratus ribu itu pun untuk membeli bensin tiga hari kedepan karena Davy baru akan gajian tiga hari lagi.
" Astaga... ternyata begini ya hidup berumah tangga. Dari mana coba aku dapat uang lagi. Kasian Marissa..." sebenarnya bisa saja Davy minta bantuan ayah nya. Tapi ia akan merasa gagal menjadi suami. Ia menatap dalam uang seratus ribu itu di parkiran. Jika ia membeli makanan enak untuk Marissa ia tak bisa kerja jika ia memilih untuk tetap mempertahankan uang itu untuk bensin maka Marissa akan terus terusan makan dengan garam.
Saat Davy tengah begitu dilema dengan uang nya. Sang atasan yang sama sama baru datang begitu heran melihat tingkah Davy. Beberapa kali ia menyapa Davy namun sama sekali tak ada jawaban dari nya.
" Dav, kenapa masih pagi udah bengong aja? " Pa Brata menepuk pundak Davy karena Davy tak kunjung menjawab nya.
" Eh iya pa, ada apa? " kaget Davy. Ia segera menyimpan uang nya kedalam saku celana nya.
__ADS_1
" Kamu saya tanya dari tadi malah bengong terus, ada apa? apa ada masalah? "
" Ah.. tidak ada apa apa pa, saya cuma sedang berpikir saja. Mari pa masuk... " ajak Davy cepat ia tak ingin sang atasan terus bertanya pada nya.
" Oh iya Dav, apa hari ini ada pencairan?" mereka berjalan beriringan.
" Ada pak, berkas pencairan pa Bambang sudah lengkap. Tinggal tanda tangan bapa saja. Hari ini sudah bisa di cairkan. "
Segera ia meletakan berkas di meja sang atasan dan menelpon pak Bambang.
" Pencairan terus Dav, kamu hebat deh." goda Nabila ia semakin mendekati Davy. Walaupun termasuk orang baru nasabah Davy sudah cukup banyak kadang ada di antara mereka yang merasa iri pada Davy.
__ADS_1
" Alhamdulilah, banyak yang percaya dan mau di bantu Bil. " Davy langsung melengos pergi ke meja nya. Entah mengapa ia selalu merasa risih saat Nabila berbicara padanya. Gaya bicarakan Nabila yang seolah menggoda dan cara berpakaian nya yang seperti kurang bahan membuat Davy sangat risih.
Ia lebih memilih untuk menghubungi sang istri. Hendak bertanya keberadaan sang istri apa sudah pergi kuliah atau masih di rumah Dan memilih mengabaikan Nabila.
Marissa yang memang sudah berada di kampus ia hanya bisa membalas telpon Davy dengan pesan. Bukan apa apa kini ia tengah di kelas.
🍃🍃🍃
Kelas Marissa telah usai kini ia tinggal pulang. Ikut bersama Yogi tidak mungkin karena ia masih ada kelas, naik angkutan umum pun tidak mungkin karena ia hanya memiliki uang sepuluh ribu rupiah. Is berpikir dari pada untuk ongkos mending untuk beli mi instan begitu pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Beruntung jarak kontrakan dengan kampus tidak lah terlalu jauh. Ia berjalan dengan santai agar tak cepat lelah pikirnya. Berjalan sambil melihat beberapa pedagang yang terlihat menggiurkan di mata Marissa tapi apa boleh buat untuk saat ini ia harus menahan nya.
__ADS_1
" Sabar... kalau ka Davy punya uang dia pasti beliin apa pun yang aku mau." Marissa terus menyemangati diri nya sambil terus berjalan. Bayangan senyum Davy yang tengah menunggunya di rumah membuatnya terus bersemangat berjalan.