Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
bawa aku pergi


__ADS_3

Galih sengaja mengajak Marissa untuk berhenti dulu di sebuah taman yang cukup sepi. Ia ingin menasehati sang adik tanpa harus di ketahui orang tua mereka.


" Turun! " suara dingin Galih begitu menusuk di telinga. Dengan pasrah Marissa menurutinya. Ia tau jika sekarang dia pasti akan di sidang.


" Kamu tau kesalahan mu? " tanya Galih sesaat setelah mereka duduk di sebuah kursi kayu. Marissa hanya diam.


" Jauhi Davy jika ingin masa depan mu cerah Marissa! Jangan sampai kamu salah jalan. " tegas Galih.


Tanpa bisa di tahan air mata begitu saja keluar dari mata Marissa. Walau bagaimana pun ia sangat menyayangi Davy. Ia tak pernah berpikir kalau sampai ada keluargnya yang akan memisahkan mereka.


" Masa depan kamu masih panjang. Jangan kamu rusak begitu saja. Apalagi hanya dengan pemuda penganguran seperti Davy. Buka mata mu Ca! "


Marissa sudah tak tahan lagi ia berusaha memberanikan diri untuk berbicara. Tangan nya meremas rok sekolah nya.

__ADS_1


" Kaka tau apa tentang ka Davy? Berhenti mengejeknya!" Marissa tak kalah ketus tatapan nya pun mengisaratkan kebencian. Ia berbicara dengan linangan air mata yang terus menerobos keluar tanpa permisi.


" Saat aku butuh sandaran hanya ka Davy yang ada. Saat aku sedih kecewa dan merasa tak di hargai hanya ka Davy yang menghiburku. Lalu dimana kalian saat aku butuh kalian? Kalian mengabaikan ku! " teriak Marissa ia mengeluarkan semua unek unek nya.


" Apa kaka tau siapa yang membayar uang sekolah ku saat ibu dan ayah tak lagi bersama? bahkan sampai saat ini siapa yang membiayai sekolah ku apa kaka tau? Ka Davy. Laki laki yang kaka sebut pengangguran itu lah yang


yang membayar sekolah ku! "


" Lalu apa untungnya aku menjauhi ka Davy? Dia yang selalu ada untuku, dia yang selalu mengerti perasaan ku! Di saat aku butuh sosok ayah hanya dia yang ada. Lalu kalian dimana hah? Begitu picik pikiran kaka. Coba berpikirlah terbuka jika ka Davy ingin menghancurkan masa depan ku lalu untuk apa dia membayar biaya sekolahku? bekerja susah payah hanya untuk gadis yang tak memiliki hubungan darah dengan nya. " Marissa mulai berdiri.


" Satu hal lagi. Berhenti ikut campur urusan ku! apalagi melarang ku bersama ka Davy. " Tanpa ragu ia melangkah pergi. Mengusap air mata nya kasar.


Galih hanya termangu ia menyadari semua perkataan Marissa ada benarnya. Selama ini ia dan Silvy tak pernah memperdulikan perasaan Marissa. Bahkan mereka tak tau kesulitan apa yang di hadapi Marissa setelah kedua orang tua mereka berpisah. Galih merasa gagal sebagai kaka ipar yang baik.

__ADS_1


Perkataan Marissa membuatnya melihat kenyataan bahwa bukan hanya sang ibu yang menderita melainkan ada hati lain yang turut menderita akan perpisahan kedua orang tua nya.


Ia mencoba menghela nafas untuk menetralisir rasa bersalahnya pada Marissa.


Jika Galih tengah merenungi perkataan Marissa lain hal nya denga Marissa yang berusaha kembali ke rumah kake menggunakan ojek onlen.


Ia tak ingin pulang kerumah dengan wajah sembab seperti itu. Hal itu hanya akan menyakiti ibu nya. Ia tak ingin sampai Bu Rina tau masalahnya dengan Galih tadi.


Begitu sampai di rumah kake dan membayar ojek nya Marissa berlari saat melihat Davy masih duduk di bawah pohon mangga itu.


" Ka... " Marissa menangis dalam pelukan Davy.


" Maafkan kaka de. Ini semua salah kaka. Ta seharusnya kaka berbuat lancang. " Ia mengelus punggung Marissa yang bergetar.

__ADS_1


" Bawa aku pergi ka... " lirih Marissa setelah melerai pelukan nya.


__ADS_2