Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
Kejujuran Marissa


__ADS_3

Davy yang tiba tiba mendapat pertanyaan seperti itu dari Marissa sampai tersedak ludahnya sendiri. Bukan nya ia tak bahagia mendengar pertanyaan itu tapi rasa takut akan jadi pelarian membuat Davy selalu menahan diri.


uhuk


uhuk


"Ishhh... kaka kenapa sih ngeselin banget deh." Marissa mulai kesal ia mulai berpikir jika Davy tak ingin membawa Marissa ke hubungan yang lebih serius.


" Kaka ga mau ya nikahin aku? " suara Marissa sedikit bergetar. Ia menajamkan pendengaran nya dan mencoba sekuat tenaga menerima apa pun jawaban Davy nanti nya. Ada sedikit rasa kecewa yang tiba tiba muncul dalam hati nya.


" Ngga bukan gitu De. " Davy tau jika saat ini Marissa tengah sedih. Walaupun tak sampai menangis Davy sudah tau dari nada bicara Marissa. Ia menangkup wajah sang pujaan hati agar bisa melihat kesungguhan di matanya.

__ADS_1


" Kapan pun kamu siap kaka mau de. Tapi apa kamu yakin mau menikah muda? Hidup berumah tangga itu tak semudah yang kita bayangkan. Kata ibu akan banyak ujian dan rintangan yang harus kita hadapi nanti. Kaka hanya ta ingin kamu kehilangan masa muda yang ga akan pernah terulang lagi de. Kaka mau kamu sudah benar benar siap. "


" Insyaalloh aku siap ka. Jujur aku ga sanggup kalo begini terus. Kita menjalani hubungan sudah sangat lama, hampir lima tahun ka. Tapi hubungan kita seolah hanya jalan di tempat. Perempuan itu butuh kepastian ka. " lirih Marissa " Ia mungkin kemarin kemarin karena aku masih sekolah. Tapi saat ini apa salah jika aku nikah sambil kuliah?"


" Jika kamu yakin de bisa membagi waktu kaka akan segera meminta ayah dan ibu untuk datang melamar kamu. " ucapan Davy begitu serius ia juga tak ingin membuat Marissa berpikir macam macam tentang nya. Selain itu dia juga sangat menyayangi Marissa.


" Terima kasih ka. " kini Marissa bisa tersenyum lega. Ia sangat takut mengecewakan Davy.


" Ka boleh aku bicara sesuatu? " Marisa tak ingin menybunyikan apapun pada Davy.


" Apalagi hem... " suara lembut Davy membuat Marissa jadi salah tingkah sendiri ia jadi takut Davy akan marah tapi apa jadinya jika Davy mengetahui tentang Gavin dari orang lain. Ia mencoba memberanikan diri untuk bercerita.

__ADS_1


" Ka di kampus ada cowok yang selalu ganggu aku. Namanya Gavin. Aku sudah sering memarahinya tapi dia masih tetap mengganggu ku. " Marissa menghela nafas ia takut melihat reaksi Davy selanjutnya. " Tapi aku bersumpah ka ga pernah ngelayanin dia. Bahkan Yogi Jaka sama Deni pun sudah sering memperingatkan Gavin. " Marissa tak berani menatap Davy ia hanya tertunduk melihat ujung kakinya di bawah meja.


" Tidak apa apa de, kamu ga salah. Kaka sudah tau semuanya. Yogi dan yang lain sudah bercerita pada kaka. Tapi menurut kaka kamu pasti bisa jaga diri walaupun kaka tak bertindak. " Davy tersenyum sambil mengelus pipi Marissa membuat gadis itu menatap Davy yang tengah tersenyum tanpa adanya ekspresi marah sama sekali.


" Kaka ga marah? "


" Untuk apa kaka marah sama kamu sayang. Kaka tau kamu bersikap manis kaya gini kalo di depan kaka doang. Kalo di depan cowo lain kamu tuh menakutkan. " Davy terkekeh saat tiba tiba teringat ketiga keponakan nya yang selalu menceritakan perlakuan Marissa yang benar benar berbeda. Bukan hanya pada laki laki yang baru dikenalnya bahkan pada Yogi dan kedua yeman nya pun ia akan bersikap galak.


" ishh.. jadi menurut kaka aku menakutkan? "


" Tidak sayang kamu itu gadis kecil kaka yang paling lucu dan menggemaskan. "

__ADS_1


__ADS_2