
" Kamu lelah de? " Davy merangkul pinggang sang istri. Mereka baru saja tiba di rumah hampir jam satu malam. Karena harus menunggu anak anak ne Yanti datang terlebih dulu ke rumah sakit. Walaupun ne Yanti terus menyuruh Davy dan Marissa pulang duluan tanpa menunggu anak anak nya, mereka menolak dan tetap menunggu.
Jarak dari rumah anak ne yanti memang lah jauh bahkan ada yang tinggal di luar kota. Tapi beruntung mereka langsung datang ketika mendapat kabar dari Davy.
" Tidak, hanya saja aku menghawatirkan ne Yanti. Bagaimana jika setelah kejadian ini ne Yanti tetap menolak tinggal bersama putra putri nya. Malihat bagaimana ne Yanti mencintai almarhum suaminya aku tak yakin beliau mau meninggalkan rumah itu. " Wajah Marissa nenyendu.
" Kalau itu kaka juga ga tau. Semoga saja ne Yanti mau menurut. Jika tidak pun kita bisa membantu anak anak nya untuk membantu menjaga ne Yanti. Sudah lebih baik kita tidur, besok sepulang kaka kerja kita kesana lagi jenguk ne Yanti. " Marissa tersenyum bahagia mendengar penuturan Davy.
🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi pagi Davy dan Marissa sudah bersiap. Davy seperti biasa mengantar Marissa dulu. Marissa tak pernah menutupi statusnya yang telah menikah. Ia justru sangat bangga jika ada yang bertanya tentang Davy.
__ADS_1
" Hati hati ya de, kaka berangkat dulu. Nanti pulang nya bareng Yogi aja ya. Takutnya kaka ga bisa jemput. " Ia merapikan rambut Marissa yang sedikit acak acakan karena angin.
" Ia ka, ga usah hawatir aku bisa naik angkot ko. Kalo terus terusan sama Yogi takutnya ngerepotin. Lagian ga enak juga sama orang."
" Ya udah teserah kamu, jangan lupa kabarin kaka. " Setelah berpamitan Davy segera berangkat kerja dan Marissa bergegas menuju kelas nya.
Hanya ada dua mata kuliah hari ini sehingga Marissa bisa pulang lebih awal. Mata kuliah pertama segera di mulai. Dengan bersemangat Marissa mengikuti pelajaran ia sungguh tak mau sampai Davy kecewa. Ia akan berusaha sekuat tenaga agar bisa membuat Davy bangga pada nya dan tak merasa menyesal telah menyekolahkan nya.
Tujuan nya saat ini hanya satu yaitu bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu yang singkat. Agar Davy tak harus merasa kesusahan karena nya.
Mata kuliah kedua pun telah usai. Ia memutuskan untuk ke perpustakaan sebentar menyelesaikan tugas dari dosen nya tadi. Ia sengaja ingin menyelesaikan nya sekarang karena ia akan pergi kerumah sakit nanti tanpa harus tebebani dengan tugas yang belum selesai.
__ADS_1
HP di saku celana Marissa bergetar cukup lama menandakan sebuah panggilan. Ia kemudian keluar perpustakaan dan menganggkat telpon tersebut. Tertera nama sang ayah yang menelpon nya.
" Hallo Asalamualaikum yah."
".............."
" Kapan? "
".................."
" Baiklah besok sore aku dan ka Davy akan kerumah ayah. "
__ADS_1
Panggilan pun terputus begitu saja. Tampak sekali dari suara pa Setiyawan ia begitu bahagia Marissa akan datang ke rumah nya. Lain hal nya dengan Marissa ia harus benar benar menyiapkan mental nya untuk bertemu sang ibu tiri dan saudara tiri nya itu.
Ucapan ucapan pahit sudah biasa keluar dari mulut dua wanita itu. Jika bukan karena menghargai sang ayah dia enggan harus datang kerumah itu lagi.