Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
lelaki baik


__ADS_3

Pagi pagi sekali Davy telah berada di rumah Marissa. Ia sengaja datang menjemput lebih awal agar sang kekasih tidak sedih lagi mengenai uang sekolah nya.


" Ca cepetan tuh Davy udah nunggu kamu di depan. " teriak bu Rina.


" Iya... iya sebentar ini lagi pake baju. Suruh masik aja dulu bu.. Eh... maaf bu nyuruh ibu... " Ia nyengir merasa tidak enak hati. Bu Rina hanya geleng geleng melihat putri nya yang hanya menampakan bagian kepala saja di pintu yang sedikit terbuka.


" Tumben jemputnya pagi bener biasanya juga siangan deh. Ada apa? " Heran Marissa sambil terus bersiap. Tak seperti kebanyakan gadis seusianya yang sudah mulai bersolek Marissa hanya mengoleskan bedak bayi pada wajahnya. dan minyak wangi. Ya hanya itu. Sesimple itu lah Marissa.


Tak butuh waktu lama Marissa telah menemui Davy yang tengah menunggu di teras.


" Loh ko ga di dalem nunggu nya?"


" Ah ga usah dek, ga enak sama tetangga. Kamu udah siap? " Davy menoleh melihat wajah Marissa lalu tersenyum kecil " Ya ampun anak ayah ini ya kebiasaan kalo pake bedak suka celemotan" Davy mengusap pipi Marissa.


" Ah.... kaka sih datang nya kepagian jadi deh aku buru buru. Celemotan kan... " Bibir nya mengerucut.


" Ga papa kamu tetep cantik ko." Davy mencubit hidung Marissa " Walaupun kaya bayi. " tawa mereka pecah karena guyonan Davy.


" Kenapa sih tumben jemputnya pagi gini. Udah kangen ya pasti sama aku? jadi ga kuat kalo lama lama ga bareng aku. Secara kaka kan bucin akut... " Marissa terkikik geli dengan ucapan nya sendiri.

__ADS_1


" Iya iya kaka emang cintaaaaaaaa...... banget sama kamu. Puas? " Davy tersenyum masam. " Bukannya kamu ya yang bucin akut? "


" Haha emang aku bucin. Wlee... " Marissa langsung menaiki motor yang masih terstandar tanpa Davy di atasnya.


" Awas jatuh de! " Segera ia memegangi motornya takut sang kekasih jatuh terjungkal.


" Kamu mau bawa motor? "


" Ngga. "


" Oh iya de kaka udah punya uang buat bayar ke sekolah. Nanti kamu langsung bayar ya... "


" Kenapa sedih lagi sih? Asal kamu tau kaka tuh ga merasa terbebani sama kamu. Justru kaka bahagia. Sangat bahagia malah apalagi kalu si cantik kaka ini senyum... Biarkan saja jika memang ayah mu sudah tak bisa membiayai kamu lagi kan masih ada kaka yang akan selalu ada buat kamu. "


Marissa tak kuat lagi membendung air mata nya. Begitupun Bu Rina yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu. Bukan maksud Bu Rina untuk menguping ia hanya kebetulan berada di sana saat melihat salah satu buku Marissa ada yang tertinggal dan berniat memberikan nya pada Marissa.


" Semoga kamu selalu bahagia bersama Davy nak. Dia lelaki yang baik." Bu Rina buru buru menghapus air matanya sebelum menemui Marissa karena motor Davy sudah dinyalakan.


" Ca tunggu. Ini buku mu ketinggalan " Bu Rina berlari kecil.

__ADS_1


" Ya ampun lupa bu. Ini kan buku pr yang semalam aku kerjakan kenapa sampe lupa masukin sih ya... "


Saat mereka tengah berbincang tiba tiba ada sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Semua menatap heran.


" Siapa bu? "


" Entah.... "


Tak lama keluar seorang lelaki paruh baya dari dalam mobil dengan senyum merekah di bibirnya.


" Mas Hendra.... " tebak bu Rina


" Rina, kamu benar kan Rina teman sekolah ku dulu? "


" Iya mas ini aku. "


" Sudah lama aku mencari mu Rin. Gadis cantik ini siapa? "


" Ah ini Marissa anaku dan ini Davy pacarnya. Marissa kenalin om Hendra teman ibu. "

__ADS_1


Marissa ikut berbincang sebentar. Karena waktu sudah menunjukan pukul 7 Marissa memutuskan pamit ke sekolah dulu karena ia takut telat.


__ADS_2