Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
pertemuan ayah dan anak


__ADS_3

Sepulang sekolah Davy sengaja mengajak Marissa ke taman kota. Cuaca terik tak membuat mereka kepanasan. Suasana yang asri di penuhi berbagai tumbuhan bahkan banyak pohon menjulang tinggi.


" Ada apa ka, tumben ajak aku kesini? "


" Ada hal yang ingin kaka bicarakan de sama kamu. Tapi kaka harap kamu ga marah. " davy aga was was saat melihat raut wajah Marissa yang sedikit berubah.


" Hmmm. Tergantung masalah nya apa. Kalo kaka punya pacar lagi ya jelas aku marah. " wajahnya sudah mulai masam.


" Bukan bukan itu. Kaka ga mungkin punya pacar lagi dek. Kamu aja udah cukup buat kaka. Ga ada yang lain cumaa kamu. "


" Cukup buat kaka susah? Cukup buat kaka ribet? " seperti itu lah Marissa jika ia sudah memasang wajah tak bersahabat semua ucapan Davy akan terdengar salah dimatanya.


" De... " Davy menangkup kedua bahu Marissa sehingga mereka menjadi berhadapan. " Kamu lihat kaka. Apa wajah kaka menggambarkan seperti itu dek? Apa kamu ga percaya sama kaka? " wajah Davy berubah sendu. " Apa selama ini bukti cinta kaka ke kamu kurang de?"

__ADS_1


" Maaf. " lirih Marissa. Entah mengapa jika bicara tentang penghianatan Marissa selalu emosi. Bahkan ia bisa menuduh Davy tanpa sebab. Mungkin rasa kecewa nya terhadap Ayahnya sedikit banyak mempengaruhi jalan pikiran nya saat ini. Jika sudah seperti ini Davy selalu bersiap jadi serba salah.


" Iya ga papa. Kamu percaya kan sama kaka. " Marissa mengangguk.


" Sebelum nya kaka mau minta maaf jika kaka harus mencampuri urusan keluarga kamu. Tapi jujur kaka hanya ingin yang terbaik buat kamu dek. " Davy menarik nafas dalam. Berbicara dengan Marissa kadang membutuhkan kata kata yang tepat agar Marissa tak merasa sedih. Davy sangat tau jika Marissa kini sedang sangat rapuh.


" De... tadi pagi ayah kamu nyusul kamu ke sekolah. Katanya ayah kamu kangen sama kamu. Beliau mau minta maaf. Kamu mau kan ketemu ayah kamu? "


" Walau bagaimana pun tidak baik de bertengkar dengan orang tua. Dosa de. Lagian sekarang ayah kamu sudah menyesali perbuatan nya. Kaka tau kamu gadis baik de. Mungkin akan terasa sedikit susah tapi percayalah de hidup dalam kebencian akan jauh lebih susah. Terlebih orang yang kamu benci adalah orang tua mu sendiri. " Marissa hanya diam mendengar kan perkataan Davy., Sekuat apapun bibir dia berkata tidak tetap hati kecilnya berkata iya.


Ta ada lagi tangisan yang keluar dari mata Marissa. Ia hanya diam membisu. Berperang dengan pikiran nya sendiri. Merenungi semua perkataan Davy yang menurutnya benar.


" Ayah kamu ingin bertemu. Temuilah de, selesaikan masalah kamu. Jangan sampai kamu menyesal. Menumpuk masalah tidak baik de. " Davy terus saja berbicara berharap Marissa mendengarkan nya.

__ADS_1


Marissa menarik nafas " Baiklah. " hanya satu kata itu yang keluar namun membuat Davy bahagia mendengarnya.


Marissa menelpon sang ayah ia merasa jika akan lebih baik jika ia menyelesaikan masalah mereka saat ini juga.


Mereka menunggu hampir dua puluh menit di taman itu. Marissa berharap sang ayah benar benar datang menemuinya. Ta ada percakapan antara mereka. Mereka tenggelam dalam pemikiran mereka masing masing.


Tampak sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk. Pa Setiyawan keluar dari mobil itu ia mencari posisi sang anak hingga melihat lambaian tangan Davy. Jangan tanya Marisa ia hanya diam membatu.


" Maaf menunggu lama. " Pa Setiyawan sedikit basa basi.


" Ya udah om saya permisi dulu mau beli minum. " Pamit Davy. Ia ingin memberi waktu pada ayah dan anak itu untuk bicara berdua dari hati ke hati.


" Ka... " Marissa meraih tangan Davy yang hendak menjauh. Ia sangat takut jika harus berbicara berdua dengan sang ayah. Entahlah semenjak kejadian itu Marissa menganggap atah nya sendiri orang asing.

__ADS_1


" Ga papa. Percayalah." Ia menggenggam erat tangan Marissa "Kaka tunggu di sana" menunjuk tukang minuman di salah satu sudut taman. Pemandangan itu tak luput dari penglihatan pa Setiyawan.


__ADS_2