Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
tak mungkin bilang


__ADS_3

Karena pernikahan mereka semakin dekat membuat mereka mau tak mau harus berpisah sementara dan tak bisa bertemu dulu. Biasanya di sebut di pingit agar pas ijab qobul nanti pengantin jadi pangling.


Awalnya Davy menolak karena ia menghawatirkan keadaan Marissa. Namun tiga sepupunya berusaha meyakinkan Davy bahwa mereka akan menjaga Marissa dengan baik.


Walau aga sedikit kecewa karena satu minggu ini Davy tak bisa bertemu Marissa ia tetap menurutinya. Beruntung ia hidup di zaman yang sudah modern jadi ia masih bisa mendengar suara kekasih hatinya.


[Hallo de... lagi apa? ]


[Ishhh... kaka kebiasaan deh kalo telpon itu ucap salam dulu heran.]


[Iya... lupa... hehe... Asalamualaikum gadis kesayangan nya kaka. Lagi apa nih?]


[Waalaikumsalam... nah gitu kan enak, hehe.. lagi diem aja ga ada kegiatan. Hari ini beruntung banget ga ada tugas dari dosen. Kaka lagi apa? udah malam belum? ]


[Bagus dong. Kaka lagi sedih nih pengen ketemu kamu. Ketemuan yu kaka udah kangen banget nih. ]


[Hmmm... sama aku juga kangen. Tapi kita belum boleh ketemu ka. ]


[Tunggu ya jangan kemana mana kaka kesitu sekarang. ]


tut...

__ADS_1


tut...


[Halo ka... Hallo... ]


Davy memutus sepihak sambungan telpon nya, ia berniat menemui Marissa secara diam diam. Marissa menjadi sedikit hawatir. Ia berusaha memikirkan apa yang mungkin Davy lakukan. Jangan sampai sang kekasih hatinya itu melakukan kesalahan.


Setelah berhasil meminta ijin sang ibu dengan alasan akan ke base camp Davy segera melajukan motornya ke rumah Marissa. Setelah sampai Davy sengaja memarkirkan motornya aga jauh agar tak ketauan.


Dengan hati hati ia memanjat pagar bagian belakang rumah Marissa. Davy yang sudah mengetahui letak kamar Marissa tak merasa kesulitan. Suasana rumah yang lumayan sepi membuat Davy sedikit leluasa.


tok


tok


tok


Jangan tanya bagaimana terkejutnya Marissa. Ia tak tau harus berbuat apa karena ia sudah bisa menebak jika itu Davy. Setelah berpikir sejenak ia segera mengunci pintu sebelum membuka jendela takutnya jika sang ibu tiba tiba masuk ke kamarnya.


" Ih.... kaka ngapain kesini. Aku takut ketauan ka. Gimana kalo sampe ada yang liat. Kaka jangan gegabah deh. " Marissa sudah celingukan kesana Kemari saking takutnya.


" Sutttt.... " Davy menutup mulut Marissa dengan satu jarinya. Ia tak mau jika Marissa terus berbicara seperti itu maka akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Walaupun Davy hanya berdiri di luar jendela tak masuk ke kamar Marissa tapi menemui anak gadis orang malam malam seperti itu sungguh tidak sopan bukan.

__ADS_1


" Udah jangan bicara terus nanti ketauan. " Davy berbicara sedikit berbisik lalu Davy menangkup wajah Marissa dengan kedua tangan nya. " Kaka tuh ga kuat kalo harus jauh jauh dari kamu De. Rasanya kaka kehilangan sesuatu." Davy menatap dalam mata Marissa yang tengah diam mematung. Beberapa hari saja berpisah dengan Marissa sudah membuatnya begitu stress.


Tiba tiba terdengar suara bu Rina yang memanggil Marissa sambil mengetuk pintu.


" Ca... Nak.. makan dulu kamu belum makan loh. Ca.. kamu sedang apa ko tumben pintunya di kunci. " suara bu Rina sedikit tak sabaran ia mengetuk pintu semakin kencang.


Marissa dan Davy begitu terkejut. Mereka hanya saling pandang tak tau harus berbuat apa. Dengan sedikit kesadaran Marissa menjawab sang ibu.


" Iya sebentar... " Posisi wajah Marissa masih di tangkup kedua tangan Davy. Entah apa yang Davy pikirkan ia tiba tiba mengecup bibir Marissa sekilas.


Cup


" Kaka pulang ya. Dah kesayangan kaka. " Davy segera meninggalkan Marissa yang seperti kehilangan kesadaran nya karena kecupan Davy.


" Apa itu? " Marissa memegangi bibirnya yang telah di cium Davy. Walau hanya sekilas namun mampu menghilangkan kesadaran Marissa.


" Ca... nak kamu baik baik saja kan. " Suara bu Rina mengembalikan kesadaran Marissa.


" Ah iya bu. " Ia segera membuka pintu setelah menutup kembali jendelanya.


" Kamu ga papa kan. Tumben pintunya di kunci? Ca kamu sakit, wajah kamu merah gitu?" bu Rina meraih kening Marissa merasakan suhu tubuh Marissa. " Ga panas tapi wajah kamu merah gini. " heran bu Rina.

__ADS_1


"Aku ga papa bu, cuma sakit kepala sedikit. " bohong Marissa.


Maaf bu ica bohong sama ibu. Ica ga mungkin kan bilang habis di cium ka Davy.


__ADS_2