
Pa Setiyawan begitu kecewa karena ketidak hadiran Bu Ida di pernikahan Marissa dan Davy. Sudah terlihat jelas jika Bu Ida tak memperdulikan Marissa, bahkan di hari bahagia Marissa pun dia tak datang.
Ketidak hadiran bu Ida itu begitu melukai hati Pa Setiyawan. Wanita yang ia perjuangkan dan pilihan nya sehingga berani meninggalkan Bu Rina ternyata tak lebih dari seorang wanita egois.
" Kenapa baru pulang mas?" bu Ida berkacak pinggang dan menunjukan wajah masam nya saat pa Setiyawan baru pulang saat malam menjelang. Padahal acara pernikahan sudah selesai dari tadi siang.
" Bukan urusan mu. Pulang atau tidak apa perduli mu? " ketus Pa Setiyawan kini ia sudah benar benar habis kesabaran.
" Oh.. kamu berani ya menjawab ketus begitu. Jelas aku perduli karena kamu suamiku!" Bu Ida ta kalah membentak.
" Suami? kamu yakin? heh.." Pa Setiyawan tersenyum meremehkan. " Lalu jika kamu mengganggap aku suami mu kenapa sampai sekarang kamu tak mengganggap Marissa sebagai anak mu? Apa kurang kasih sayangku pada anak anakmu, kenapa kamu sama sekali tak pernah menyayangi anak ku?"
__ADS_1
" Itu beda mas. Anak anak mu selalu bersikap kurang ajar pada ku tak seperti anak anaku terhadap mu mas."
" Sudah lah Id, aku cape. Berbicara sama kamu hanya buang buang waktu. " Pa Setiyawan segera memasuki kamarnya menutup pintu dengan cukup keras lalu menguncinya dari dalam. Untuk saat ini ia tak ingin berdebat.
Rumah tangga dengan Bu Ida yang Pa Setiyawan pikir akan begitu bahagia karena mereka saling mencintai ternyata hanya angan angan saja. Perbedaan sifat dan sikap antara Bu Rina dengan Bu Ida sangat mencolok.
Semarah apa pun bu Rina dulu ia tak pernah meninggikan suaranya jika sedang berbicara dengan pa Setiyawan bahkan ia selalu mengalah. Lain hal nya dengan Bu Ida yang begitu temperament. Hampir semua yang di lakukan Pa Setiyawan selalu salah dimata nya. Itu membuat pa Setiyawan begitu frustasi.
Menyesal mungkin sudah terlambat saat ini. Istilah nasi sudah jadi bubur mungkin menjadi pribahasa yang tepat untuk pa Setiyawan. Pa Setiyawan dengan bodohnya melepas berlian hanya demi batu krikil.
Sepasang pengantin baru itu seolah enggan terbangun dari tidur yang begitu nyaman. Mereka tetap berpelukan dalam selimut yang lumayan tebal. Cuaca yang sedang turun hujan di pagi hari membuat mereka semakin enggan terbangun.
__ADS_1
Pelukan keduanya semakin erat karena cuaca yang begitu dingin. Dengan satengah sadar Marissa meraba raba tubuh Davy yang memeluknya erat.
" Aaaaaa... " Marissa tiba tiba memekik. Ia sampai melompat dari kasur dan terjungkal ke lantai. Davy yang kaget mendengar teriakan Marissa langsung terbangun.
" Kenapa De? " heran Davy ia sibuk menggosok gosok matanya yang terasa perih.
" Kaka ngapain tidur di sini? "
" Lah ini kan kamar kita de. " Davy langsung beringsut menggendong Marissa agar kembali duduk di kasur mereka. " Kamu kenapa sih? ngigo ya. Mana yang sakit? Main lompat lompat aja heran. "
" Oh ia. " Marissa menepuk jidatnya. " Maaf lupa kaka kan udah jadi suami aku ya sekarang. " Marissa mengetuk ngetuk dagu nya dengan telunjuk. Seketika Davy kembali membawa Marissa kedalam pelukan nya. Is masih sangat mengantuk.
__ADS_1
Jeritan Marissa membuat bu Rina yang tak sengaja lewat di depan kamar Marissa menjadi salah faham.
" Dasar pengantin baru. Udah pagi gini juga. " Bu Rina terkikik geli ia pun pernah muda.