Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
kelulusan


__ADS_3

Ujian telah berlalu beberapa hari yang lalu. Namun Marissa malah semakin deg degan saat ini. Pikiran buruk kadang terlintas di otaknya. Takut jika ia tidak lulus dan mengecewakan keluarga juga Davy tentunya.


Hari ini pembukaan kelulusan. Karena harus di ambil oleh wali murid jadi Davy yang mengambilkan untuk Marissa.


Pa Hendra dan Bu Rina tengah sibuk mengurus Dani di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini Dani di rawat di rumah sakit karena tifus. Pa Setiyawan jangan di tanya ia tak bisa hadir karena Bu Ida melarangnya, susis istilah keren nya.


" Udah dong de di bawa santai aja. Kamu pasti lulus ko. Percaya deh sama kaka. " Marissa selalu saja merasa takut sendiri. Bahkan nasehat dan perkataan Davy pun tak mempan untuknya saat ini.


" Aku takut gimana kalo ga lulus. "


" Ya udah sih gampang. " Davy tersenyum miring ke arah Marissa " Kita tinggal nikah aja. Udah beres. " Marissa mencebik.


" Apa urusan nya coba. " mereka berbicara di depan kelas Marissa menunggu kedatangan sang wali kelas yang akan membagikan pengumuman kelulusan.


" Ngambil punya adek nya ya mas. " sapa seorang ibu yang mereka yakini salah satu wali murid dari anak di kelas Marissa.

__ADS_1


" Ah... iya bu. " sopan Davy.


Tak berselang lama Wali kelas Marissa datang dengan setumpuk amplop di tangan. Tanpa basa basi guru itu langsung mengabsen nama murid nya satu persatu agar sang wali dapat maju dan mengambilnya. Sedang kan para siswa menunggu di luar.


Suara tangisan mulai terdengar di beberapa sudut sekolah yang mereka yakini dari teman seangkatan nya. Entah itu tangis bahagia atau sedih Marissa tak tau. Ia semakin kalut saat satu persatu wali murid keluar dari kelas nya dengan senyum yang merekah serta di sambut bahagia oleh anak anak mereka di luar.


Namun Davy yang ia tunggu tunggu tak juga kunjung keluar. Padahal absen nya tak terlalu jauh. Jika di panggil dari absen maka sudah di pastikan Davy sudah keluar dari tadi namun sayang sepertinya sang guru memanggil secara acak.


Bahkan ayah Yogi pun sudah keluar dengan senyum nya yang merekah.


" Pah aku lulus ga pah? " tanya Yogi begitu penasaran.


" Woyyy... gue lulus. " teriak Yogi. Teriakan itu berhasil mengundang teman teman nya agar mereka berkumpul di lapangan sekolah sambil menunggu yang lain untuk berdoa bersama.


Marissa semakin takut karena hanya Davy yang tak kunjung keluar dari kelas nya.

__ADS_1


Ya ampun semua wali murid yang lain sudah keluar kenapa ka Davy belum juga keluar. Apa jangan jangan Pa Brata (nama wali kelas Marissa) sengaja memanggil ka Davy terahir karena.....


Ah tidak tidak.... aku tidak boleh berpikir macam macam Ka Davy pasti sedang mengobrol dengan pa Brata.


" Ca gimana? " Eca dan Lia datang menghampiri nya. Mereka ingin tau kabar Marissa.


" Entah ka Davy belum keluar." Marissa semakin murung. " Kalian gimana? "


" Kita lulus Ca. " kompak Eca dan Lia.


" Selamat ya. "


Setelah menunggu aga lama ahirnya Davy keluar bersama pa Brata. Marissa semakin tertekan melihat wajah muram Davy.


" Ya udah ya Dav, saya duluan. Ingat jaga dan hibur Marissa jangan buat dia larut dalam kesedihan. " pa Brata berlalu pergi.

__ADS_1


Ucapan pa Brata sontak membuat mata Marissa memanas. Air mata itu luruh begitu saja. Bukan hanya Marissa Eca dan Lia pun ikut menangis sambil memeluk sang sahabat.


Davy yang melihat Marissa menangis dengan dua sahabatnya itu mengernyit heran pasalnya dia belum bilang apa apa.


__ADS_2